Obedience, Compliance, Conformity dan Acceptance

  1. Obedience, Compliance, Conformity dan Acceptance

Kepatuhan (obedience) merupakan salah satu dari tiga konsep utama yang sering dikemukakan oleh para ahli psikologi yang berkaitan dengan pengaruh tekanan sosial terhadap perilaku individu selain konformitas (conformity), kerelaan (compliance) dan penerimaan (acceptance). Baron & Byrne, 1994; Brehm & Kassin, 1993 mengemukakan bahwa Obedience merupakan bentuk kepatuhan karena adanya permintaan untuk melakukan sesuatu yang dinyatakan dalam bentuk perintah. Compliance merupakan perilaku yang terjadi sebagai respon terhadap permintaan langsung yang berasal dari pihak lain. Comformity yaitu terjadinya perubahan perilaku yang diakibatkan oleh adanya tekanan kelompok. Sedangkan acceptance yaitu adanya standar penilaian internal yang sejalan dengan tekanan kelompok (Forsyth, 1982).

Menurut Sears (1994) seseorang atau organisasi seringkali berusaha agar pihak lain menampilkan tindakan tertentu pada saat pihak lain tidak ingin melakukannya. Seseorang yang menampilkan perilaku tertentu karena setiap orang menampilkan perilaku tersebut disebut sebagai konformitas. Sedangkan bila seseorang menampilkan perilaku tertentu karena ada tuntutan meskipun mereka lebih suka tidak menampilkannya disebut sebagai kataatan atau kepatuhan.

Penelitian eksperimental Solomon E. Asch (dalam Forsyth, 1983; Pines & Maslach, 1993; Sears., dkk, 1994) mengenai konformitas menemukan bahwa banyak dari subyek penelitian sesungguhnya mengetahui jawaban mana yang benar, akan tetapi subyek tersebut berusaha sependapat dengan kelompok agar mereka tidak memiliki pendapat yang berbeda dengan pendapat kelompok, takut kepada eksperimenter atau tidak ingin kelihatan bodoh. Hal seperti inilah yang menurut Forsyth (1983) disebut sebagai kepatuhan. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa kepatuhan terjadi apabila seseorang melakukan suatu tindakan atau perilaku yang sejalan dengan tekanan kelompok dan mengabaikan penilaian diri sendiri yang diyakininya. Akan tetapi apabila penilaian internal individu yang diyakininya sejalan dengan tekanan kelompok, maka hal tersebut disebut sebagai penerimaan (acceptance). Terkadang dalam kenyataan hidup kita sehari-hari, seseorang yang ingin mendapatkan legitimasi dan penerimaan dari lingkungannya cenderung untuk mengikuti norma-norma yang ada dilingkungannya. Dengan mematuhi tuntutan lingkungan, individu berharap dapat diterima dan menjadi bagian dari lingkungannya.

Pengertian tentang kepatuhan yang dikemukakan oleh Forsyth (1983) sebenarnya tidak jauh beda dengan apa yang dikemukakan oleh Myers (1999) yang menyatakan bahwa kepatuhan merupakan salah satu bentuk dari konformitas. Pada dasarnya kepatuhan pertama-pertama muncul karena adanya dorongan motivasi untuk mendapatkan hadiah (reward) dan berusaha untuk menghidari terjadinya hukuman (punishment), hal tersebut muncul akibat dari perilaku patuh individu. Menurut Myers (1999) seringkali kita menyesuaikan diri tanpa sungguh-sungguh meyakini apa yang sedang kita lakukan, sebagai contoh memakai dasi atau pakaian seragam tertentu yang pada kenyataannya kita sebenarnya tidak menyukainya. Perilaku seperti ini yang menurut Myers (1999) disebut sebagai kepatuhan. Demikian pula dalam kehidupan kita sehari-hari sering melakukan hal-hal yang betul-betul kita yakini dan tanpa adanya pemaksaan atau perintah dari yang memiliki otoritas. Hal ini yang oleh Myers (1999) disebut sebagai penerimaan (acceptance).

Shaw (1979) menyatakan bahwa kepatuhan berhubungan dengan prestise seseorang dimata orang lain. Orang yang telah memiliki konsep bahwa dirinya adalah orang yang pemurah, akan menjadi malu jika dia menolak untuk memberikan sesuatu ketika orang lain meminta sesuatu padanya. Hal ini disebabkan oleh adanya ambiguitas situasi yang berkaitan dengan akibat dan reaksi yang akan diterima jika seseorang memilih pilihan tertentu. Rasa aman akan menumbuhkan rasa percaya terhadap lingkungan sehingga orang dengan suka rela mematuhi otoritas.

Sejalan dengan pendapat tersebut Kartono & Gulo (2000) mengemukakan bahwa obedience (kepatuhan/ketaatan) adalah ditinggalkannya pertimbangan-pertimbangan sendiri dan melakukan kooperasi (kerjasama) dengan tuntutan-tuntutan dari seorang otoritas. Lebih lanjut Kartono & Gulo (2000) menyatakan bahwa obedience (kepatuhan/ketaatan) adalah salah satu aspek dari konformitas, sehingga orang melakukan segala sesuatu yang dikatakan oleh orang lain. Sejalan dengan pendapat tersebut Wrightsman dan Deaux (dalam Marselius, 2002) mengemukakan bahwa ketaatan merupakan bentuk khusus dari kepatuhan karena permintaan untuk melakukan sesuatu perilaku dalam ketaatan dinyatakan dalam bentuk perintah. Kartono & Gulo (2000) juga mengemukakan bahwa compliance merupakan ketundukan kepada instruksi-instruksi dan sugesti-sugesti. Sedangkan konformitas bisa diartikan sebagai penyesuaian diri yaitu kecenderungan untuk dipengaruhi oleh tekanan kelompok dan tidak menentang norma-norma yang telah digariskan oleh kelompok.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Milgram dengan menggunakan sengatan listrik yang bervariasi apabila ada subjek yang salah menjawab, menemukan bahwa 65% dari para subjek tetap patuh pada tugasnya sampai pada tingkat tegangan 450 volt dan tidak seorang subjek pun yang berhenti memberikan sengatan pada tegangan 300 volt. Milgram membuktikan bahwa potensi bagi timbulnya kepatuhan merupakan semacam persyaratan penting untuk hidup bermasyarakat yang mungkin telah terbentuk pada spesies kita melalui evolusi (Atkinson., dkk, 1993).

Orang yang ingin mendapatkan legitimasi dan penerimaan dari lingkungannya cenderung untuk mengikuti norma-norma yang ada dalam lingkungannya tersebut. Dengan mematuhi tuntutan lingkungan, individu berharap dapat menjadi bagian dan diterima oleh lingkungannya.

Berdasarkan pengertian diatas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa obedience merupakan kesediaan seseorang untuk melakukan sesuatu karena tekanan otoritas tanpa mengetahui manfaatnya. Compliance yaitu kesediaan seseorang melakukan sesuatu tanpa mengetahui manfaatnya dan tanpa tekanan dari pihak otoritas. Conformity yaitu suatu bentuk penyesuaian diri terhadap kelompok atau lingkungan karena adanya tekanan kelompok. Acceptance yaitu suatu bentuk perilaku yang dilakukan karena ia benar-benar tahu akan manfaatnya. Penelitian ini akan mengkaji lebih dalam tentang konsep-konsep tersebut diatas dalam menjelaskan fenomena yang terjadi di dalam masyarakat Cikoang yang berhubungan dengan perayaan maudu’ lompoa. Apakah perilaku yang ditunjuk lebih mengarah ke obedience, compliance, conformity ataukah berupa acceptance. Semua itu tergantung dari temuan penelitian dilapangan.

Go to top