Muhasabah

Muhasabah

Hidup adalah memberi


Sering kita merasakan bahwa hidup itu penuh beban, hidup penuh tekanan. yang kaya menekan yang miskin, semua adalah tentang uang.
Kalau kita tanya, hidup untuk apa? Apakah hasil dari kehidupan kita?
Kebanyakan diantara kita, kalau ditanya: untuk apa kita bekerja? Jawabnya: Untuk mencari uang, untuk mencari makan, untuk mengasapi dapur rumah tangga.
Benarkah bahwa satuan hidup itu adalah uang? Benarkah hidup itu tentang uang?
Saya kemarin sempat ngobrol dengan teman saya Pak Indrayana,
"Pak, saya baru mengerti bahwa hidup itu bukan hanya tentang uang"
"Ya memang, hidup itu bukan tentang uang, tapi tentang love, tentang apa yang kamu cintai, siapa yang kamu cintai, mengapa kamu mencintai sesuatu, apa yang kamu cintai untuk kamu perjuangkan, dan bagaimana kamu mencintai dirimu sendiri dengan membuat dirimu bahagia"
Nah, kalau sampai hidup kita itu kepepet, merasa tertekan, adalah karena paradigma kita sendiri yang salah, bahwa pikiran kita mengatakan "Uang itu langka".
Mengapa uang itu sulit dicari?
Karena sungguh sulit mencari uang untuk kita. Oleh karena itu lebih baik kita mulai sekarang mencari uang untuk orang lain, demi orang lain.
Hidup adalah memberi
Sudah jelas petunjuk Tuhan bahwa "Manusia tidak hanya makan dari roti" oleh karena itu, kita jangan mencari makan untuk perut (diri kita) namun untuk mencari makan bagi jiwa kita (makanan jiwa = berbuat kebaikan).
Dengan demikian, kita hidup dengan cara memberi kepada orang lain. Berikan pertolongan kepada orang lain, Berikan solusi bagi masalah orang lain, Berikan pelayanan terhadap kebutuhan orang lain.
Marketing adalah bagaimana caranya kita melayani kebutuhan orang lain dan mendapatkan profit.
Bagaimana kalau orang berbuat jahat kepada kita?
Ingatlah bahwa akar dari kekuasaan adalah kepercayaan, akar dari kepercayaan adalah kepentingan orang lain.
Pada saat orang berbuat jahat kepada kita, apakah itu berbentuk salah paham, atau rasa curiga yang berlebihan, pengkhianatan, dan lain lain, maka sikap kita harus tetap baik kepadanya. Mengapa? Karena hanya dengan bersikap baik kepadanya, maka ada peluang ada kemungkinan bagi dia untuk suatu saat membutuhkan kita. Pada saat dia ada kepentingan tersebutlah maka kita akan memiliki kekuasaan terhadapnya.
Percuma kita mau ngomong apapun kepada orang yang sudah salah paham, sudah curiga, sudah emosi berlebihan, namun pada saat kita senantiasa besikap baik kepadanya, maka suatu saat dia membutuhkan kita (membutuhkan kebaikan kita), maka dia mulai memiliki kepentingan kepada kita. Itulah akar rasa percaya. Dia akan mulai percaya kepada kita, pada saat itu, kita memiliki kekuasaan. Akar dari kekuasaan adalah rasa percaya.
Bila kita bersikap jahat kepadanya, maka selamanya dia tidak akan percaya kepada kita, dan kita kehilangan kesempatan untuk memiliki kekuasaan. Selamanya kita akan kehilangan kekuasaan. Tidak ada peluang bagi orang lain untuk membutuhkan kita.
Hidup adalah mengetuk pintu orang lain
Kadang kita dengar pepatah "Ketuklah maka pintu akan dibukakan" dan kita heran, untuk apa kita mengetuk pintu?
Maksudnya adalah bahwa hidup kita itu, bagaimana cara kita hidup, adalah dengan berkomunikasi dengan orang lain, lewat mengetuk pintu hati mereka. Sungguh sulit bagi kita untuk hidup bila orang lain tidak percaya. Oleh karena itu, pada saat kita mengetuk pintu hati mereka, maka mereka akan percaya, dan membuat hidup kita lebih mudah. Segalanya menjadi beres pada saat orang lain percaya.
Bagaimana caranya mengetuk pintu hati?
Kita mengetuk pintu hati dengan hati. Kita membuka hati dengan hati.
Oleh karena itu kita harus mempertajam hati nurani kita.
Hidup adalah bukan untuk kita, kita hanya menjalankan tujuan Tuhan menciptakan manusia, yaitu untuk menolong sesama manusia.

++++++++++++ ++

Kalau aku meninggal hari iniĀ  tidak ada yang kusesali
Kalau aku dipanggil Tuhan hari ini tidak ada yang kutangisi
Kalau aku ditanya apa keinginanku hari ini, tidak ada lagi yang aku inginkan
karena Tuhan telah memberi terlalu banyak, karena Tuhan telah memberi petunjuk
Kalau aku harus meninggal hari ini, tidak ada lagi yang aku rasakan bedanya
kalau aku harus ketemu Tuhan hari ini, tidak ada lagi yang aku minta dariNya
Kalau aku diberi petunjuk olehNya, tidak ada lagi yang aku inginkan
karena Tuhan telah memberi jalan
dengan mengabulkan permohonan orang lain untuk mendapatkan bantuan
dengan memberikan permintaan orang lain
untuk mendapatkan pertolongan
dengan memberikan kebutuhan orang lain
untuk mendapatkan kebaikan
yang diharapkan Tuhan kepadaku

Bahwa hidup ini bukan untuk diri kita
namun untuk orang-orang lain
Sesungguhnya kita tidak memiliki hak apapun
namun sungguh besar rejeki Tuhan kepada kita
untuk orang lain
demi orang lain
dengan memikirkan orang lain
membantu orang lain

Maka sesungguhnya banyak sekali
jalan keluar dari persoalan
rejeki yang kita harapkan
dengan cara memikirkan orang lain

dengan membantu Tuhan
mengabulkan permintaan orang lain
itulah jalan hidup
itulah jalan rejeki