Hikmah

BIRRUL WALIDAIN


 

Oleh : Dr. H. Uril Bahruddin, M.A

Dalam cerita yang sudah sangat terkenal di kalangan kaum muslimin, karena cerita ini diabadikan oleh Bukhari dan Muslim dalam kitab sahihnya. Yaitu kisah tiga orang yang tertutup batu besar di dalam goa dan tidak bisa keluar kecuali dengan memohon pertolongan dari Allah dengan menggunakan media amal shalih yang pernah mereka lakukan. Salah satunya mengadu dan mendekat kepada Allah swt. seraya berkata:

“Saya memiliki dua orang tua yang sudah renta, tiap hari saya mengantar susu kambing untuk keduanya dari hasil ternakku. Suatu malam, aku terlambat mengantar hingga kudapati keduanya telah tertidur lelap, sementara istri dan anakku sedang menunggu membutuhkannya juga. Tidak mungkin aku memberi minum keluargaku sebelum orang tuaku, aku tidak tega membangunkan keduanya dan juga tidak ingin mengecewakan orang tuaku saat malam-malam bangun. Akhirnya aku menunggu hingga terbit fajar sampai keduanya bangun. Ya Allah, jika perbuatanku ini benar-benar kulakukan hanya karena-Mu, tolong bukakan pintu goa ini”. Batu penutup goa itu bergeser sedikit mereka bertiga dapat melihat langit.

Kawan...
Birrul walidain adalah perbuatan mulia, merupakan amal shalih yang dapat dijadikan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. sebagaimana cerita di atas dapat dijadikan sebagai wasilah dalam berdoa kepada Allah untuk keluar dari permasalahan yang sedang melilitnya. Birrul walidain juga dapat meninggikan derajat seseorang dan memasukkannya ke dalam surga, sebagaimana cerita Haritsah bin an Nu’man yang gugur saat perang Badar, ibunya bertanya kepada rasulullah saw. dan dijawab: “Wahai Ummu haritsah, dia sekarang berada di tingkat surga yang paling tinggi, yaitu al firdaus”. Sebabnya adalah sebagaimana disampaikan oleh rasulullah juga: “Dia adalah orang yang paling berbakti kepada ibunya”.

Begitulah keutamaan orang yang berbakti dan berbuat baik kepada orang tuanya sehingga semua sahabat selalu berlomba-lomba untuk melakukan birrul walidain. Ibnu Umar, salah seorang sahabat yang ketika bertemu dengan seorang yang berasal dari pedalaman, setelah berkenalan dan menyebutkan bahwa dia adalah teman akrab ayahnya, kemudian Ibnu Umar di saat panas yang terik rela menghadiahkan kepada orang itu keledai yang dinaikinya dan surban yang dipakai menutup kepalanya. Setelah ditanya oleh sahabatnya, dia menjawab: “Saya pernah mendengar rasulullah saw. bersabda, ‘diantara bentuk birrul walidain yang paling utama adalah menyambung teman karib orang tua pada saat mereka telah tiada’”.

Bahkan untuk masalah birrul walidain ini tetap dianjurkan meskipun kondisi orang tua berlainan agama. Lebih dari itu, jika orang tua mengajak kepada kemusyrikan sekalipun, kita tolah ajakannya dan tetap kita diperintahkan untuk berbuat baik kepada mereka. Bukan tidak mungkin, lantaran birrul walidain yang dilakukan oleh anaknya, orang tuanya akan mendapat hidayah dan meninggalkan kemusyrikannya.

Sayang, tidak sedikit kita saksikan di zaman sekarang ini orang yang kasar terhadap orang tua mereka, membentak mereka dan bersuara keras dihadapan mereka. Bahkan kadang-kadang yang melakukan hal ini adalah orang-orang yang mengerti agama atau orang shalih, dengan alasan karena ingin mengingatkan orang tuanya dan mengingkari kemungkaran. Apakah kemungkaran yang dilakukan oleh orang tuanya melebihi syirik kepada Allah? Terntunya tidak. Apabila orang tua yang musyrik saja harus diperlakukan dengan baik, apalagi orang tua yang kemungkinan hanya lalai melakukan kemungkaran, tentunya lebih harus tetap dihormati dan dilayani dengan baik.

Bukankah birrul walidain kita akan meluluhkan hari mereka? Bukankah hadiah yang kita berikan akan membahagiakan hatinya? Bukankah kunjungan kita akan membuat mereka bersyukur kepada Allah karena memiliki anak yang shalih? Bukankah jalan yang paling cepat untuk menyentuh hati orang tua adalah dengan berbuat baik kepada mereka? Bukankah do’a anak yang shalih akan tetap bermanfaat bagi orang tuanya hingga setelah mereka meninggal sekalipun? Bukankan yang kita inginkan adalah hidayah dan hilangnya kemungkaran? Mengapa harus dengan membentak dan suara kasar?

Semoga Allah memberi kemudahan kepada kita untuk selalu birrul walidain dalam kondisi apapun, mulai saat mereka masih hidup hingga sudah meninggal, sehingga kita dapat mengambil manfaat dari amalan yang mulia ini. Wallahu a’lam.
===============
This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.