Muhasabah

Apakah kita harus selalu mendapat nilai A?

Ketika mengajar Semester Pendek 2008/2009 kemarin, saya mendapat inspirasi untuk meningkatkan semangat sekaligus mengusir kejenuhan saya dan mahasiswa. Maklumlah, materi SP khan materi pengulangan dari semester reguler (dan seharusnya kita beraktivitas lain atau berlibur, bukan malah masuk ruang kuliah hehehe).

Inspirasi diambil dari buku Revolusi Cara Belajar (edisi Indonesia dari “The Learning Revolution” karya Gordon Dryden & Dr. Jenannete Vos). Poster sebesar A3 ini didisain oleh Adri, mahasiswa Teknik Informatika angkatan 2006 dan saya tempelkan di ruang kuliah (temporer, hanya sewaktu SP berlangsung).

Sebagai penjelas, saya sampaikan kepada mahasiswa bahwa meski riwayat nilai mereka di mata kuliah yang diulang (saya mengajar Basisdata) adalah buruk (E, D, C, atau terkadang B) sehingga mungkin seluruh mahasiswa berusaha mengejar untuk mendapatkan A, saya minta mereka untuk berusaha berpikir lebih dalam. Beroleh nilai bagus memang menyenangkan (&mungkin membanggakan), namun segala keinginan haruslah disesuaikan dalam koridor kemauan & kemampuan. Bukanlah kewajiban bagi mereka untuk menjadi ahli dan mendapat A dalam seluruh mata kuliah (jaringan, basisdata, AI, dsb); sehingga bisa jadi mereka termasuk yang memiliki “core skill” bukan di basisdata. Bahkan, jika bisa dikatakan lebih ekstrim lagi, mahasiswa Informatika bisa jadi hanya tertarik pada sebagian kecil mata kuliah (misalnya karena merupakan keturunan pebisnis, mereka cuma tertarik dengan kewirausahaan; sehingga matakuliah ke-informatika-an hanya menjadi bumbu pelengkap).


Dan tentu saja… meski saya melarang untuk berkecil hati jika kelak nilai SP mereka tak sesuai harapan atau bahkan ga sampe ke “A”, saya minta mereka untuk memperhatikan matakuliah ini. Mahasiswa Informatika UII dididik untuk bisa menguasai skill-skill ke-informatika-an, termasuk basisdata sebagai matakuliah dasar; sehingga lulus dengan nilai E dan D tidaklah cukup untuk menjadi sarjana Informatika! Saya katakan dengan tegas bahwa di awal kuliah, semua nilai di-set default ke A; nilai baru akan di-downgrade jika mereka melakukan kesalahan, misalnya: salah menjawab ujian, salah karena cuma duduk-diam-dengar-di kelas, salah karena ga pernah masuk kuliah dsb. Terdengar konyol? Tentu tidak! Mana mungkin dosen set default ke E, baru di-upgrade? Secara psikologis, hal itu sangat membosankan dan bisa melemahkan semangat

Namun, semua rencana sempurna saya tetap bisa memunculkan kasus terburuk…yakni nilai mereka malah lebih jauh jelek daripada semester reguler; sebagai dosen, saya sudah berusaha membuka seluruh kran komunikasi sebisa mungkin jika terdapat kesulitan dalam kuliah. Hasil akhir hanyalah Allah yang tahu.

Author: nnur

Add comment


Go to top