Keislaman

Keislaman

Ketika Ustad Menjadi Pergunjingan


Ustad itu bukan ulama, tetapi kalau ulama itu pasti ustad. Ulama itu pewaris para Nabi, karena kedalaman ilmu agama, keluhuran budi pekerti, dan ketajaman spritualnya. Oleh karena itula ulama itu akan menjadi rujuakan setiap orang dimana saja, dan kapan saja. Biasanya, ulama itu memahami Al-Quran, Hadis, Tafsir, serta beragama ilmu agama. Dan, salah satu perangkat ilmu yang wajib di ketahui oleh seorang ulama adalah bahasa Arab (bahasa Al-Quran). Mereka-pun harus bertahun-tahun menjadi santri, demi mendapat dan memperoleh ilmu yang bermanfaat.

Ahmad Adzim

https://www.facebook.com/azzimi

 

Orang yang ngaji dipesantren disebut dengan santri. Seorang santri bukan hanya menuntut ilmu agama, lebih dari itu seorang santri harus mampu meng-aplikasikan ilmu agama dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai pribadi, antau nggota masyarakat. Oleh karena itulah, seorang santri harus memulyakan gurunya. Begitulah Rosulullah SAW mengajarkan. Semakin dalam ilmu agamanya, akan semakin santun sikap dan budi pekertinya.

 

Hampir semua pemimpin-pemimpin bangsa ini merupakan jebolan pesantren, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asaary, KH Wahab Hasbullah, KH Sidiq Jember, . Bahkan keduanya pernah nyantri di tanah suci. Sebagian dari mereka pernah berguru kepada Syekh Sholih Darat, kharismatik yang pernah  bertahun-tahun bermukim dan menjadi pengajar di tanah suci Makkah.  

 

Wajar, jika kemudian pribadi-pribadi santri-santri benar-benar mencerminkan isi dan kandungan kitab suci. Walaupun para santri itu hafal Al-Quran dan hadis Rosulullah SAW, tetapi mereka tidak mengobral firman Allah SAW dan dawuh Rosulullah SAW sembarangan. Tetapi, mereka berusaha, bagaimana bisa menjadi teladan, baik tutur maupun budi pekertinya. Bahkan, gagasan-gasan mereka bersifat visioner untuk kemaslahatan ummat, bukan pragmatis.

 

Santri-santri itu bersikap sederhana, merakyat, tetapi ilmu dan wawasanya mendalam. Setiap untaikan kata bagaikan mutiara nan penuh makna. Itulah sosok santri yang sesungguhnya. Se-iring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, tehnologi, dimana santri/ustad saat ini semakin banyak, tetapi tidak memiliki ilmu agama yang luas. Bahkan, bisa dikatakan, apa yang disampaikan itu hasil dari hafalan (naskah) yang sudah disediakan, sehingga sang Ustad tidak menguasai materinya dengan baik. Bahkan, bacaan Al-Quran (arab) nya, mencerminkan sosok yang tidak pantas menjadi seorang santri.

 

Dengan istilah lain, ustad sekarang banyak yang abal-abal, bisanya ngoceh di depan kamera dengan busana seperti para ulama, tetapi dia bukan ulama. Ulama itu pewaris para nabi, sikap dan budi pekertinya selaras dengan ajaran Nabi SAW, mereka memili khosyah (takut) kepada Allah SWT.

 

Jangan menyakiti fisik, ulama itu tidak akan mau menyakit sesama muslim, baik itu teman, kerabat, tetangga, apalagi sesama muslim lainya. Mereka mengerti makna hadis Rosulullah SAW yang artinya:’’barang siapa yang ber-iman kepada Allah SWT dan hari ahir bertuturlah yang baik, atau lebih baik diam’’ (HR Bukhori). Dalam hadis lain, Nabi SAW pernah mengatakan:’’sebagian dari baiknya islam seseorang itu ialah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna’’ (HR Malik).

 

Sangat disayangkan jika ada sosok ustad, berceramah tetapi isinya provokator, menghujat, bahkan mengkafirkan sesama muslim. Ada juga, cermah yang isinya hanyalah guyonan yang isinya (tidak bermanfaat). Bahkan, ceramah yang isinya hanyalah penampilan busana (fashion). Lebih mengerikan lagi, ceramah agama, tetapi sang penceramah tidak memahami agama itu sendiri. Inilah yang terjadi di tenggah-tenggah masyarakat. Artis berlomba-lomba disulap menjadi ustad, dipaksa menghafalkan teks-teks, kemudian dijual (pubulikasikan) semata-mata untuk komersial. Dengan istilah lain, banyak ustad saat ini yang bukan santri, tetapi hasil dari sebuah industry untuk menjadi mesin pencetak uang. Dan, inilah yang menjadikan bumi pertiwi semakin panas. Tetapi, tidak semua begitu begitu, masih banyak sekali santri-santri yang tidak menjadi ustad, tetapi mereka tetapi konsisten dengan ajaranya, karena tujuan hidup mereka adalah menjadi penjaga dan penerus agama Rosulullah SAW.