Sosial

Sosial

Memberi Kebebasan Anak


Orang tua selalu dihadapkan pada kondisi yang selalu dinamik, di satu sisi mempunyai cita-cita ideal pada anaknya, sementara di sisi lain anak melakukan hal yang tidak sesuai dengan keinginan dan cita-cita ideal orang tuanya. Misalnya, keinginan orang tua tidak ditanggapi positif oleh aksentuasi perilaku anak yang berakibat orang tua meremehkan setiap kemampuan yang dimiliki oleh anak-anaknya.

Meremehkan anak-anak dan sedikit sekali memberikan dorongan serta anjuran kepada mereka. Misalnya, orang tua berusaha menyuruh mereka diam manakala mereka lagi asyik berbicara. Bahkan, saya selalu diejek, begitu pula obrolan juga senantiasa diperolok-olok, yang hal itu menyebabkan anak kurang mempunyai kepercayaan pada dirinya, ia kurang berani berbicara apalagi mengeluarkan pendapat. Mencaci maki mereka apabila melakukan kesalahan, mengumpat-ngumpat mereka apabila mereka gagal dan kalah. Sedangkan, ayah merasa bangga dan sombong dengan berbuat seperti itu. Dengan demikian, ada jarak psikologis antara kedua belah pihak sehingga tidak mungkin lagi si ayah dapat mempengaruhi anak-anaknya.

Mengejek mereka bilamana mereka istiqamah (konsekuen dalam agama). Sikap seperti ini merupakan fenomena pelecehan yang paling berat. Oleh karena itu, jika Anda dapati ada di antara orang tua yang suka meremehkan anak-anaknya apabila di antara mereka itu ada yang bertakwa, berperilaku baik, shaleh, konsekuen dalam beragama, dan mendapatkan Hidayah (dari Allah), sehingga anak-anak tersebut sesat dan berbalik haluan. Akibatnya, stelah peristiwa itu, mereka menjadi beban atas diri ayah dan sebagai penyebab timbulnya berbagai bencana buat dia.

Tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengoreksi dan mengadakan perubahan yang lebih baik. Ada orang tua yang memarahi anaknya hanya karena kesalahan dan kekeliruan yang sepele. Bahkan, bisa jadi orang tua tidak dapat melupakan kesalahan itu. Apabila si anak mencuri, ia dipanggil dengan panggilan “hai pencuri”. Apabila ia berdusta ia dipanggil dengan sebutan “wahai pendusta”. Seolah-olah kesalahan-kesalahan tersebut mrpk pukulan keras yang tidak mungkin dapat pudar dan merupakan tanda keaiban yang tidak kunjung sirna. Dari sini si anak itu berkembang, sedangkan pada dirinya tertanam perasaan bahwa ia adalah pencuri atau pendusta. Dengan demikian, ia tidak dapat melepaskan diri dari aibnya, disamping ia tidak mendapatkan orang yang dapat membantu mengatasi masalahnya itu.

Sikap-sikap yang saya sebutkan di muka merupakan sikap apriori orang tua terhadap anak-anaknya. Adapula Orang tua selalu menginginkan anaknya punya cita-cita yang tinggi, bahkan tidak jarang pula yang memaksakan kehendak atas keinginan yang diinginkannya. “Nak, kamu jadi ini aja atau jadi itu aja. Jangan jadi anu!” demi memuluskan keinginannya itu orang tua memasukkan pilihan ekskul di sekolahnya, padahal anak tidak menginginkan ekskul pilihan orang tuanya. Kalau kurang dengan pilihan ekskulnya di sekolah, orang tua lantas mendatangkan guru les untuk mengasah dan menambah kompetensi anaknya akan keinginannya itu. Jangan salahkan anaknya bila tidak semangat dalam belajarnya, tidak semangat mengikuti kegiatan ekskul di sekolah atau ogah-ogahan ketika guru lesnya datang ke rumah.

Untungnya, semasa kecil orang tua saya tidak terlalu membebaniku mempunyai cita-cita yang tinggi. Bagi beliau, cukup menjadi orang yang bermanfaat di dunia, negara, dan agama sudah cukup. Padahal dalam hati kecil saya punya cita-cita menjadi guru besok kalau sudah besar. Cita-cita jadi guru itu terpatri dalam dada dan selalu saya ingat di setiap kali menjelang tidur, bangun tidur, dan berangkat ke sekolah.

Pernah juga cita-cita ini saya utarakan kepada teman sekelas, dan mereka semua memberikan sorakan dengan nada mengejek. “Masa , laki-laki punya cita-cita jadi guru?” ejekan beberapa teman sekelas itu tidak seratus persen saya salahan. Bisanya, kalau teman-teman sekelas ditanya Ibu/bapak guru maka mereka akan menjawab bahwa cita-cita mereka menjadi dokter, pilot, polisi, atau insinyur. Bagiku cita-cita menjadi guru adalah cita-cita yang mulia satu tingkat lebih baik menurutku setelah menjadi “ibu”.

Dengan bekal kebebasan pilihan atas cita-cita itu, saya ingin memberikan kepercayaan kepada orang tua saya bahwa saya akan mewujudkan cita-cita itu, saya akan tetap ingin selalu mewujudkan keinginan sederhana orang tua saya menjadi orang yang bermanfaat di dunia, negara, dan agama. Meski sekarang saya menjadi guru di sekolah dasar di Sangata – wilayah terpencil yang kurang punya akses – dan di suatu sekolah yang menampung anak-anak karyawan pertambangan. Berawal menjadi guru di sanalah akan saya bangun mimpi-mimpi dan cita-cita orang tua saya yang secara spesifik tidak beliau sebutkan tapi tetap saya patri dalam dalam dalam kalbu sanubariku “menjadi guru bagi diri sendiri, sebelum menjadi guru orang lain”.

Berbekal motto ini, saya tidak ingin menggurui, saya tetap ingin menjadi pembelajar yang baik. Meskipun secara profesi saya sebagai guru, itu hanya masalah profesi tapi sejatinya saya tetaplah menjadi seorang pembelajar. Pembelajar yang selalu belajar dari anak didik-anak didik saya, temen-temen guru, dan belajar dari kehidupan nyata. Amin Allahumma Amin .. (*)