Ahlaq

Ahlaq

Mereka Menyerahkan Dirinya


Malam itu hening, di sebuah rumah di daerah Palestina, seorang lelaki terjaga dari tidurnya. Wajahnya mengkilat, terlihat keringat melekat membasahi kening dan tubuhnya. Dadanya naik turun bergerak memburu deru nasaf, seolah paru-parunya tidak cukup ruang menampung udara.. wajahnya sedikit pucat. Terlihat jelas ia gelisah.. ini bukan mimpi pertamanya. Mimpi yang membuatnya selalu terjaga dari tidurnya.. Mimpi yang semakin membuatnya gelisah. Bagaimana tidak, tidak sekali ia bermimpi hal yang sama. Malam masih tersisa, Ia bergegas bersimpuh mengadu pada Tuhan Yang Maha Esa memohon petunjukNya…

*****


Di belahan bumi lainnya berjarak 1500 km dari tempat itu terlihat pemuda. Ia tinggal bersama ibu yang sangat menyayangi dan disayanginya di daerah yang terpencil, jauh dari penduduk. Pagi itu pemuda ini seperti biasa membantu aktifitas ibundanya. Mereka sudah lama tinggal hanya berdua. Menghabiskan waktu bersama dengan bekal keimanan pada Tuhan yang menancap kuat di dada-dada mereka. Keimanan yang membuat mereka bisa bertahan didaerah yang tandus, kering dan jauh dari manusia lainnya. Mereka yakin suatu saat suami dan ayah mereka akan datang berkumpul dengan mereka.

*****

Hari masih pagi, namun lelaki itu sudah sibuk menyiapkan dirinya. Ia sedang bersiap untuk melakukan perjalan jauh. Masih ada sisa gelisah di sudut hatinya. Tapi, kekuatan Iman telah menuntunnya untuk segera bergegas melakukan tugasnya. Ya, hari itu ia akan menempuh perjalanan yg jauh, menemui istri dan putra tunggalnya yang sudah cukup lama ditinggalkannya, melaksanakan tugasnya. Namun kenapa ia gelisah, bukankah seharusnya ia bahagia karena akan bertemu dengan keluarganya.. ternyata mimpinya semalam masih sangat membekas.. mimpi yang baginya merupakan titah yang harus dijalankan… mimpi di luar logika manusia, yang membenturkan perasaannya sebagai seorang ayah dan seorang ‘utusan’..

****

Terik matahari menyengat. Sesekali debu dan pasir menderu diterjang angin. Hanya padang yang tandus sepanjang mata memandang. Namun itu tidak menyurutkan langkah lelaki itu. Sesekali ia berhenti untuk menyeka peluh dan memastikan arah jalan.

Cukup lama ia tertegun ketika dilihatnya sebuah rumah sederhana. Sejurus kemudian ia percepat langkahnya menuju rumah itu. Persis seperti dugaannya, di dalam rumah itu hanya ada dua penghuni. Segera ia temui keduanya yang tak lain adalah istri dan anaknya. Ia hanya sesekali datang kepada mereka. Kali ini ia datang tidak sekedar melepas rindu.. Setiap berkunjung ia melihat anak satu-satunya semakin tumbuh menjadi pemuda yang gagah. Di hatinya ia berguman, lelaki inilah kelak yang akan meneruskan perjuangannku.. tapi… buru-buru ia tepis keraguannya.
Hari sudah menjelang sore. Selepas mereka saling bercengkrama melepas rindu, lelaki itu memanggil putranya. Sengaja ia mengajak putranya untuk berdua saja menjauh dari istrinya. Ia ingin membicarakan sesuatu yang selama ini mengganjal dihatinya yg merupakan tugas baginya, hanya berdua dengan putranya. Sejenak ia tertegun memantapkan hati dan mencoba mentata apa yang akan dikatakannya. “Ismail anakku, aku diperintahkan Allah untuk menyembelihmu” mantap kalimat itu meluncur.. sejenak hening.. bagaimana tidak, sebagai seorang ayah, Ibrahim sudah sangat lama mengidamkan dikaruniai anak. Sudah puluhan tahun ia bedoa. Kini setelah ia punya seorang anak lelaki yg gagah, yang diharapkan menjadi penerusnya oleh Allah diuji untuk dikorbankan dan disembelih oleh dirinya.

Pemuda yg diajak bicara tidak berekspresi. Wajahnya tetap tenang tidak menampakkan kekagetan dan kekhawatiran. Tanpa ragu ia berkata “Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepadamu. Engkau akan menemuiku insya-Allah sebagai seorang yang sabar dan patuh kepada perintah”.. Jawaban yg luar biasa keluar dari mulut pemuda itu….

****

Ribuan tahun yang lalu peristiwa itu nyata terjadi. Allah telah menuliskan dalam tinta emas sejarah perjalanan hambaNya yang beriman. Perjalanan Iman hamba Allah yang sarat dengan ujian. Tidak mampu kita bayangkan bagaimana pengorbanan Ibrahim AS dan keluarganya untuk Allah SWT semata. Tidak hanya harta, tenaga yg mereka korbankan, bahkan nyawa dari anak yg sangat disayangi pun rela nyaris dikorbankan. Tengok pula Ismail AS, sebagai seorang anak yg patuh taat pada Allah dan perintah ayahnya, hanya semata-mata karena keimanan kepada Allah yg membuatnya mantap bersedia mengorbankan dirinya. Sungguh peristiwa yg luar biasa.. mereka mengorbankan dirinya pada Allah semata.

Lalu tengoklah diri kita,.. rasanya sangat jauh dari apa yg telah dilakukan keluarga Ibrahim AS. Mungkin sudah berapa Idhul Adha kita lalui tanpa sesuatu yang membekas pada keimanan kita.. jangankan nyawa dan sesuatu yg paling kita cintai pun belum tentu akan rela kita kurbankan pada Allah semata.. dan tengoklah diri kita di Idhul Adha kemaren, apakah kita sudah berusaha mencoba mendekat kepadaNya dengan melaksanakan ibadah Qurban karena semata kita beriman kepada Allah SWT.

Ah.. rasanya diri ini sudah sangat jauh bergelimah dosa.. lalu pantaskan kita membanggakan diri dihadapanNya… sungguh, mungkin ujian hidup kita masih terlalu ringan jika dibandingkan ujian keluarga Ibrahim.. tapi sudah beratus kali kita terjebak dengan ujian itu…

Duhai Allah pencipta langit, bumi dan isinya… ampunilah kami, ampunilah kelemahan kami, kuatkanlah kami untuk senantiasa mendekat bertaqarrub kepadaMu.. jadikanlah kami orang-orang yg beriman.. hunjamkanlah dalam dada kami keimanan sebagaimana orang-orang yg shalih.
Wahai dzat yg menentukan setiap denyut nadi kami… janganlah Engkau sesatkan hati kami sesudah mendapat petunjuk, berilah kami karunia. Engkaulah yang maha pemurah. Amin.