HUBUNGAN SASTRA DAN AGAMA (Critical Approach)

 

SASTRA DAN AGAMA (Critical Approach)

 

Makalah ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas

Mata Kuliah Studi Islam Interdisipliner

 

Dosen Pengampu:

Drs. H. Basri Zain, MA. Ph.D

 

 

 

Oleh:

Moch Wahib Dariyadi

15741004

 

 

DOKTOR PENDIDIKAN BAHASA ARAB

PASCA SARJANA

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

2016

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

           

  1. LATAR BELAKANG

Pembicaraan mengenai hubungan antara agama dan sastra merupakan pembicaraan yang sangat menarik untuk dilakukan. Tidak jarang keduanya memunculkan pertentangan pandangan, namun sering pula keduanya menunjukkan satu kesamaan perspektif.

Hakikat agama sebagai sumber yang melahirkan hukum-hukum keagamaan seringkali memunculkan kebakuan yang tidak dapat ditawar, agama selalu mempunyai batasan-batasan yang mengikat. Jelas sekali berbeda dengan hakikat sastra sebagai sesuatu yang lentur dan tidak terikat.

Sastra adalah pembebasan atas jiwa, pembebasan atas apa yang terikat, yaitu  kebebasan hak dan wewenang seorang sastrawan dalam berkarya. Pada tataran itulah sastra dan agama menjadi dua entitas yang kontradiktif. Namun, pada tataran tertentu, keduanya memiliki klaim yang sama yaitu sebagai sesuatu yang mencerahkan.

Agama berperan memberikan pandangan dan sikap terhadap dunia. Dari sinilah, agama sebagai pemberi makna bagi kehidupan. Bahwa dengan agamalah manusia memiliki kehidupan yang bermakna, baik kepada Tuhan maupun sesama. Esensi agama sebagai makna ternyata tidak jauh berbeda dengan sastra.

Agama bersumber dari Maha hakiki pencipta alam semesta. Agama dianut untuk mengatur bagaimana cara hidup yang sesuai dengan norma-norma yang ada dalam agama tersebut dan untuk menuntun jalan manusia menapak kehidupan setelah mati. Kebenaran mutlak bersifat tetap, tak terpengaruh oleh situasi dan kondisi. Kebenaran ada karena memang terbukti dengan penjelasan-penjelasan yang empiris dan konkret. Kebenaran mewakili tujuan utama setiap informasi yang diserap dan diterima oleh manusia.

Pada makalah ini akan dibahas tentang apa sebenarnya hakikat hubungan antara agama dan sastra.

 

  1. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut maka dapat tersusun rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Apa yang dimaksud dengan Sastra?
  2. Apa yang dimaksud dengan Agama?
  3. Bagaimana Hubungan Antara Agama dan Sastra

 

  1. TUJUAN PEMBAHASAN

Tujuan pembahasan  yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini adalah:

  1. Untuk mengetahui tentang maksud dari Sastra.
  2. Untuk mengetahui tentang maksud dari Agama.
  3. Untuk mengetahui hubungan antara Sastra dan Agama.

BAB II

                                                    PEMBAHASAN

 

  1. SASTRA
    1. Pengertian Sastra

Sastra (Sansekerta: shastra) secara etimologis bermakna teks yang mengandung intruksi, dengan kata lain, sastra adalah pedoman.[1] Sastra sebagai pedoman tentu saja berperan dalam memberikan makna. Tidak melulu berbicara hanya pada tataran keindahan dan kebebasan, ada isi yang disampaikan di dalamnya. Sejatinya dengan kebebasan dan keindahan itulah sastra merepresentasikan makna.

Mursal Ensten mendefinisikan “Sastra atau Kesusastraan adalah pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia (dan masyarakat) melalui bahasa sebagai medium dan memiliki efek yang positif terhadap kehidupan manusia (kemanusiaan).”[2]

Di sisi lain Semi mengungkapkan  “Sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupan menggunakan bahasa sebagai mediumnya.”[3]

Dari beberapa definisi di atas, maka dapat didefinisikan sastra merupakan suatu bentuk karya seni baik berupa lisan maupun tulisan yang berisi nilai-nilai dan unsur tertentu lainnya yang bersifat imaginatif.

Menurut Wellek dan Warren sastra adalah sebuah karya seni yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut[4]:

  1. sebuah ciptaan, kreasi, bukan imitasi
  2. luapan emosi yang spontan
  3. bersifat otonom
  4. otonomi sastra bersifat koheren (ada keselarasan bentuk dan isi)
  5. menghadirkan sintesis terhadap hal-hal yang bertentangan
  6. mengungkapkan sesuatu yang tidak terungkapkan dengan bahasa sehari-hari.

Sastra memiliki beberapa ciri, yaitu kreasi, otonom, koheren, sintesis, dan mengungkapkan hal yang tidak terungkapkan. Sebagai kreasi, sastra tidak ada dengan sendirinya. Sastrawan menciptakan dunia baru, meneruskan penciptaan itu, dan menyempurnakannya. Sastra bersifat otonom karena tidak mengacu pada sesuatu yang lain. Sastra dipahami dari sastra itu sendiri. Sastra bersifat koheren dalam arti mengandung keselarasan yang mendalam antara bentuk dan isi. Sastra juga menyuguhkan sintesis dari hal-hal yang bertentangan di dalamnya. Lewat media bahasanya sastra mengungkapkan hal yang tidak terungkapkan. [5]

 

2. Fungsi Sastra

Pujangga besar Yunani, Horatius dalam bukunya Ars Poetica menyatakan bahwa tujuan penyair menulis sajak adalah memberi nikmat dan berguna (dulce et utile). Sesuatu yang memberi nikmat atau kenikmatan berarti sesuatu itu dapat memberi hiburan, menyenangkan, menenteramkan, dan menyejukan hati yang susah. Sesuatu yang berguna adalah sesuatu yang dapat memberi manfaat, kegunaan, dan kehikmahan[6].

Karya sastra yang hadir di tengah kehidupan kita mempunyai beberapa fungsi yaitu:

  1. Fungsi rekreatif, yaitu karya sastra dapat memberikan hiburan yang menyenangkan bagi pembaca atau penikmatnya. Ketika kita jenuh dengan segala kesibukan yang kita lakukan setiap hari. Ketika hati dan pikiran kita sedang sedih menghadapi masalah tertentu, maka dengan membaca maupun mendengarkan pembaca karya sastra dapatlah menghilangkan beban pikiran yang kita tanggung. Kita merasa terhibur dan mendapat penyegaran.
  2. Fungsi didaktif, yaitu karya sastra mampu mengarahkan pembaca untuk bertindak sesuai dengann nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Setiap karya sastra yang tercipta secara langsung maupun tidak langsung memberi hikmah yang dapat kita terapkan dalam kehidupan.
  3. Fungsi estetis, yaitu karya sastra mampu memberikan keindahan bagi pembacanya. Karya sastra diciptakan dengan mempertimbangkan sifat keindahannya. Melalui bentuk yang indah inilah karya sastra dapat hadir dan diterima oleh banyak orang.
  4. Fungsi moralitas, yaitu karya sastra mampu memberikan pengetahuan tentang moral yang baik dan buruk. Melalui karya sastra pembaca dapat mengetahui moral yang patut dicontoh karena baik dan tidak perlu dicontoh karena buruk.
  5. Fungsi religius, yaitu karya sastra juga memperhatikan ajaran-ajaran agama yang dapat diteladani oleh para pembacanya. Terkadang ajaran itu tidak dapat diterima secara langsung oleh seseorang lewat khotbah. Akan tetapi, melalui karya sastra yang dikemas dalam bentuk cerita, maka ajaran itu dapat tersampaikan dan diterima dengan senang hati tanpa merasa ada paksaan.

 

  1. AGAMA
  2. Pengertian Agama

Kata "agama" berasal dari bahasa Sanskerta yang dipenggal: "a" berarti tidak; "gama" berarti kacau. Sehingga agama berarti tidak kacau. Atau dapat diartikan sebagai suatu peraturan yang bertujuan untuk mencapai kehidupan manusia ke arah dan tujuan tertentu.[7]

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia “agama” adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia
dan manusia serta lingkungannya.[8]

Menurut Harun Nasution, agama adalah suatu sistem kepercayaan dan tingkah laku yang berasa dari suatu kekuatan yang ghaib. Menurut Al-Syahrastani, agama adalah kekuatan dan kepatuhan yang terkadang biasa diartikan sebagai pembalasan dan perhitungan (amal perbuatan di akhirat).[9]

Menurut Prof. Dr. Bouquet mendefinisikan agama adalah hubungan yang tetap antara diri manusia dengan yang bukan manusia yang bersifat suci dan supernatur, dan yang bersifat berada dengan sendirinya dan yang mempunyai kekuasaan absolute yang disebut Tuhan.[10]

Menurut istilah, agama adalah seperangkat aturan dan peraturan  yang mengatur hubungan manusia dengan dunia ghaib, khususnya dengan Tuhannya, mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya, dan mengatur hubungan manusia dengan lingkungannya.[11] Secara khusus, agama didefinisikan sebagai suatu sistem keyakinan yang dianut dan tindakan-tindakan yang diwujudkan oleh suatu kelompok atau masyarakat dalam menginterpretasi dan memberi tanggapan terhadap apa yang dirasakan dan diyakini sebagai yang gaib dan suci.

Dari beberapa definisi tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa intisari yang terkandung dari istilah-istilah diatas adalah ikatan. Agama memang mengandung arti ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi manusia. Ikatan ini mengandung pengaruh besar sekali terhadap kehidupan manusia sehari-hari. Ikatan ini berasal dari sesuatu kekuatan yang lebih tinggi dari manusia. Suatu kekuatan gaib yang tidak dapat ditangkap oleh panca indra.

Bagi para penganutnya, agama berisikan ajaran-ajaran mengenai kebenaran tertinggi dan mutlak tentang eksistensi manusia dan petunjuk-petunjuk untuk hidup selamat di dunia dan di akhirat. Karena itu pula agama dapat menjadi bagian dan inti dari sistem-sistem nilai yang ada dalam kebudayaan dari masyarakat yang bersangkutan, dan menjadi pendorong serta pengontrol bagi tindakan-tindakan para anggota masyarakat tersebut untuk tetap berjalan sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan dan ajaran-ajaran agamanya.

Adapun sumber terjadinya agama dibedakan menjadi dua kategori, yaitu:

1.      Agama samawi, atau agama dari langit, yang diperoleh melalui Wahyu Ilahi (Islam, Nasrani, Yahudi).

2.      Agama ardhi, atau disebut juga agama bumi, yaitu agama budaya yang timbul akibat kekuatan didalam pikiran atau akal budi seseorang atau masyarakat (Hindu, Buddha, Konghuchu, dan aliran agama atau kepercayaan lainya).

 

2.    Fungsi Agama

  1. Sumber pedoman hidup bagi individu maupun kelompok
  2. Mengatur tata cara hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan manusia.
  3. Merupakan tuntutan tentang prinsip benar atau salah
  4. Pedoman mengungkapkan rasa kebersamaan
  5. Pedoman perasaan keyakinan
  6. Pedoman keberadaan
  7. Pengungkapan estetika (keindahan)
  8. Pedoman rekreasi dan hiburan
  9. Memberikan identitas kepada manusia sebagai umat dari suatu agama.[12]

 

  1. HUBUNGAN SASTRA DAN AGAMA

Nota Rinkes yang menyatakan bahwa karya sastra tidak boleh berpolitik, tidak menyinggung agama (netral terhadap agama), dan tidak menyinggung kesusilaan masyarakat[13]. Akan tetapi pendapat berikut ini justru menunjukkan hubungan sastra dan agama:

 

"Seni dan sastra mengungkapkan masalah dan pengalaman manusia, suka dan dukanya. Khusus pengalaman manusia mengenai adanya Tuhan serta peran Tuhan dalam hidupnya diungkapkan dalam seni dan sastra. Oleh karena itu, seni dan sastra harus diberi tempat yang wajar dan terhormat dalam kehidupan kelompok beragama" [14].

 

       Pernyataan di atas menegaskan sastra sebagai salah satu media pengungkapan pengalaman manusia mengenai adanya Tuhan dan peran Tuhan dalam kehidupan tanpa menunjuk agama tertentu.

Berdasarkan pendapat Abrams, setidaknya ada empat pendekatan terhadap karya sastra, yaitu ekspresif, pragmatik, mimetik, dan objektif. Keempat pendekatan ini dibedakan dari peran yang ditonjolkan. Pendekatan ekspresif menonjolkan peran penulis sebagai pencipta karya sastra. Pendekatan pragmatik menonjolkan pembaca sebagai penghayat karya sastra. Pendekatan mimetik menonjolkan karya sastra sebagai tiruan alam. Pendekatan objektif menonjolkan peran karya sastra sebagai sesuatu yang berdiri sendiri.[15].

         Dalam pendekatan ekspresif, karya sastra dipandang sebagai ekspresi sastrawan. Kriteria yang dikenakan adalah ketepatan karya sastra dalam mengekspresikan kejiwaan sastrawan. Ketika menulis karya sastra, sastrawan tidak bisa lepas dari sejarah sastra dan latar belakang budayanya[16]. Karya sastra tidak lahir dalam kekosongan budaya.[17]

Karya sastra menceritakan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan diri sendiri, lingkungan, dan juga Tuhan. Karya sastra berisi penghayatan sastrawan terhadap lingkungannya. Karya sastra bukan hasil kerja lamunan belaka, melainkan juga penghayatan sastrawan terhadap kehidupan yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab sebagai sebuah karya seni.[18]

      Ada yang berpendapat bahwa dalam berekspresi sastrawan bebas memperlakukan tokoh-tokoh dalam karya sastra. Akan tetapi, sastrawan dituntut membuat alur cerita yang logis bagi tokoh-tokohnya. Tokoh-tokoh yang dari awal dicitrakan dengan sifat tertentu, tidak logis bila memerankan cerita yang di luar kemampuannya. Tidak logis tokoh yang sejak awal dicitrakan berprilaku buruk kemudian menjadi baik tanpa sebab. Tokoh-tokoh ciptaan itu harus dihormati kedaulatannya agar mereka berbicara sendiri, bukan karena kekuasaan sastrawan. Keyakinan agama, pandangan hidup, bahkan ideologi politik seorang sastrawan juga berpengaruh pada karyanya, tetapi kelogisan alur cerita harus dipertahankan oleh sastrawan [19]

Dalam memilih tema cerita, sastrawan harus punya kepekaan terhadap keadaan masyarakat dan zamannya. Sastrawan harus bisa menangkap berbagai persoalan yang sedang dihadapi oleh masyarakat. Sangat disayangkan bila karya sastra hanya menggambarkan hal-hal yang indah dan baik, padahal masyarakat sekitarnya dalam kesulitan dan kesusahan. Banyak novel dan film Indonesia yang menggambarkan kehidupan mewah, padahal kebanyakan masyarakat Indonesia dalam kenyataan hidup yang getir.[20]

          Karya sastra memiliki peran yang penting dalam masyarakat karena karya sastra merupakan ekspresi sastrawan berdasarkan pengamatannya terhadap kondisi masyarakat sehingga karya sastra itu menggugah perasaan orang untuk berpikir tentang kehidupan. Membaca karya sastra merupakan masukan bagi seseorang untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Para penguasa sering melarang peredaran karya-karya sastra yang dianggap membahayakan pemerintahannya. Buku-buku dimusnahkan dan sastrawan-sastrawan diasingkan. Pramoedya Ananta Toer pernah diasingkan ke Pulau Buru. Karya Mochtar Lubis berjudul Senja di Jakarta juga pernah dilarang beredar oleh Sukarno. Kekerasan ini terjadi karena sastrawan lewat karyanya berusaha melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan penguasa [21].

        Perlawanan yang dilakukan oleh para sastrawan tidak hanya terhadap ketidakadilan penguasa, tetapi juga terhadap aturan adat yang biasa berlaku di masyarakat. Pertanyaan ini biasanya hampir selalu bermuara pada pertanyaan mengenai peraturan agama. Dengan karya sastranya, para sastrawan sering mempertanyakan, bahkan meragukan efisiensi atau makna agama sebagai institusi yang menampakkan diri reaksioner dan hanya berbicara tentang akhirat. Sebagai contoh roman Tenggelamnya Kapal van Der Wijk karya Hamka. Zainudin, tokoh dalam roman tersebut yang keturunan orang Minang tetapi dibesarkan di keluarga Bugis, ditolak permintaannya untuk menikah dengan Hayati karena Zainudin miskin dan dianggap tidak kufu’ (setara) dengan Hayati [22]. Di sini, konsep agama (Islam) dijadikan alasan.

