Muhasabah

Muhasabah

Saya Percaya Surga Ada di Telapak Kaki Ibu


Hari ini hari ke-3 anak keduaku demam. Kalau sampai hari ini tidak turun juga besok harus di bawa ke dokter. Syukurlah sore tadi sudah lumayan reda demamnya. Pagi tadi suhunya masih 38 derajat C. Agak khawatir juga, soalnya minggu sore mulai demam, baru senin malam diberi obat, turun sebentar suhunya naik lagi. Senin pagi sampai siang malah tidak turun-turun, padahal pagi sudah di kasih obat turun panas. Siang dikasih obat lagi, turun sebentar naik lagi.

Duhh. Biasanya demamnya tidak lama. Paling sehari saja. Dan tanpa bantuan obat. Kata Abinya, "mau tumbuh gigi mungkin". Tapi kok lama ya.. Nah dalam masa demam itu so pasti agak rewel, nangis terus, selalu minta gendong, malas makan dll dsb. Ditambah kakanya yang super aktif malah jahilin adiknya. Duh duh. Adik masih rewel, eh kakak BAB dan tidak mau dibersihkan kecuali sama Ummi. Adik ingin mimik sambil tidur, eh kakak malah guling-guling deket adik dan nendang-nendang. Adik teriak, "Oooooeeeeeee..." Ummi pusiiiiiiiiiiiiing Pppffhhh..

.

Kadang kesel dan mau meledak (memangnya kompor). Tapi hanya bisa gigit bibir n ngomel2 dalam hati. Kakak kan belum mengerti, dan Adik malah kasihan, dia juga sakit. Jadi terasa sekali kalau jadi ibu itu harus sabaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaar. Seperti dikatakan dalam surat Az Zumar ayat 10 bahwa pahala sabar itu tanpa batas. "Katakanlah (Muhammad), "wahai hamba-hamba-Ku yang beriman ! Bertaqwalah kepada Tuhanmu". Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Alloh itu luas. Hanya orang-orang yang bersabar yang disempurnakan pahalanya tanpa batas" (QS 39:10) .

Tapi kita sering bilang sabar itu ada batasnya. Masa pahalanya ingin tanpa batas tapi sabarnya dibatasi. Curang dong ah ! Hanya saja tidak mudah (setidaknya untuk saya). Padahal anak baru dua, itupun masih kecil-kecil. Seorang temen yang anaknya empat dan sudah ada yang sekolah pernah berkata, "apalagi kalau sudah bisa membantah, ujiannya lebih". Semoga Alloh menggolongkan saya sebagai orang-orang yang sabar. Makanya jadi saluuuuut pada para ibu yang telah berhasil membesarkan anak-anaknya dengan penuh kesabaran. Sungguh tidak ada apa-apanya dibanding diri ini yang baru 23 bulan jadi ibu.

Ditambah ibu-ibu jaman dulu belum menikmati fasilitas serba mudah jaman sekarang (air masih nimba, mencuci baju menggunakan tangan, menanak nasi manual, dll) Terutama untuk mama yang sudah sabar menjadi mama saya dan adik-adik saya. Sungguh saya kagum pada kesabarannya. Mama tidak pernah membentak, mencubit, memukul atau sekedar berkata kasar. Saya kadang jika sedang kesal sekali saya cubit bajunya kakak, atau diapersnya. Sekedar pelampiasan.

Saya selalu ingat pesan mama, "jangan mulai mencubit pada anak, nanti ketagihan" Saya punya adik yang rewel kalau sakit, bahkan sampai besar. Jika sakit ingin ditemani terus. Ada juga yang kalau sakit ingin dimasakin ini itu. Sampai sekarang saya tidak punya kenangan jelek tentang mama. Malah saya ingat pernah membuat mama menangis (maaf ya ma...) Jadi sekarang saya benar-benar introspeksi diri dan mengukur seberapa besar hati dan kesabaran saya. Lewat anak-anak, saya bisa melihat seberapa layak saya disebut ibu yang penyabar (dan ternyata masih sangat jauuuuuh).

Lewat mereka pula, saya bisa melihat bagaimana repotnya mama mengurus saya dan adik-adik. Betapa saya semakin cinta terhadap anak-anak, mama dan mamanya suami. Serta semakin kagum pada seluruh bunda di dunia. Jadinya saya tidak percaya kalau surga itu ada di telapak kaki ibu. Karena saya percaya jika surga ada di setiap senti tubuhnya.