Fiqih Wanita

Karena Hidup Ini Adalah Karya yang Dicipta

Kita diperintahkan untuk terus beramal dan berkarya. Allah melihat proses dan kesungguhan kita beramal, sedang hasil kita serahkan pada Allah

Pernahkan Anda mendengar keluhan seperti ini, “Memang sudah suratan takdir, biarlah usaha yang kita dirikan berkembang apa adanya, bahkan kita patut bersyukur usaha kita tidak tutup.”

Atau keluhan ini, “Wah, ingin bagaimana lagi, mungkin takdir kita tidak bisa berbusana Muslimah, kantor melarang kita memakainya. Kalau keluar kita mau kerja apa? Bukankah mencari kerja itu sulit?”

Keluhan-keluhan tersebut mungkin pernah terlontar dari sebagian kita. Sebagai Muslimah terkadang langkah kita terhenti di tengah jalan. Banyak faktor yang melatarbelakanginya, tapi sayangnya ada yang menjadikan takdir sebagai terminal akhir tuduhan dari keterpurukan. Jarang yang mau berlapang dada melihat kegagalan yang menimpa dari sudut kelemahan diri, sehingga mencari-cari alasan pembenaran yang justru melemahkan iman.

Anggapan bahwa wanita lemah secara fisik dibanding pria memang tidak bisa dipungkiri dan itu takdir, namun lemah ruhiyah itu bukan takdir. Karena Allah menciptakan manusia, baik laki-laki dan wanita, pada esensinya hanya untuk beribadah kepada-Nya. Dan pengamalannya disesuaikan dengan kodratnya masing masing.

Sejatinya, banyak di antara kita yang kurang paham akan pengertian takdir itu sendiri. Celakanya, tak sedikit yang menggunakan kata takdir untuk bersembunyi dan menghindar dari kewajiban agama yang harus diemban.

Bukan takdir namanya bila tak bisa berbusana muslimah, lantaran tempat kita bekerja melarangnya. Bukankah bumi Allah itu luas dan rezeki Allah itu tersebar di muka bumi? Tergantung bagaimana kita mencarinya. Sesungguhnya, iman kitalah yang memegang peranan apakah kita sanggup untuk mempertahankan busana muslimah atau tidak.

Dan kita tidak bisa sepenuhnya bersembunyi di balik kata takdir, bila usaha atau sekolah yang kita rintis tidak berkembang sebagaimana mestinya. Kita jarang mengakui kegagalan dan berkelit atas nama takdir, untuk ketidakoptimalan kita dalam mengelola suatu usaha. Kalau kita mau bersabar dan berbenah diri, insya Allah, keberhasilan akan kita raih. Bukankah kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda?

”Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Ar-Ra’d [13] : 11)

Hidup Adalah Pilihan

Pilihan adalah kata kunci dalam setiap keadaan hidup. Kita harus menghadapi pilihan-pilihan hidup. Dan memang hidup adalah berbilah pilihan. Kebaikan akan bersaing dengan kejahatan, kebenaran akan bersaing dengan kebatilan, putih akan bersanding dengan hitam, keindahan akan bersaing dengan keburukan, kegagalan akan bersanding dengan keberhasilan.

Dan yang pasti hidup itu tidak abu-abu. Maksudnya, tidak ada wilayah samar-samar. Jika kita tak berada dalam kebenaran, maka sudah pasti ada pada bagian kebathilan. Jika kita tidak baik, maka kita adalah jahat, pun jika kita tidak menyukai keindahan, maka sesungguhnya kita menyukai keburukan.

Pada sisi lain, bukankah Allah telah memberi fasilitas dan perangkat pada manusia agar tak salah jalan dalam menapaki kehidupan? Ada panca indera untuk memperoleh informasi. Ada akal untuk mengolah, menganalisa, dan membuat kesimpulan dari yang ditangkap pancaindra. Hati nurani juga bisa merasakan kebenaran. Wahyu atau al-Qur`an adalah petunjuk yang pasti bagi manusia berupa jalan kebaikan dan keburukan.

Demikian pula bila kita memilih jalan keberhasilan sebagai sunnatullah yang telah ditetapkan, seperti pandai kalau rajin dan sukses jika menjalankan bisnis dengan sungguh-sungguh.

Namun apabila kita telah berusaha menempuh jalan itu, tapi hasilnya tidak sesuai dengan keinginan, berbaik sangkalah pada takdir Allah. Karena pada bagian-bagian takdir yang tak pernah kita sukai, sejatinya adalah tetap menjadi takdir-takdir terbaik yang telah diciptakan-Nya, untuk mendidik kita menjadi semakin baik.

Teruslah Beramal
Janganlah berhenti bila bertemu kendala dalam langkah amal saleh kita. Pada keadaan tertentu, kita seakan dipaksa untuk menerima takdir yang telah ditetapkan. Tetapi janganlah menyerah, karena kita diperintahkan untuk terus beramal dan berkarya. Karena Allah melihat proses dan kesungguhan kita beramal, sedang hasil kerja kita serahkan pada Allah.

Seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak cukupkah kita menyerahkan diri kepada catatan takdir saja, dan tidak perlu beramal?”

Maka beliau bersabda: “Beramallah, karena masing masing akan dimudahkan. Adapun orang-orang yang ditulis berbahagia, maka mereka akan dimudahkan melakukan amalan-amalan orang orang yang berbahagia. Sedangkan orang-orang yang ditulis celaka, maka mereka akan dimudahkan melakukan amalan-amalan orang orang yang celaka. Kemudian beliau membaca ayat, ‘Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar’.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Istri-istri Rasulullah, putrinya dan para shahabiyyah yang hidup di masa itu begitu bersemangat melakukan amal saleh, meski tidak sedikit kendala yang merintangi. Mereka tidak berdiam diri menggantungkan hidupnya pada takdir. Bahkan Fatimah putri Rasulullah yang telah ditetapkan menjadi penghuni surga, begitu getol beramal. Beliau merelakan kalung pemberian ibunda Khadijah untuk perjuangan Islam.

Zainab al Jahsy istri Rasulullah tekun menenun kain, kemudian hasil kerajinan tangannya disedekahkan. Begitupun istri-istri Nabi lainnya dan para shahabiyyah, sangat suka beribadah dan beramal saleh, walau harus meretas rintangan yang melelahkan jiwa.

Janganlah menyerah dengan kendala yang menghadang. Teruslah membuat proyek-proyek akhirat, apapun posisi kita saat ini. Baik sebagai ibu rumah tangga yang melahirkan generasi Rabbani yang unggul, guru yang mendidik muridnya menjadi mujahid yang tangguh, pengusaha yang menyuplai dana bagi perjuangan Islam atau ladang amaliah lain yang menjunjung tinggi tegaknya peradaban Islam.

Teruslah beramal! Karena hidup ini adalah karya yang dicipta, misi yang dilakukan, ruang ikhtiar dioptimalkan. Sedang masa depan adalah hal gaib yang secara sunnatullah tercipta dari apa yang kita lakukan saat ini. Masa depan adalah tujuan atau visi yang dituju dalam rentetan perjalanan hidup dari waktu ke waktu. Sedang sesuatu yang telah terjadi atau masa lalu, baik itu berupa kegagalan dalam hidup atau keberhasilan, dijadikan cermin dan ibrah untuk melangkah ke depan.* Sri Lestari, Ibu Rumah Tangga tinggal di Yogyakarta. SUARA HIDAYATULLAH, MEI 2011

Add comment


Go to top