Hikmah

JALAN MENUJU HUSNUL KHᾹTIMAH

Oleh : Dr. H. Uril Bahruddin, M.A

Dalam cerita isrāῑliyāt disebutkan kisah seorang ahli ibadah yang telah menghabiskan masa tujuh puluh tahun untuk beribadah kepada Allah. Pada suatu malam datang seorang perempuan berparas cantik mengetuk pintu tempat ibadahnya, dengan harapan sang ahli ibadah itu memu menerima dan membukakan pintu baginya. Ternyata sang ahli ibadah tidak bergeming, dia tetap khusyu’ beribadah dan tidak mempedulikanya, perempuan itupun pergi meninggalkan tempat itu.

Sebentar kemudian, tiba-tiba sang ahli ibadah itu bangkit melihat perempuan itu dan dalam hatinya muncul hasrat untuk mendekat kepadanya. Dipanggilnya perempuan itu dan tinggallah bersamanya selama tujuh hari di tempat ibadahnya melakukan kemaksiatan –na’ūdzu billāhi min dzālik-. Ketika ingat saat-saat menikmati ibadah dan kedekatannya dengan Allah yang ditinggalkan selama tujuh hari, ahli ibadah itu menyesali perbuatannya. Dia menangis dan nampak kesedihan terlihat di raut wajahnya.

Diapun berjalan meninggalkan tempat ibadahnya dan tidak tahu apa yang harus dilakukan, hingga sampai pada sebuah tempat penampungan orang buta dan bergabung bersama mereka. Tempat itu dikeloka oleh seorang pendeta, tiap hari sang pendeta mengirim makanan untuk sepuluh orang buta yang tinggal di penampungan itu. Pada hari berikutnya, datanglah utusan pendeta membawa sepuluh potong roti sebagaimana biasanya. Karena ahli ibadah tadi berada di tempat itu, -tanpa disadari oleh utusan pendeta- dia juga mendapatkan bagian sepotong roti yang dengan demikian mengurangi jatah untuk satu orang penghuni lainnya.

Si buta yang tidak mendapat bagian roti itu berteriak: “Mana bagian untuk saya?”, utusan pendeta menjawab: “Sudah saya bagi semua untuk kalian”. “Biarlah saya malam hari ini tidur dalam keadaan lapar”, sahut si buta. Ahli ibadah pelaku maksiat itu sadar diri dan menangis, kemudian memberikan sepotong roti yang dipegangnya kepada si buta, seraya mengatakan dalam dirinya: “Sayalah yang lebih berhak untuk kelaparan pada malam ini, karena saya telah bermaksiat kepada Allah sementara dia orang yang taat”. Dilaluinya malam itu dalam keadaan lapar yang luar biasa hingga ia merintih kesakitan dan akhirnya Allah memerintahkan malaikat maut untuk mencabut nyawanya.

Malaikat rahmat dan malaikat adzab berbeda pendapat soal status laki-laki yang baru saja dicabut nyawanya itu. Malaikat rahmat mengatakan: “Laki-laki itu lari dari dosa dan perbuatan kemaksiatannya menuju tempat ketaatan untuk bertaubat”. Malaikat adzab pun memiliki alasan: “Justru dia adalah pelaku kemaksiatan”. Kemudian Allah memerintahkan untuk menimbang ibadahnya selama tujuh puluh tahun dengan kemaksiatannya selama tujuh hari, ternyata hasilnya kemaksiatan selama tujuh hari lebih berat daripada ibadahnya selama tujuh puluh tahun.

Kemudian Allah memerintahkan kembali untuk menimbang kemaksiatannya selama tujuh hari dengan sepotong roti yang diberikannya kepada si buta. Ternyata sepotong roti itu lebih berat dari kemaksiatannya. Akhirnya laki-laki itu diangkat oleh malaikat rahmat dan dimatikan dalam khusnul khatimah karena sepotong roti.

Kawan…
Cerita di atas memang kisah isrāῑliyāt, namun banyak kisah serupa yang diriwayatkan dari rasulullah saw. dalam hadis shahih, seperti kisah tentang orang yang telah membunuh 100 orang yang akhirnya dirahmati oleh Allah swt. Kisah di atas juga dikuatkan oleh banyak ayat al Quran yang menceritakan tentang keberuntungan bagi orang-orang yang mampu mengalahkan nafsunya yang selalu mengajak untuk menahan diri dari berinfaq dan bersedekah, diantaranya firman Allah swt.: “Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung” (al Hasyr:9).

Jalan menuju kebaikan itu sangat banyak, pintu taubat itu tetap terbuka selama nyawa belum dicabut. Menghilangkan sifat kikir dalam hati meskipun hanya dengan sepotong roti ternyata bisa menjadi jalan mendapatkan kebaikan, bahkan jalan merubah sū’ul khatimah menjadi husnul khatimah. Merelakan hak kita untuk saudara kita meskipun pada saat yang sama kita sangat membutuhkannya adalah sifat yang sangat dipuji oleh Allah, akan mengantarkan seseorang menjadi orang yang beruntung. Wallahu a’lam
===============
This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Rekomendasi Artikel: