Short

HAMZAH (Alif Yabisah / الألف اليابسة) dan ALIF (Alif Layyinah / الألف اللينة )

A.HAMZAH (Alif Yabisah / الألف اليابسة)
a.HAMZAH DI AWAL KALIMAH

1.HAMZAH WASHAL
Hamzah washal adalah hamzah yang mendatangi awal kalimah yang dimulai dengan haraf sukun agar memungkinkan mengucapkan haraf sukun tersebut.

Qaidahnya:
A. Hamzah washal mempunyai tempat-tempat qiyasi dalam fi’il, yaitu pada:
1. Fi’il amr dari tsulatsi ( اكْتُبْ ), khumasi ( اجْتَهِدْ ), sudasi ( اسْتَغْفِرْ )
2. Fi’il madli dari khumasi ( اجْتَهَدَ ), sudasi ( اسْتَغْفَرَ )
3. Isim mashdar dari khumasi ( اجْتِهَاد ), sudasi ( اسْتِغْفَار )
B. Hamzah washal mempunyai tempat-tempat simaa’i dalam isim, yaitu pada:
اسْمٌ – ابْنٌ – ابْنَةٌ – امْرُؤٌ – امْرَأَةٌ – اثْنَانِ - اثْنَتَانِ

C. Hamzah washal mempunyai tempat dalam haraf yaitu pada (ال ) Ta’rif.

2.HAMZAH QATHA’ berada pada tempat selain yang telah disebut di atas.


b.HAMZAH DI TENGAH KALIMAH

DITULIS DI ATAS ALIF
1. Bila ia difathahkan dan sebelumnya difathahkan, seperti: سَأَلَ
2. Bila ia sukun dan sebelumnya difathahkan, seperti: رَأْسٌ
3. Bila ia difathahkan dan sebelumnya sukun, seperti: مَسْأَلَةٌ

DITULIS DI ATAS NABRAH
1. Bila ia dikasrahkan, seperti:
2. Bila ia difathahkan dan sebelumnya dikasrahkan, seperti: وِئَامٌ
3. Bila ia didlammahkan dan sebelumnya dikasrahkan, seperti: نَاشِئُوْنَ
4. Bila ia difathahkan dan sebelumnya ya sukun, seperti: هَيْئَةٌ

DITULIS DI ATAS WAWU
1. Bila ia didlammahkan dan sebelumnya difathahkan, seperti: أَقْرَؤُهُمْ
2. Bila ia didlammahkan dan sebelumnya sukun, seperti: مَسْؤُوْلٌ
3. Bila ia sukun dan sebelumnya didlammahkan, seperti: مُؤْمِنٌ
4. Bila ia difathahkan dan sebelumnya didlammahkan, seperti: فُؤَادٌ

DITULIS MENYENDIRI
1. Bila ia difathahkan setelah alif, seperti: يَتَسَاءَلُوْنَ
2. Bila ia difathahkan setelah wawu sukun, seperti: مُرُوْءَةٌ
3. Bila setelahnya ada alif tanda tanwin nashab dan sebelumnya bukan ya sukun, seperti: امْرَءًا





c.HAMZAH DI AKHIR KALIMAH

1. Ditulis di atas alif, bila sebelumnya difathahkan, seperti: قَرَأَ
2. Ditulis di atas ya, bila sebelumnya dikasrahkan, seperti: شَاطِئٌ
3. Ditulis di atas wawu, bila sebelumnyadidlammahkan, seperti: تَكَافُؤٌ
4. Ditulis menyendiri bila sebelumnya disukunkan, seperti: شَيْءٌ


B.ALIF (Alif Layyinah / الألف اللينة )

Alif Layyinah adalah haraf yang tidak menerima harakat apapun dan berada di tengah serta akhir kalimah.

a.DI TENGAH KALIMAH
Ditulis dalam bentuk alif, seperti: قَالَ

b.DI AKHIR KALIMAH
Ditulis dalam bentuk ya, yaitu pada:
1. Isim tsulatsi yang haraf alifnya sebagai pengganti ya, seperti: الفَتَى
sedangkan haraf alif pengganti wawu ditulis alif biasa, seperti: العَلَا
2. Fi’il tsulatsi yang haraf alifnya merupakan pengganti ya, seperti: سَعَى
sedangkan haraf alif pengganti wawu ditulis alif biasa, seperti: دَعَا
3. Nama arab yang hurufnya lebih dari 3 dan haraf sebelum akhirnya bukan ya, seperti: صُغْرَى
4. Setiap fi’il yang hurufnya lebih dari 3 dan haraf sebelum akhirnya bukan ya, seperti: صَلَّى
5. Lima nama dari bahasa ‘ajam (luar arab), yaitu: بُخَارَى – كِسْرَى - مُوْسَى - عِيْسَى
6. Lima isim mabni, yaitu: الأُلَى(الموصولة) - أُولَى(الإشارة) - أَنَّى - مَتَى
7. Empat haraf, yaitu: إِلَى - بَلَى - عَلَى - حَتَّى


C.HURUF YANG DITAMBAHKAN

1. Alif Tambahan
- Sesudah wawu jama’ah, seperti: فَعَلُوْا
- Sesudah akhir bait sya’ir, seperti: قِفِي نَسْأَلْكِ هَلْ أَحْدَثْتِ صَرْمًا – لَوَشْكِ البَيْنِ أَمْ خُنْتِ الأَمْنِيَا

2. Wawu tambahan
Di tengah kalimah:
- Pada lafadz isim isyarah, seperti: أُولَى,أُولَاء ,أُولئِكَ , terkecuali bila ada Ha Tanbih, seperti: هؤُلَاء juga pada Isim Maushul, seperti: الأُلَى
- Pada lafadz أُولَات, أُولَى, أُولُو , yang bermakna memiliki.

Di akhir kalimah:
- Pada lafadz عَمْرٌوdengan beberapa syarath
- Sesudah mim jama’ yang ditasybikan dlammahnya, contoh: عَلَيْكُمُوْا

D.HURUF YANG DIBUANG

1. ALIF
a.DI AWAL KALIMAH
A. Pada lafadz ابْنٌ danابْنَةٌ ,dengan syarath:
- Terletak setelah Ya Nida (seruan), seperti: يَابْنَ أَخِي
- Dalam bentuk mufrad sebagai na’at (shifat) di antara dua nama yang berhubungan secara langsung, bagian pertamanya jangan ditanwinkan, seperti: عِيْسَى بْنُ مَرْيَمَ
- Kemasukan Hamzah Istifham (pertanyaan), seperti: أَبْنُكَ هَذَا

B. Pada alif dari ال , dengan syarath:
- Kemasukan lam, seperti: لله
- Didahului oleh lafadzبَنُوْنَ danبَنِيْنَ dengan haraf nun dan wawu/ya dibuang, seperti: بَلْعَمْبَرِ  بَنُو العَمْبَرِ

b.DI TENGAH KALIMAH
Pada lafadz Jalaalah (Allah), yaitu الله, lalu pada lafadzيس, أِلهٌ, الرَّحْمن, ثَلثُمِائَة, لكِنَّ, السَّموَات, أُولئِكَ

Orang terdahulumembuang alif dari nama إسْحق, هرُوْن, سُلَيْمن, إبِرهِيْم, مُعوِيَة, سُفْين, عُثْمن, إسْمعِيْل,

Akan tetapi orang sekarang lebih suka menetapkan alifnya.

c.DI AKHIR KALIMAH
- Pada Ma Istifhamiyah, contoh: فِيْمَ ...؟ عَلَامَ ...؟ حَتَّامَ ...؟
- Di akhir lafadz طه
- Pada Ya Nida yang berhubungan dengan nama yang dimulai dengan haraf hamzah dan tidak ada komponen yang dibuang darinya, seperti: يَأَحْمَدُ dan yang memasuki lafadzأهل, أي, أية , seperti: يَأَهْلَ الكِتَابِ, يَأَيُّهَا الناس
- Pada Ha Tanbih هؤُلَاء, هذِهِ, هذَا
- Pada Dza lafadz ذلِكَ

2. WAWU
Haraf wawu dibuang untuk meringankan, seperti: دَاود

3. YA
Pada akhir Isim Manqush bentuk nakirahnya, seperti: دَاعٍ

4. NUN
- Bila miMin dan ‘An memasuki Maa atau man, contoh: عَمَّنْ, مِمَّا
- Bila In Syarthiyah memasuki maa zaidah (tambahan) atau laa naafiyah (meniadakan), contoh: إِمَّا
- Bila An mashdariyah memasuki maa atau laa nafiyah maupun zaidah, contoh: أَمَّا

Ket:
Diambil yang mudah saja dari :
- Kitab Silsilah Ta’lim Lughah ‘Arabiyah Mustawa Tsalits PTI Muhammad Su’ud
- Qawaaidul Imla oleh ‘Abdussalam Muhammad Harun, penerbit Trigenda Karya
www.slametsupriadi.blogspot.com

Add comment


Go to top