Biologi

Biologi

Pengujian Bioaktivitas Anti Diabetes Mellitus Tumbuhan Obat


Masa transisi demografi akibat keberhasilan upaya me-
nurunkan angka kematian, dapat menimbulkan transisi epide-
miologis, dimana pola penyakit bergeser dari infeksi akut ke
penyakit degeneratif yang menahun. Salah satu diantaranya
yang berkaitan erat dengan penyakit metabolisme dan cen-
derung akan mengalami peningkatan sebagai dampak adanya
pergeseran perilaku pola konsumsi gizi makanan adalah
diebetes mellitus.
Diabetes mellitus merupakan sekumpulan gejala yang
timbul pada seseorang, ditandai dengan kadar glukosa yang
melebihi nilai normal (hiperglikemia) akibat tubuh kekurangan
insulin baik absolut maupun relatif. Penyakit ini bersifat me-
nahun alias kronis, dan penderitanya dari semua lapisan umur
serta tidak membedakan orang kaya ataupun miskin. Dalam
keadaan tak terkendali penyakit ini ditandai oleh trias 3 P yaitu:
poliuri, polidipsi dan polifagi. Secara klinis diabetes mellitus
dibedakan menjadi Insulin Dependent Diabetes Mellitus
(IDDM) atau diabetes mellitus tergantung insulin (DMTI) dan
Non-Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) atau
diabetes mellitus tidak tergantung insulin (DMTTI)
(Suryohudoyo, 1996).
Penyebab Diabetes Mellitus adalah aktivitas insulin yang
tak memadai baik karena sekresi insulin yang berkurang
(DMTI) atau karena adanya resistensi insulin pada jaringan-
jaringan yang peka insulin (DMTTI).
Akhir-akhir ini pada sebagian penderita DMTTI yang
disebut MODY (maturity onset diabetes of the young), selain
terdapatnya resistensi insulin juga ditemukan pula cacat
(defect) pada sekresi insulin. Namun pada MODY sekresi
insulin masih dapat ditingkatkan dengan pemberian obat hipo-
glikemik oral (OHO), sedangkan pada DMTI kekurangan
insulin hanya dapat diatasi dengan pemberian insulin eksogen.

TINJAUAN TENTANG UJI BIOAKTIVITAS ANTI
DIABETES MELLITUS
1. Toleransi Glukose
Pengaturan kadar glukosa yang stabil dalam darah adalah
mekanisme homeostatik yang merupakan kesatuan proses ikut
berperannya hati, jaringan ekstra hepatik dan beberapa hormon.
Pada kondisi kadar glukosa darah normal (80-100 mg %), hati
ternyata merupakan satu-satunya penghasil glukosa. Pada ke-
adaan pasca aborsi, kadar glukosa darah pada manusia ber-
variasi antara 80-100 mg %, sedangkan pada kondisi puasa,
kadarnya menurun menjadi sekitar 60-70 mg %. Dalam keada-
an normal kadar glukosa darah terkontrol pada batas-batas
tersebut.
Kemampuan tubuh dalam memanfaatkan glukosa dapat
ditentukan dengan mengukur toleransi glukosa yang dapat di-
tunjukkan dengan sifat kurva glukosa darah setelah pemberian
glukosa. Diabetes mellitus ditandai dengan berkurangnya tole-
ransi tubuh terhadap glukosa yang disebabkan berkurangnya
sekresi insulin. Hal ini dimanifestasikan dengan kadar glukosa
darah yang makin meningkat (hiperglikemik) disertai glikosuria
dan perubahan pada metabolisme lemak.
2. Aloksan
Aloksan merupakan bahan kimia yang digunakan untuk
menginduksi diabetes pada binatang percobaan. Efek diabeto-
geniknya bersifat antagonis dengan glutathion yang bereaksi
dengan gugus SH nya.
Mekanisme aksi dalam menimbulkan perusakan yang
selektif belum diketahui dengan jelas. Beberapa hipotesis ten-
tang mekanisme aksi yang telah diajukan antara lain: pem-
bentukan khelat terhadap Zn, interferensi dengan enzim-enzim
sel
serta deaminasi dan dekarboksilasi asam amino. Perusa-
kan sel
pankreas secara selektif oleh aloksan belum banyak
diketahui. Penelitian terhadap mekanisme kerja aloksan secara
invitro menunjukkan bahwa aloksan menginduksi pengeluaran
ion kalsium dari mitokondria yang mengakibatkan proses
oksidasi sel terganggu. Keluarnya ion kalsium dari mito-
khondria ini mengakibatkan gangguan homeostasis yang
merupakan awal dari matinya sel.
3. Tolbutamid
Senyawa tolbutamid dapat menurunkan kadar glukosa
darah karena mampu merangsang sekresi insulin. Mekanisme
kerjanya adalah dengan cara berikatan dengan membran sel,
maka permeabilitas membran terhadap ion kalsium menjadi
menurun, terjadi depolarisasi dari sel dan ion kalsium me-
masuki sel, selanjutnya terjadilah sekresi insulin. Aktivitas
hipoglikemiknya ditunjukkan pada 6-12 jam setelah pemberian.
4. Uji Kadar Glukosa Darah
Glukosa darah dapat ditentukan dengan berbagai cara baik
secara kimiawi maupun secara enzimatik. Prisip penentuannya
didasari pada kemampuan glukosa untuk mereduksi ion an-
organik seperti Cu
2+
atau Fe(CN)
63-
. Penentuan glukosa secara
reaksi reduksi kurang spesifik dibanding cara enzimatik, ter-
utama bila dalam darah terdapat bahan yang dapat mereduksi
misalnya kreatinin, asam urat dan gula-gula lain selain glukosa