Ibadah

Ibadah

Lelaki Yang Tak Kenal Lelah


“Assalaamu’alaikum, Bahtiar!” serunya di telepon pagi itu.

Saya terperanjat kaget. Bukankah Uncle? “Ya, Uncle!” seru saya kegirangan. “Bukankah Uncle masih dirawat di rumah sakit?”

Saya lalu membayangkan laki-laki itu dengan berbagai selang menempel di tubuh dan pembalut kapas menutupi hidung dan mulutnya sedang berbicara lewat HP di sebuah rumah sakit di Singapura. Hanya untuk menelepon saya di Surabaya.

“Apa? Saya sehat, Bahtiar. Sebentar lagi juga sembuh!” serunya di balik telepon. Suaranya tak berubah. Tetap riang, keras, energik, dan penuh semangat. Seperti tidak sedang sakit. Padahal, ia sedang menjalani kemoterapi untuk mengeyahkan sel-sel kanker dalam darahnya. Leukimia, penyakit mematikan itu, telah bersarang di pembuluh-pembuluh darahnya dan baru diketahui setelah sedemikian parah.

“Launching Spiritual Parenting di ESQ tidak jadi awal Nopember ini. Pak Ary Ginanjar tidak bisa. Jadi, diundur tanggal 27 Desember!” serunya sungguh. Saya melihat buncah kegembiraan pada suaranya. “Insya Allah, kemo saya tinggal satu kali lagi. Itu berarti saya bisa hadir di acara launching itu. Saya nanti dari Jakarta setelah acara akan langsung ke Surabaya. Saya sudah rindu pada kamu, Farida dan anak-anak!”

“O ya, Uncle?” jawab saya tak kalah bahagia. Pertemuan yang juga saya rindukan sejak beliau dirawat di Singapura dua bulan berselang. “Syukurlah. Kami tunggu Uncle!”

“Ya. Dan kamu harus ikut tanggal 27 Desember itu. Boleh?” tanyanya.

“Oh, bisa Uncle. Kalau saya diundang juga, saya usahakan.”

“Lho, kamu datang bersama saya dan Ibu Ima.”

“Baik, Uncle. Saya akan hadir.”

“OK. Salam sayang Uncle pada kalian dan juga teman-teman Surabaya, Gresik, dan Budi Mulia ya?”

“Ya, uncle. Saya sampaikan.”

“Assalaamu’alaikum!”

“Wa’alaikum salam warahmatullah!”

Klik!

Sunyi. Tetapi kata-kata Uncle masih terngiang di telinga saya. Tak ada yang berubah dengan laki-laki itu. Meski kanker menggerogoti tubuhnya, ia tetap saja penuh semangat dengan rencana-rencana. Seperti tidak sedang menghadapi sesuatu yang menakutkan. Seperti tidak sedang sakit. Seperti tersebut pada sebuah hadits, bahkan andai besok Kiamat sekalipun, saya yakin ia masih nekat menanam pohon hari ini.


***

Ia Manshor H. Sukaemi. Lelaki berdarah Blitar yang lahir dan menjadi warga negara Singapura. Sisa usia tuanya yang sudah menginjak 64 tahun ia abdikan untuk berkhidmah membangun sekolah alternatif untuk anak-anak muslim di PP Mambaul Hikmah Delanggu, Mojokerto, Jawa Timur. Tanpa dibayar. Bahkan, ia sendiri yang mencarikan dana untuk mewujudkan sekolah untuk anak-anak itu dari kolega-koleganya di Singapura dan Malaysia.

Selama di Delanggu, ia menolak menginap di rumah Pak Anam, orang paling dekat dengannya di sana. Ia memilih tidur di pondokan, berbaur dengan para santri. Padahal ia mantan anggota DPR Singapura, konsultan pada Nury Institute, sebuah organisasi pengembangan anak dan keluarga di Singapura dan Malaysia.

Saya mengenalnya pada awal 2007. Sebuah pertemuan yang tanpa disengaja di sebuah seminar pendidikan anak. Sebagai pembicara, ia menolak diberi fasilitas menginap di hotel. “Saya lebih baik menginap di rumah salah seorang dari kalian,” katanya. Saya pun mengajukan diri. Dan begitulah, ia menginap di rumah saya yang sederhana. Dari sanalah saya dan keluarga banyak berinteraksi dengannya – dan porsi paling banyak adalah berbincang tentang pendidikan anak. Anak saya kelima, Afa, adalah praktek dari hasil perbincangan dengannya selama ini.

Sejak pertama ia datang, kami sudah serasa seperti keluarga sendiri. Kami sekeluarga memanggilnya: Uncle M.

Sebelum puasa kemarin ia terbaring di rumah sakit Singapura untuk perawatan penyakitnya, yang sudah parah, tanpa ia ketahui sebelumnya. Atau lebih tepatnya tak pernah ia rasakan. Semua tertutupi oleh aktivitasnya yang sangat padat. Ia seperti tidak kenal lelah. Selalu bergerak. Selalu punya rencana-rencana. Kalaupun lelah terasa, ia hanya minta istirahat sebentar, untuk kemudian bergerak lagi.

“Saat seminar di Tuban beberapa hari sebelum ambruk itu, Pak Manshor sempat keluar darah dari mulutnya.” Pak Anam yang baru saja pulang menjenguk Uncle M di Singapura bercerita pada sebuah kunjungan ke rumah saya selepas Idul Fitri yang lalu. “Ah, ini karena gigi saya sakit, katanya. Lukman, teman kita Gresik itu, membawa beliau ke seorang dokter gigi, yang lalu memeriksa gigi dan juga membersihkan gusi beliau yang mengucur darah. Alhamdulillah, darah berhenti mengucur. Setelah itu, ya, Pak Manshor kembali mengisi seminar.”

