Artikel Ilmiah

MUHASABAH 2


Dr. H. Uril Bahruddin, MA
 
Selain melakukan muhasabah diri sebagai pribadi, kita juga harus melakukannya dalam posisi sebagi bagian dari masyarakat. Sebagai muslim, kita dituntut untuk dapat banyak memberi manfaat kepada orang lain. Karena itulah dalam salah satu sabdanya Rasulullah saw. pernah bersabda bahwa “sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain”.
Muhasabah diri dalam kaitannya sebagai bagian dari masyarakat hendaknya kita dasarkan pada kebermanfaatan kehadiran kita di tengah mereka. Setiap kita pasti menjadi bagian dari teman-teman di tempat kerja. Apakah keberadaan kita sudah dirasakan manfaatnya oleh mereka, misalnya dengan banyak memberi kemudahan dan pertolongan. Ataukah justru keberadaan kita malah mengganggu mereka. Sesungguhnya ketika kita bisa mengerjakan seluruh tugas yang sudah menjadi tanggung jawab kita, maka pada secara tidak langsung orang lain akan merasakan kemudahan dan manfaat dari kita.
Apabila kita melakukan introspeksi dalam hal ini dengan jujur, bisa jadi banyak kekurangan yang ada pada diri kita. Saat mengawali dan mengakhiri kerja yang tidak tepat sesuai dengan waktu yang telah ditentukan sebenarnya telah mengurangi kebermanfaatan dari keberadaan kita. Seringkali kita harus malu dengan orang lain yang lebih disiplin dari kita, padahal setiap hari kita membaca al Quran yang sarat dengan berbagai ayat yang memerintahkan untuk disiplin. Kita harus malu juga dengan orang lain yang lebih professional dalam bekerja, padaha mereka tidak menganut agama yang mengajarkan bekerja dengan professional.
Dalam kaitannya sebagai bagian dari masyarkat, kita juga perlu melakukan muhasabah terhadap keberadaan kita bersama tetangga. Ukurannya tetap sama, yaitu kebermanfaatan.
Seringkali karena alasan kesibukan bekerja kita jarang membersamai masyarakat, jarang mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh masyarakat. Semua itu seharusnya menjadi bahan muhasabah diri kita. Terkait dengan keharusan kita memiliki perhatian terhadap tetangga, hingga salah satu wasiat Rasulullah kepada keluarga muslim secara khusus, hendaknya menghormati dan memperhatikan tetangganya.
Terkait dengan pentingnya memperhatikan tetangga, Rasulullah telah menjadikannya sebagai indikator kesempurnaan iman seseorang. Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia muliakan tetangganya”.
Karena demikian penting dan besarnya kedudukan tetangga bagi seorang muslim, al Quran memerintahkan ummat Islam untuk berbuat baik terhadap tetangga. Allah swt. berfirman :
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang memiliki hubungan kerabat dan tetangga yang bukan kerabat, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (QS. An Nisa: 36)
Dalam tafsir As Sa’di disebutkan bahwa “Tetangga yang lebih dekat tempatnya, lebih besar haknya. Maka sudah semestinya seseorang mempererat hubungannya terhadap tetangganya, dengan memberinya sebab-sebab hidayah, dengan sedekah, dakwah, lemah-lembut dalam perkataan dan perbuatan serta tidak memberikan gangguan baik berupa perkataan dan perbuatan”.
Secara lebih teknis lagi, bahkan Islam telah berbicara tentang batasan tetangga. Siapakah yang tergolong tetangga itu? Memang dalam hal ini ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama , sebagian mereka mengatakan tetangga adalah ‘orang-orang yang shalat subuh bersamamu’, sebagian lagi mengatakan ’40 rumah dari setiap sisi’, sebagian lagi mengatakan ’40 rumah disekitarmu, 10 rumah dari tiap sisi’ dan beberapa pendapat lainnya.
Terlepasa dari perbedaan pendapat dalam menentukan batasan tetangga, dan juga menurut pendapat sebagian ulama menyatakan bahwa hadis tentang batasan tetangga itu statusnya lemah, kita dapat memahami spirit yang diajarkan oleh Islam untuk memperhatikan tetangga dan menghormati hak-hak mereka seharusnya menjadi pemicu bagi kita dan selalu kita melakukan muhasabah sejauh mana kita sudah dapat menunaikannya dengan baik. Wallahu a’lam.
===============
This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.