            Permasalahan perkawinan berdasar adat dan agama juga disinggung dalam roman Siti Nurbaya. Yang dipertanyakan adalah longgarnya aturan poligami di kalangan masyarakat Minangkabau dengan dalih bahwa agama (Islam) mengizinkan. Kaum lelaki bisa dengan mudahnya menambah istri bila ada yang melamar (dalam adat Minangkabau, perempuan “membeli” laki-laki untuk menjadi suaminya). Suami-istri diikat dengan hubungan uang bukan kasih sayang sehingga mudah sekali bercerai. Banyak sekali keburukan dari poligami dan keburukan itu lebih banyak menimpa para istri[23]

            Dari paparan tersebut titik temu agama dan sastra tidak hanya bermuara pada klaim pencerahan. Agama dan sastra juga sejatinya sama-sama bermuara pada jiwa. Sastra dengan chatarsis-nya adalah cara bagi manusia untuk membebaskan jiwa dari kegelisahan-kegelisahan atas kesemrawutan tatanan sosial dan kaburnya kemanusiaan di dunia. Manusia mencari kembali kemanusiaan-nya yang hilang dengan sastra, memuaskan diri dengan bersajak atau berprosa, mencari ketenangan darinya. Sama halnya dengan agama, agama menuntun manusia untuk membersihkan dirinya, menyucikan dirinya dari segala keruwetan jiwa. Meskipun agama memberikan berbagai aturan formal bagi pemeluknya, namun agama juga sekaligus memberikan sentuhan jiwa. Peran sastra sebagai penggugah jiwa yang tidak jauh berbeda dengan peran agama sebagai penyentuh jiwa membuat Jean-Paul Sartre, seorang filsuf asal Perancis beranggapan bahwa pada masyarakat dengan peradaban modern, posisi sastra akan menggantikan agama, dengan pertimbangan bahwa agama dianggap sebagai sesuatu yang kaku, tidak bergerak, tidak lentur, dan sulit mengaktualisasikan diri dengan zaman.

Anggapan ini rupanya diamini oleh Feuerbach, teolog Jerman yang dengan keras memberi kritik terhadap kaum beragama: Hanya orang-orang miskin yang setia pada agama, agar mereka bisa bermimpi dan melupakan kemiskinannya. Akhirnya lupa mengkritisi penguasa negeri sendiri.

Menurut hemat kami, sastra tidak akan mampu menggantikan agama, meskipun peradaban sudah sedemikian modern, agama justru menjadi pelengkap bagi kehidupan manusia. Benar bahwa manusia sekarang lebih cenderung membutuhkan segala yang instan, sastra dianggap cara yang lebih instan untuk menggugah jiwa ketimbang dengan agama. Agama dan sastra dianggap dua hal yang sangat bertentangan. Tetapi, realitas yang terjadi justru tidak demikian, sastra dan agama sebenarnya senantiasa berjalan dengan baik.

Alquran sebagai kitab suci umat Islam diciptakan dengan tingkat kebahasaan dan sastra yang sangat tinggi, pengisahan tentang sejarah penciptaan manusia, maupun sejarah Islam dibalut dengan prosa yang begitu apik. Doa-doa, kata-kata bijak serta sejarah yang dibalut dalam puisi maupun prosa juga banyak ditemui di dalam kitab lain. Bukti bahwa agama adalah keindahan, yang dengan keindahan itu makna diciptakan untuk menggugah iman dan jiwa pemeluknya. Menjadi menarik jika kita menilik hubungan sastra dan agama yang ternyata begitu intens terjalin bahkan sejak penciptaan kitab suci dilakukan. Selain itu, posisi agama sebagai yang kaku juga tidak selamanya benar, agama sebagai pedoman kehidupan manusia pada tataran tertentu akan selalu mengikuti ke arah mana zaman berubah.

Kalangan muslim modern meyakini bahwa Alquran adalah aturan formal yang fleksibel dan dinamis, ia selalu bisa ditafsirkan dengan berbagai macam makna sesuai dengan kondisi zaman yang sedang terjadi. Benar bahwa agama adalah aturan, namun agama tidak perlu ditakuti sebagai sesuatu yang memenjarakan pemeluknya dengan aturan tersebut, sebab aturan dalam agama senantiasa mengikuti kebutuhan pemeluknya sesuai dengan kondisi zaman yang sedang terjadi.