Begitulah. Tak berapa lama, Uncle M lantas keluar darah lagi dari mulutnya. Seminar pun dihentikan. Ia lalu dibawa ke Delanggu untuk beristirahat. Rencananya pulang ke Singapura esok harinya ditunda hingga ia pulih.

Beberapa hari di Delanggu bukannya pulih keadaannya, melainkan malah tambah parah. Uncle M lalu minta dicarikan pesawat ke Malaysia. Ia berencana memeriksakan diri dan mendapatkan perawatan lebih intensif di Klinik Nury Institute, lembaga tempat ia mengabdikan diri selama ini. Maka esok harinya ia pun berangkat ke Malaysia seorang diri. Padahal, untuk berjalan saja sudah amat kesulitan. “Saya tak bisa membayangkan, kira-kira Pak Manshor bisa sampai ke tempat atau tidak?” kata Pak Anam, menggambarkan keadaan kala itu.

Tetapi, alhamdulillah. Berkat bantuan dari koleganya di Malaysia, akhirnya beliau bisa sampai juga ke Klinik Nury tanpa aral. “Andai kemarin terlambat satu hari saja, mungkin saya sudah tidak tertolong lagi,” kata Pak Anam mengutip cerita Uncle M. Tak berapa lama, ia dipindah ke rumah sakit di Singapura, agar bisa dekat dengan Bu Ima, istrinya.


***

Saya jadi teringat SMS Uncle M tanggal 16 Oktober 2008, pada hari Pak Anam dan rombongan datang ke Singapura. Mereka membezuk Uncle M yang mendapat ijin pulang sementara dari rumah sakit. Saya sebelumnya SMS beliau, mengabarkan tentang kedatangan Pak Anam dan permintaan maaf karena saya tidak bisa ikut menjenguk dirinya. Jawabannya sungguh mengejutkan saya. “OK. Thanks. Going to airport to pick Pak Anam.”

Subhanallah. Dalam keadaan sakit, Uncle M masih memaksakan diri menjemput Pak Anam?

“Bahkan Pak Manshor sendiri yang menyetir mobil!” jelas Pak Anam ketika bercerita pada saya. “Ia menjemput saya dan rombongan bersama Ibu Ima. Waktu saya tanya, kenapa nggak menyuruh orang lain? Pak Manshor bilang, ah nyetir mobil kan tinggal duduk saja. Saya masih bisa.”

Saya hanya bisa geleng-geleng kepala membayangkan seorang pengidap kanker leukimia, masih dalam perawatan dokter, menyetir sendiri mobil untuk menjemput saudaranya yang datang.

“Wah, kata Bu Ima, sebelum kami datang, Pak Manshor hari-hari terlihat pucat dan loyo tak berdaya,” lanjut cerita Pak Anam. “Tetapi, begitu kami datang, ia seperti seketika sehat. Semangatnya pulih. Dan gaya serta nada bicaranya seperti biasanya. Keras dan meledak-ledak. Kami bahkan diajaknya keliling kota Singapura. Ia juga yang menyetir. Diajaknya kami makan Sop Tulang kesukaannya. Dia pun makan dengan lahap, seperti tak sedang sakit dan tak ada pantangan. Ketika tiba di rumah, ia pun masih mengajak keliling Singapura naik MRT, kereta api listrik. Andai saya tidak bohong bahwa kaki saya bengkak, mungkin ia akan menemani kami naik MRT itu.”

Waktu ke Singapura sebelumnya, Uncle M pun mengajak saya ke Sop Tulang di belakang stasiun Kallang dan mengajak keliling Singapura naik MRT. Tetapi, acara keliling itu tidak jadi karena jadwal saya tidak memungkinkan saat itu.

“Yang membuat trenyuh adalah ketika kami pulang, Bahtiar,” kata Pak Anam menerawang. “Ketika mengantar ke Bandara Changi, Pak Manshor terlihat pucat dan tak bersemangat lagi. Seperti seorang yang ditinggalkan orang yang dicintainya. Rasanya saya tak tega melihatnya. Tetapi bagaimana lagi, saya dan rombongan harus kembali.”


***

Jum’at, 14 Nopember 2008, adalah hari yang tak pernah saya lupakan sepanjang hidup.

Pagi itu, Pak Anam menelepon dan mengabarkan bahwa Uncle M dalam keadaan kritis. “Bu Ima tadi pagi telepon saya, minta doa dari teman-teman semua.”

Saya pun menyebarkan informasi dan permintaan doa itu pada seluruh teman yang selama ini mengenal Uncle M. Tetapi perasaan saya sudah tidak enak. Dan perasaan tidak enak itu pun terjawab setelah sholat Jum’at. Pak Anam menelepon lagi ke rumah. Kali ini suaranya parau. Ia terisak. “Bahtiar, Pak Manshor sudah dipanggil menghadap Allah, tadi sewaktu kita sedang sholat Jum’at.”

Innaalillaahi wainnaa ilaihi rooji’uun.

Saya dan istri tak kuasa membendung tumpahan air mata sepanjang hari itu. Meski dalam diam, tetapi hati kami bicara. Betapa banyak kenangan bersama lelaki itu di rumah ini. Jika pagi, sehabis sholat shubuh di masjid kampung, kami sering berbincang di teras depan rumah dengan ditemani kopi ireng kesukaannya, serta pisang rebus. Sebuah perbincangan yang penuh nuansa ilmu. Tetapi, itu semua tak akan pernah dapat kami alami lagi. Karena Uncle M tidak akan pernah kembali lagi ke rumah ini.

Selamat jalan pejuang. Selamat jalan sahabatku, ayahku, guruku. Selamat jalan Uncle M. Semoga engkau mendapatkan sa’adah di akhirat seperti cita-citamu. Amin.