Hikmah

DUNIA ITU TERKUTUK


DUNIA ITU TERKUTUK

Oleh : Dr. H. Uril Bahruddin, M.A

Mari kita renungkan sedikit tentang dunia, agar tidak terlalu jauh kita mengejarnya sehingga melupakan tujuan asasi dari keberadaan kita di dunia ini. Mari kita awali dengan membaca hadis yang pernah disampaikan oleh rasulullah saw., beliau bersabda: “Dunia itu terkutuk, dan terkutuk pula apa-apa yang ada di dalamnya kecuali dzikir kepada Allah dan apa yang berkaitan dengannya, serta orang yang berilmu atau orang yang mempelajarinya”. Hadis ini menurut penelitian yang dilakukan oleh ulama hadis adalah hadis dla’if, tetapi karena banyaknya riwayat yang menceritakan tema ini, maka para ulama menyimpulkan bahwa hadis ini bisa meningkat derajatnya menjadi hadis hasan lighairihi.

Dalam hadis di atas rasulullah saw. menegaskan bahwa dunia itu terkutuk. Jika sesutu itu terkutuk, maka harus dijauhi dan ditinggalkan, sebagaimana kita selalu membaca dalam shalat lima waktu, kita memohon kepada Allah agar tidak dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang terkutuk. Namun, apakah kita harus meninggalkan dunia, sementara Allah telah memilih kita untuk menjadi salah satu dari penghuninya? Bukankah kita tinggal di dunia ini adalah atas kehendak dan pilihan Allah semata?

Kawan…
Sudah barang tentu meninggalkan dunia bukan berarti pergi dari dunia secara fisik. Dunia dan segala yang ada di dalamnya ini masih boleh kita nikmati, karena memang dunia ini sengaja Allah siapkan untuk manusia untuk dikelola dan dimakmurkan. Agar dunia menjadi tidak terkutuk bagi kita, maka dalam mengelola, memakmurkan dan menikmatinya manusia tidak boleh melupkan empat hal sebagaimana yang disebutkan oleh rasulullah saw. diatas, yaitu:

Pertama; berdzikir. Apapun aktifitas yang kita lakukan di dunia ini, baik itu bepergian, bejalan, berwisata, bekerja, mengunjungi kerabat dan lain sebagainya, semuanya harus dibarengi dengan berdzikir kepada Allah. Jangan lupa bahwa Allah selalu bersama kita. Karena itu rasulullah selalu mengajajarkan kepada kita untuk berdoa dan berdzikir pada setiap kesempatan, bahkan mulai keluar dari rumah sampai masuk ke rumah lagi pada setiap aktifitas selalu ada do’a yang harus kita baca. Semua itu untuk menjaga kita agar dalam waktu sebentar saja jangan sampai kita lengah dari berdzikir kepada Allah.

Kedua; melakukan aktifitas yang berkaitan dengan dzikir. Berarti ada sejumlah aktifitas pekerjaan dalam kehidupan ini yang diperbolehkan dan ada pula yang dilarang untuk dikerjakan. Aktifitas yang boleh dikerjakan oleh manusia adalah yang dapat mendekatkan diri kepada-Nya, ukurannya adalah jika pekerjaan itu diridhai oleh-Nya, apapun jenis pekerjan itu. Adapaun aktifitas model kedua yang tidak boleh dikerjakan oleh manusia adalah yang akan menjauhkannya dari Allah, ukurannya adalah jika Allah tidak meridhai pekerjaan itu.

Ketiga; menjadi orang yang berilmu. Hakekat orang yang berilmu adalah orang yang dapat membedakan antara yang benar dan salah, dengan ilmunya orang itu selalu berhati-hati dalam melakukan aktifitas apapun di dunia ini. Orang yang berilmu adalah orang yang dapat membedakan yang halal dari yang haram, kemudian tidak memilihnya keciali yang halal saja. Orang yang berilmu adalah orang yang menghormati orang lain dan tidak menghinakannya, karena setiap manusia diciptakan oleh Allah dengan memiliki keistimewan masing-masing. Orang yang berilmu itu tidak sombong karena banyaknya ilmu yang dimiliki, semakin tinggi ilmunya ia menjadi lebih tawadlu dan semakin takut kepada Allah. Karena itu, orang yang berilmu tidak akan terkutuk di dunia ini.

Keempat; menjadi orang yang selalu belajar ilmu. Menurut Imam Syafi’i rahimahullah, ketika orang itu belajar, maka ia akan tau kekurangannya. Setiap kali bertambah ilmu seseorang, maka semakin sadar bahwa ia semakin jauh dari kesempurnaan dan asih banyak ilmu Allah yang belum diketahuinya, hingga ia terus menerus belajar ilmu dan tidak merasa cukup dengan ilmu yang dimilikinya. Karena itu, manusia yang tidak terkutuk di dunia ini adalah yang selalu mempelajari ilmu yang telah dibentangkan oleh Allah di jagad raya ini, ia akan menjadi semakin kecil jika dibandingkan dengan luasnya ilmu Allah. Allah berfirman: “Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Rabbku, sungguh habislah lautan itu sebelum kalimat-kalimat Rabbku habis (ditulis), meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)’”. (al Kahfi:109)

Semoga Allah selalu memberikan kekuatan kepada kita untuk mengarungi kehidupan dunia ini dengan seluruh aktifitasnya tanpa melalaikan berdzikir kepada-Nya, hanya melakukan hal-hal yang selalu mengingatkan kepada-Nya, menjadi orang yang berilmu atau senang mempelajarinya, hingga kita tergolong orang yang paling takut kepada Allah karena ilmu tersebut. Wallahu a’lam.
===============
This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.