Pedoman tentang kehidupan, kebijaksanaan, keadilan, serta kepemimpinan justru lahir dari agama. Pesan-pesan yang disampaikan agama untuk manusia sejatinya adalah kritik kepada mereka yang lalai dalam menjalankan amanat kehidupan. Amanat kehidupan manusia tidak hanya ditujukan untuk Tuhan semata, ada ibadah sosial yang harus dipratikkan oleh pemeluk agama, tentang pemimpin, bagi diri sendiri maupun untuk orang lain.

Dari segi semangat humanisme, agama hadir dalam kehidupan manusia untuk merevolusi kondisi sosial yang timpang dari sisi keadilan, agama hadir untuk melepaskan manusia dari segala bentuk penindasan. Melalui Rasulullah, kondisi sosial yang awalnya dalam keadaan carut-marut pada akhirnya mengalami pencerahan. Sastra pun demikian, ia hadir untuk mencerahkan manusia, sebab pengarang karya sastra dianggap memiliki kepekaan batiniah yang lebih tinggi dibanding manusia lainnya, karena itu tidak jarang kritik atas kesemrawutan tatanan diejawantahkan dalam sebentuk karya sastra yang sering kita sebut sebagai karya kritik sosial.

Menjadi jelas bagaimana posisi sastra dan agama, keduanya sama-sama menggugah dan menyentuh jiwa, sama-sama mengangkat isu kemanusiaan, sama-sama kritis terhadap kesemrawutan tatanan sosial, sama-sama memberikan makna bagi kehidupan. Maka tidak aneh kiranya jika kemudian lahir para sastrawan yang memadukan antara sastra dan agama, Muslim memiliki Gus Mus yang getol mengkritik pemerintahan dengan sastra relijiusnya, Kristiani memiliki Joko Pinurbo yang rajin menggelitik rasa humanisme kita dengan sajak-sajak dan prosanya. Akhirnya, tak ada lagi alasan untuk mempertentangkan entitas dan esensi sastra dan agama, sebab keduanya sama-sama bermuara pada satu titik; pendidik diri manusia serta penggugah jiwa dalam bingkai estetika.

Dari paparan di atas, ada beberapa kesimpulan yang dapat diambil, yaitu:

  1. Hubungan pertama yang paling jelas antara sastra dan agama adalah kenyataan bahwa banyak karya sastra yang merupakan ungkapan penghayatan seseorang terhadap Tuhan.
  2. Hubungan yang kedua adalah penggunaan simbol-simbol berupa kosakata yang sudah umum dipakai dalam kehidupan beragama sebagai tanda-tanda dalam karya sastra.
  3. Dalam menciptakan karya sastra, banyak pengarang yang tetap menjadikan agama sebagai patokan, sedangkan pengarang yang lain menganggap karya sastra bebas dari pengaruh agama. Perbedaan pendapat ini mengakibatkan terjadinya perbedaan pendapat di kalangan para sastrawan dan ahli sastra.
  4. Pembaca karya sastra menggunakan cakrawala harapannya dalam memahami karya sastra. Pembaca yang berorientasi pada agama, tentunya mengharapkan karya sastra itu tidak menentang agama sehingga penentangan agama lewat karya sastra akan mereka tanggapi secara negatif.
  5. Bagaimanapun, bisa dikatakan bahwa pengarang itu taat beragama atau tidak, karyanya tetap harus mengandung nilai-nilai estetika dan sesuai dengan konvensi sastra. Masyarakat sastralah yang akan memberikan penilaian karena kebesaran karya sastra ditentukan dengan kriteria di luar estetika, misalnya agama.

BAB III

PENUTUP

 

Dari paparan di atas, ada beberapa kesimpulan yang dapat diambil, yaitu:

  1. Sastra dan agama masing-masing mempunyai sebuah kebenaran
  2. karya sastra yang merupakan ungkapan penghayatan seseorang terhadap Tuhan.
  3. Asal mula agama adalah Tuhan atau firman Tuhan, sedangkan asal mula sastra adalah kata-kata dari pengarang yang merupakan daya imaginasi atau pengalaman konkret.
  4. penggunaan simbol-simbol berupa kosakata yang sudah umum dipakai dalam kehidupan beragama sebagai tanda-tanda dalam karya sastra.
  5. Dalam menciptakan karya sastra, banyak pengarang yang tetap menjadikan agama sebagai patokan, sedangkan pengarang yang lain menganggap karya sastra bebas dari pengaruh agama. 
  6. Pembaca karya sastra menggunakan cakrawala harapannya dalam memahami karya sastra..
  7. karyanya tetap harus mengandung nilai-nilai estetika dan sesuai dengan konvensi sastra.
  8.  

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Nurgiyantoro, Burhan. 1998. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Pradopo, Rachmat Joko. 1987. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Teeuw. A. 1955. Pokok dan Tokoh dalam Kesusastraan Indonesia. Jilid I. Pembangunan: Jakarta

__________ 1980. Tergantung pada Kata. Jakarta: Pustaka Jaya

__________ 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Pustaka Jaya: Jakarta.

__________1991. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Veeger, V. J. 2001. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Prenhallindo

Nasution, Harun. 1979. Islam dilihat dari beberapa aspeknya, Jakarta: UI Press

Esten, Mursal. 1978. Kesusastraan : Pengantar Teori dan Sejarah.Bandung : PT Angkasa

 https://id.wikipedia.org/wiki/Sastra

Luxemberg, Jan Van dkk. 1989. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: Gramedia (judul asli Inleiding in de literatuur Wetenschap. 1982. Muiderberg: Dikck Countinho B.V Vitgever. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko)

Wellek, Rene dan Austin Warren. 1990. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Narwoko, J. Dwi dan Bagong Suyanto. 2004. Sosiologi teks Pengantar dan Terapan Jakarta: prenada Media Group



[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Sastra

[2] Esten, Mursal. 1978. Kesusastraan : Pengantar Teori dan Sejarah. Bandung : PT Angkasa hlm :9

[3] Semi, Atar. 1985. Kritik Sastra.  Bandung : Angkasa hlm 8

[4] Wellek,   Rene   dan   Austin   Warren.   1989.  Teori   Kesusastraan.   Jakarta:   PT. Gramedia.

[5] Luxemberg, Jan Van dkk. 1989. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: Gramedia. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko) halm: 5-6).

[6] [6] Teeuw. A.  1980. Tergantung pada Kata. Jakarta: Pustaka Jaya hal 183

[7] K. Sukardji, 1993. Agama-agama yang berkembang di dunia dan pemeluknya, Bandung:             Angkasa. 26-27

[8] Poerwadarminta WJS. Kamus Besar Bahasa Indonesi. Jakarta: Balai Pustaka, 2002

[9] Abdullah, Yatimin. 2004. Studi Islam Kontemporer. Jakarta : Amzah. Hal : 5

[10] Ahmadi, Abu. 1984. Sejarah Agama. Solo : CV. Ramadhani. Hal 14

[11] J. Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto, Sosiologi teks Pengantar dan Terapan (Jakarta: prenada Media Group, 2004), 248

[12] Prof. Dr. H. M. Amin Syukur, MA, Pengantar Studi Islam, (Semarang:Pustaka Nuun), 2010, hlm:26-29

[13] Teeuw. A. 1955. Pokok dan Tokoh dalam Kesusastraan Indonesia. Jilid I. Pembangunan: Jakarta hal 60

[14] Veeger, V. J. 2001. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Prenhallindo hal 14

[15] Teeuw. A. 1991. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama hal 59-60

[16] Pradopo, Rachmat Joko. 1987. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press: 108

[17] Teeuw. A.  1980. Tergantung pada Kata. Jakarta: Pustaka Jaya hal 11-12

[18] Nurgiyantoro, Burhan. 1998. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press hal 3

[19] Lubis, Mochtar. 1997. Sastra dan Tekniknya. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Hal 4,5,7

[20] Lubis, Mochtar. 1997. Sastra dan Tekniknya. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Hal 8

[21] Lubis, Mochtar. 1997. Sastra dan Tekniknya. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Hal 18, 25, 32-33

[22] Mangunwijaya, Y.B. 1994. Sastra dan Religiositas. Yogyakarta: Kanisius. Hal. 42, 49

[23] Pradopo, Rachmat Joko. 1987. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press: 189-191

 

Go to top