Hikmah

INDIKATOR KEIMANAN

INDIKATOR KEIMANAN

Oleh : Dr. H. Uril Bahruddin, M.A

Untuk mengetahui berat suatu benda harus terlebih dahulu dilakukan pengukuran atau penimbangan. Instrumen untuk menimbang setiap benda berbeda-beda tergantung jenis benda yang ditimbang. Timbangan untuk mengukur berat benda seperti gula tentu berbeda dengan timbangan untuk mengukur beratnya emas. Demikian pula halnya dengan keimanan, ada instrumen tersendiri untuk mengukur keimanan pada diri seseorang.

Ada sejumlah instrumen untuk mengukur dan menilai keberadaan iman pada diri seseorang, yang paling mudah adalah dengan menggunakan ukuran masjid. Ya, masjid adalah instrumen yang paling sederhana untuk mengukur iman yang ada dalam diri kita. Apabila kehadiran kita menuju rumah Allah itu jumlahnya banyak, maka iman kita sedang dalam posisi bertambah. Tetapi jika kita enggan atau jarang mengunjungi masjid, maka dapat dipastikan bahwa iman kita sedang turun atau lemah.

Masjid, dari dulu hingga sekarang, masih tetap efektif menjadi alat ukur kuatnya iman seseorang. Allah swt. berfirman: “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah dan (dari) mendirikan shalat dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang” (An Nuur:37).

Rasulullah saw. memasukkan orang yang cinta dengan masjid ke dalam tujuh golongan orang-orang yang akan mendapatkan naungan dari Allah pada hari kiamat, dimana tidak ada naungan pada hari itu kecuali naungan dari-Nya. Rasulullah saw. bersabda salah satunya adalah : “Seorang yang hatinya tergantung kepada masjid”. Begitu juga pada ayat lain Allah berfirman tentang memakmurkan masjid: “Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian” (at Taubah:18).

Karena alasan itulah, projek pertama yang dilakukan oleh rasulullah saw. sesampainya di kota Madinah pada saat hijrah adalah membangun masjid, baru setelah itu disusul dengan perojek kedua mempersaudarakan antar kaum Muhajirin dengan Anshor. Masjid pertama yang dibangun oleh rasulullah dan para sahabatnya di Madinah adalah masjid Quba’, sampai hari ini masjid itu masih ramai dikunjungi oleh kaum muslimin yang sedang berziarah ke kota Madinah. Diantara keutamaan berziarah dan melaksanakan shalat sunnah dua rakaat di masjid Quba’ adalah akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melaksanakan umrah.

Dulu para sahabat kalau mau menilai kemunafikan dikalangan mereka adalah dengan melihat ketidakhadiran mereka pada saat shalat subuh. Para salafusshalih juga memiliki kebiasaan baik terkait dengan masalah masjid ini. Apabila ada pemuda yang datang meminang putri mereka, mereka hanya bertanya dimana pemuda melaksanakan shalat lima waktu. Apabila shalatnya dilakukan di masjid, maka merekapun segera menerima pinangannya dan menikahkan anak gadisnya. Namun apabila tidak demikian, maka merekapun tidak segan-segan menolaknya.

Para ulama salafusshalih sangat memperhatikan masalah shalat jamaah lima waktu di masjid, mereka menjadikannya sebagai aktifitas utama yang tidak boleh dikalahkan oleh aktifitas apapun. Ada riwayat yang disampaikan dari seorang tabiin, namanya Syaikh Said bin al Musayyib, dia berkata : “Sejak 40 tahun yang lalu, tidak pernah muadzin mengumandangkan adzan, kecuali saya sudah berada di masjid”. Ini menunjukkan perhatiannya yang luar biasa untuk menghadiri rumah Allah, dan berusaha untuk berada pada urutan pertama.

Kawan…
Masih terlalu jauh, jika kita membandingkan diri kita dengan mereka. Namun, kita juga tetap harus bersemangat untuk meneladani mereka. Berusaha semaksimal mungkin agar dapat menunaikan shalat wajib lima waktu di masjid, sebagai bukti kejujuran dalam iman kita. Mungkin awalnya harus dilatih bahkan dipaksa terlebih dahulu. Jika sudah terbiasa, maka kehadiran kita ke masjid akan menjadi kebutuhan hidup sebagaimana kebutuhan kita terhadap makan dan minum setiap hari.

Semoga Allah selalu memudahkan kita untuk membuktikan keimanan kita, diantaranya dengan selalu maelangkahkan kaki ke masjid, menghadiri rumah Allah dalam rangka menunaikan shalat lima waktu secara berjamaah. Wallahu a’lam.
===============
This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Rekomendasi Artikel: