Ahlaq

Ahlaq

Jangan Ada Celaan di Rumah

Biasanya, aku tidak begitu perduli dengan omelanku pada Azusa pada pagi hari, “ osoi ne….( lama amat sih ), atau kenapa sih Azusa selalu lama deh ?"

Pernah sih aku bertanya dalam hati, benarkah sikap ku , kata kataku pada anakuku. Tepatkah ku lontarkan kata kata itu saat ia bergerak lambat pada pagi hari ?

Tapi aku tidak bergitu perduli dengan pertanyyaan itu.

Aku tidak begitu ambil pusing. Bahkan aku tidak begitu ambil pusing saat makan malam tadi, anakku dengan riang gembira bilang, “ aku di bilang biri oleh temanku. Mama tau apa itu biri ? Misalnya nih yah, anak ke satu dan anak ke dua larinya cepat .Anak ketiga paling lambat, anak yang ke tiga itu di bilang ‘ biri ‘.Tadi di Tk, aku di katain ‘ biri ‘ sama Askachan, Kentokun, dan Ibarukun.”

“ Kenapa ?” Tanyaku dan suami.

“ Karena aku makannnya paling lambat, “ jawab dia sambil tertawa geli.

Teringat sport festival beberapa hari yang lalu anaku larinya paling lambat di antara dua temannya yang lain.

‘Jangan jangan dia sering di ejek biri oleh temannya,’pikirku.

Ah, selama dia tidak ambil pusing dengn ejekan temannya, aku bisa tenang. Buktinya dia menceritakan itu dengan gembira sambil tertawa.. Toh temannya yang lainpun ada yang sering nangis karena di ejek .Tapi Azusa cuek aja tuh. Jadi aku tak ambil pusing lagi.

Sampai tadi pagi sesaat sebelum bis sekolah menjemput, saat dia tergesa gesa membetulkan sepatunya yang terbalik berlari kepintu bersamaku.

“ Azusa ini memang lambat !” kata ku kesal di depan azusa pada Papanya

Wajahnya cemas. Takut di marahi. Aku bisa merasakan jantungnya berdegup kencang.


Tiba-tiba aku iba sekali. Aku jadi ingat ejekan temannya di sekolah ‘ biri’ ( lambat ) kata temannya. Dan ternya aku ibunya di rumah mengatakan hal yang sama.

Pantaskah aku ibunya berkata seperti itu pada anakku ? pertanyaan berputar putar cepat dalam benakku saat berlari bersamanya menuruni tangga menuju pemberhentian bis sekolah.

Berjalan lunglai kembali kerumah dengan penyesalan. Aku berdiam diri di kamar. Memikirkan kesalahanku.

Aku ingat dulu aku juga tidak suka kalau dimarahi dengan menggunakan label ‘ malas ‘ misalnya.. Yang akhirnya aku jadi benar benar sesuai dengan label itu. Betapapun ku bebrusaha untuk merubah diri dan berusaha sekuat tenaga, tapi mungkin memang kemampuanku terbatas, tetap saja aku di marahi dengan label ‘malas’.Akhirnya aku jadi terbiasa dengan label itu dan benar benar jadi malas. Karena betapapun ku berusaha kalau hasilnya tidak seperti yang di harapkan, tetap di labeli ‘malas’.

Mungkin kini aku bisa menghayati Azusa. Mungkin dia sudah berusaha untuk cepat sesuai dengan kemampuannya. Tapi karena memang dia masih 4 tahun, ‘ cepat’nya dia dan ‘cepat’ versiku jadi beda.

Mungkin bagi dia , dia cukup cepat. Tapi mungkin aku mengharap kan hasil yang lebih dari kemampuannya.

Kalau aku selalu bilang lambat, takutnya nanti dia jadi terbiasa dengan label itu dan akhirnya jadi begitu. Bukankah kata kata seorang ibu adalah doa ?


Waktu aku bilang, ‘ Azusa ini memang lambat ‘. Bagaimana perasaan dia yah. Mungkin ia teringat ejekan teman temannya di sekolah. Dan ia mendapati ibunya mengatakan hal yang sama di rumah . Ah kasihan sekali .

Dan yang paling menyedihkan adalah , hal itu terjadi pada pagi hari saat meninggal kan rumah menuju sekolah. Saat akan memulai setangah hari penuh tanpa ibunda.

Tiba tiba aku menangis sedih menyesal. Harusnya aku adalah tempat pulangnya dari segala yang tidak mengenakan di luar. Harusnya di rumah tidak ada kata kata menyakitkan yang mungkin ia dengar di sekolah. Harusnya rumah adalah tempat paling nyaman, dimana ia bisa terbebas dari segala yang tak mengenakkan di luar. Tempat pulang, tempat mengistirahatkan tubuh, hati dan pikiran. Tempat dimana tidak ada ejekan, celaan, atau panggilan yang menyakitkan.

Kata suamiku, “ di rumah tidak ada persaingan.” Rumah adalah tempat dimana tidak ada yang perlu disembunykan, karena semua sudah tau yang disembunyikan. Dan tidak ada seorangpun yang harus berlomba-lomba menangkap cinta , karena semua mendapatkan cinta yang sama.

Aku berjanji pada diri sendiri untuk tidak memakai label label lagi saat memarahi. Memarahi saat diperlukan boleh, tapi jangan sampai menyakitkan hatinya. Seperti membanding-bandingkan dengan temannya, anak orang lain ataupun saudaranya.Semoga kita bisa mengambil pelajaran dan menjadi ibu yang lebih baik. Amin.

Rekomendasi Artikel: