Muhasabah

Muhasabah

Pengabdian Seorang Umi


Kemaren saya mengunjungi teman saya yang baru melahirkan minggu yang lalu. Dia berasal dari Jordan. Dan saya telah banyak belajar tentang ilmu dan semangat kehidupan terhadap dia.

Namanya Su’ad, dia punya suami yang berasal dari Palestina dan telah mempunyai tiga anak laki-laki. Mereka datang ke negri ini, karena suaminya sedang belajar Phd. Di sini, saya hanya akan menceritakan bagaimana keteguhan dan kesabarannya saat akan dan setelah melahirkan bayinya yang ketiga, yang telah dinamai ‘Ahmed’.

Bayinya lahir saat semua orang sholat Iedul Adha, namun sebelum itu sejak tanggal 27 Desember dia sudah datang ke rumah sakit. Dia datang ke rumah sakit, karena sudah terjadi kontraksi. Hari pertama kontraksi terjadi setiap setengah jam, hari kedua terjadi setiap 10 menit dan hari ketiga kontraksi terjadi setiap 2 menit. Aku sendiri sebagai seorang perempuan yang pernah melahirkan, tidak kuasa untuk membayangkan bagaimana sakitnya yang dia derita selama tiga hari. Dulu waktu aku menghantarkan jundiku datang ke dunia ini, hanya 6 jam kontraksi, dan mungkin yang kontraksi setiap 2 menit itu tidaklah sampai 2 jam. Waktu itu saja rasanya sudah sakit luar biasa, dan aku merasakan itulah sakit yang paling sakit yang pernah aku alami. Namun…3 hari (72 jam) dengan menahan sakit yang seperti itu,mungkin kalau bukan ibu yang mempunyai keimanan dan kesabaran yang tinggi sudah putus asa menghadapinya.

Sebelum dia pergi ke rumah sakit, kami sempat bertemu. Dia bilang ke aku, ‘Aku akan telfon kamu jika aku masih hidup’ sambil diiringi senyum manis di wajahnya, tak ada rasa kekhawatiran dan ketakutan dalam wajahnya. Aku sempat memeluknya dengan erat sambil membisikkan ‘Sabar dan kuat ya sis, InsyaAllah Allah akan selalu menyertaimu’. Aku sempat termenung cukup lama setelah pertemuan kita waktu itu….mmm memang ketika seorang umi akan mengantarkan kehidupan untuk jundinya, umi sudah harus siap menerima semua resikonya, resiko itu tidak hanya sakit yang luar biasa (kaum laki-laki tidak pernah bisa berempati dalam hal ini), namun juga kematianpun siap dihadapi. Bagi seorang umi, kehidupan anaknya adalah kehidupannya, umi siap melakukan apapun untuk jundi-jundinya.

Akhirnya, ketika semua orang sedang merayakan Iedul Adha, dokter memutuskan untuk operasi, karena kontraksi itu telah menyebabkan dia kesakitan sekali dan melemahkan badannya. Su’ad hanya sempat telfon aku untuk mendoakan dia. Aku tanya kedia…apa yang bisa aku bantu, dan dia hanya berkata ‘just make do’a for me Rusyda, Iam very tired, do’a to Allah to give me power so I can give my life to my baby’. Aku hanya meneteskan air mata mendengar kata-kata dia yang begitu penuh dengan ketawaqalan kepada Allah.

Alhamdulillah, Operation sukses, dan babynya lahir dengan selamat, Temanku juga selamat. Namun, setelah melahirkan baby, tidaklah tuntas sampai di situ perkara seorang umi. Sang umi masih harus merasakan kesakitan yang tak tahu sampai kapan usainya. Seluruh badan seorang umi akan sakit semua dan dalam kondisi seperti itu, umi tetap harus menjalankan tugas-tugasnya sebagai seorang ibu. Menyusui…memberikan kasih sayang baik pada si baby juga pada jundinya yang lain. Subhanalloh…tidaklah heran ada sebuah hadits ‘Syurga ada di bawah kaki ibu’.

Setelah beberapa hari di hospital, akhirnya sister Su’ad pulang, aku langsung kerumahnya. Ketika aku datang dia langsung berkata kepadaku ‘Alhamdulillah Rusy, Palestinian boy is healthy n strong, he will be mujahid InsyaAllah’. Duggg berdebar hatiku&hellip.pernahkah aku berniatan seperti itu, setelah sakit yang diderita hanya untuk memberikan kehidupan pada sang jundi, temanku sudah berniat akan memberikan kehidupan jundinya untuk Syahid di jalan Allah. Subhanalloh….

Saat itu, temanku masih belum bisa bergerak leluasa karena jahitan diperutnya belum begitu pulih, bahkan dia bilang satu sisi ok tapi sisi yang lain jahitannya tidak mau menutup, bahkan setelah diangkat jahitannya, kulitnya masih terbuka. Dan kemaren, ketika saya berkunjung lagi, luka itu semakin parah. Dia terkena infection. MasyaAllah….dia sempat menangis mendengar berita itu. Nursenya sempat cakap sama dia, kalau temenku harus back to hospital atau menemui dokter, kalau dia mendiamkan saja, dia bisa meninggal. Alhamdulillah, dokter sudah berikan antibiotic….dan tunggu hasilnya hari senin. Namun…dia adalah orang yang kuat. Dia sesekali cakap ke saya ‘saya berharap, jika saya meninggalpun, saya berdoa semoga Allah menyetarakan saya dengan orang mati syahid, sebagaimana janjiNya…Amien’. Meski dia tidak bisa bergerak sama sekali dan merasakan sakit yang luar biasa karena infection, disela-sela kunjungan kami, dia masih mau mengajak aku untuk berdiskus tentang kondisi ummah ini. Kami sempat berdiskus tentang kehidupan di palestina, aku bilang ke dia, aku tidak bisa bayangkan bagaimana hidup di sana, setiap hari harus siap dengan peperangan siap mengantarkan nyawa. Dia menjawab, ‘untuk bisa bayangkan kehidupan di sana kamu harus tinggal di sana, setalah satu atau dua tahun kamu akan terbiasa, bahkan kamu akan mencintai jihad melawan israel, kamu tidak akan takut lagi akan kematian dan kamu tidak akan takut akan sakit akibat peperangan. Mertua dan semua saudara suamiku masih tinggal di sana, dan mereka tidak mau pindah kenegri manapun, bahkan untuk holidaypun mereka tak mau, mereka terlalu sayang terhadap battle melawan yahudi, mereka tidak mau kehilangan kesempatan untuk syahid di jalan Allah’. Subhanalloh,selama ini aku hanya baca di artikel-artikel saja tentang kehidupan di Palestina, namun kali ini aku mendengarnya secara nyata…walaupun saat ini belum lagi melihat dan merasakan secara langsung bagaimana kehidupan di Palestina.

Itulah salah satu profile seorang umi, dan bagaimana pengabdiannya terhadap keluarganya dan Allah. Tergambar nyata betapa pengabdian seorang ibu sepanjang masa dan betapa tulusnya. Saya mohon, teman-teman semua berdoa untuk teman saya Su’ad agar segera diberi kesembuhan dan segera pulih kembali…Amienn.