Muhasabah

Muhasabah

Hidup yang Berbeda


Sebagian orang mungkin akan mengatakan bahwa hidup di daerah yang ‘jauh dari peradaban’ alias terpencil akan membosankan. Tidak usah membayangkan hidup di pedalaman hutan dan sebagainya, cukup di sebuah kota kecil yang minim fasilitas walau masih dalam tahap berkembang dan perlahan akan bertambah maju. Berbagai keterbatasan tersebut memang cukup membuat kaget dan langsung saja membandingkan dengan kehidupan sebelumnya di kota besar. Berbagai ketidaknyamanan begitu membayang di benak saya, pada awalnya. Saya membicarakan tentang kehidupan yang saat ini saya rasakan sekitar 4 bulan.

Awalnya saya memang menjadi salah satu dari sebagian orang tersebut. Saya membayangkan akan menghabiskan waktu saya sehari-hari di rumah saja, karena tidak bekerja, menanti kelahiran anak pertama, dan syukur-syukur bila ada rezeki untuk membeli seperangkat komputer saya bisa menulis lagi. Yah, begitulah yang ada di pikiran saya, dan secara tak sadar saya mempersiapkan diri untuk menghambat kemajuan diri saya sendiri dengan memiliki pikiran tersebut.


Terlepas dari memang minimnya fasilitas, walaupun tidak bisa dibilang terbelakang, kenyataan yang saya hadapi justru sangat berbeda. Saya bahkan merasa sangat terberdayakan dan dalam tempo beberapa bulan menjadi ‘orang baru’ saya justru menemukan kembali potensi-potensi yang ada pada diri saya, yang dulu ketika tinggal di sebuah kota besar sempat ‘tersimpan’ sementara karena layaknya di sebuah kota besar, sudah ada begitu banyak orang yang mampu mengerjakan ini itu.

Di daerah ini, sebuah kota kecil yang pertumbuhannya lumayan pesat, tak sampai seminggu saya menempati rumah baru, saya diminta untuk menjadi pembicara dalam sebuah pelatihan khusus muslimah, karena si panitia mendengar bahwa saya adalah salah satu anggota dan pengurus Forum Lingkar Pena. Waktu itu, pukul sepuluh malam, saya dikejutkan oleh permintaan tersebut yang disampaikan via telepon oleh seseorang yang sama sekali belum saya kenal. Dan saya diminta untuk mengisi acara itu keesokan paginya pukul delapan. Saya cukup kaget, namun akhirnya langsung menyanggupi. Ini kesempatan untuk memperkenalkan diri secara langsung kepada orang banyak sekaligus.

Menjadi ‘orang baru’ yang ‘terasing’ pastinya tidak enak, dan saya menghindari itu. Saya ingin segera menjadi bagian dari lingkungan baru dan asing ini. Jadilah setelah menunaikan salat subuh keesokan paginya saya terburu-buru menyiapkan bahan-bahan untuk disampaikan. Dan pada saat acara saya mengucapkan terima kasih pada panitia yang telah bersedia mengundang saya, memberikan sebuah kesempatan beramal bagi diri saya, sekaligus menjadikan momen tersebut sebagai perkenalan diri bagi saya, si orang baru ini.

Saya mendapati sebuah perasaan yang lain lagi ketika saya melewati bulan Ramadhan pertama kalinya nun jauh dari kota kelahiran. Di sini, setiap momen Ramadhan tiba, sebuah yayasan yang selalu mengkoordinir acara-acara massal untuk umat muslim biasanya mengundang ustad-ustad dari kota-kota lain untuk menjadi pengisi di berbagai acara yang dilaksanakan sangat padat. Kuliah dhuha tiap pagi, daurah atau pembekalan ruhiyah diadakan tiap Sabtu atau Ahad, belum acara kajian-kajian lain yang diadakan setelah isya’ pada hari-hari tertentu. Saya merasakan satu bulan tersebut (yang juga merupakan bulan pertama saya jauh dari ‘rumah’) berlalu dengan cepat dan ‘baterai iman’ saya terisi penuh. Sesuatu yang tidak saya dapatkan di kota besar tempat saya tinggal dulu.

Memang ada juga acara-acara demikian, walau tak sesering yang diadakan di sini. Tapi saya merasakan ghirah yang sangat berbeda. Sepertinya setiap kali ada acara (sepadat apapun) para peserta yang datang seolah tak mau ketinggalan. Saya bisa membayangkan betapa lelah si ustad yang dalam sehari bisa keliling kota kecil ini dan mengisi tiga sampai empat acara di tempat-tempat yang berbeda. Dan saya juga cukup kaget mendapati diri saya yang segera bisa menyukai dan menikmati keberadaan diri saya di tempat yang baru ini.

Memang sangat tidak mungkin kalau seseorang yang menempuh sebuah kehidupan baru tidak mengalami yang namanya homesick, atau ‘gagap budaya’ atau apalagi istilahnya. Demikian juga yang terjadi pada diri saya selama sekitar dua minggu pertama. Bahkan seorang teman baru saya mengatakan bahwa ia mengalami homesick selama sekitar setahun pertama. Lama sekali, pikir saya. Dan saya pun bersyukur bahwa lingkungan baru, teman-teman baru, dan kegiatan-kegiatan baru di sini justru menambah semangat pada diri saya dan bahkan menggali kembali potensi yang ada dalam diri saya.

Sekarang sudah bulan kelima saya berada di kota Sengata, Kutai Timur. Dalam seminggu ada beberapa hari saya terjadwal rutin untuk mengikuti kajian tadabbur quran, pengajian rutin pekanan, rapat organisasi, dan kegiatan tambahan lainnya. Hafalan hadits yang dulu terlupakan, kini bertambah, dan saya sedang memulai menghafal juz berikutnya dari alquran. Usia kehamilan saya pun memasuki waktu menunggu kelahiran, tapi saya akan sangat malu bila harus ‘kalah’ dari sekian muslimah yang juga hamil bahkan menggendong bayi masing-masing ke tempat aktivitas tanpa merasa terganggu.

Mungkin Allah memang sudah mengatur semuanya, menempatkan orang-orang yang dikehendaki di kehidupan yang berbeda dari sebelumnya dengan tujuan supaya mereka memperbaiki diri. Kalau memang begitu, saya benar-benar tak akan habis bersyukur bahwa Allah berkenan menjadikan saya dan suami sebagai bagian dari orang-orang tersebut, memberikan kesempatan untuk menjadi seseorang yang lebih baik dari sebelumnya. Kalaupun suatu perbaikan dan peningkatan keimanan itu perlu ditempuh sampai ‘hijrah’ ke tempat dan kehidupan yang begitu berbeda dari sebelumnya, rasanya itu suatu pengorbanan yang pantas. Semoga kami dapat menata terus hati-hati kami untuk menjaga keikhlasan dan keistiqamahan. Amin.