Sosial

Sosial

“Birds of a Feather Flock Together (burung-burung dengan jenis/warna bulu yang sama akan berkumpul


Perayaan hari raya Iedul Adha 1429H yang jatuh pada tanggal 8 Desember 2008 lalu terasa masih segar dalam ingatan. Semua umat Islam dari berbagai negara secara bersama-sama mengadakan sholat I’ed di Kyushu International Hall Fukuoka.

Seperti biasanya, selepas sholat Ied terus dilanjutkan dengan acara makan bersama sekedarnya. Makanan tersebut berasal dari para jamaah sholat yang membawa berbagai macam makanan yang memang siap untuk dibagi-bagi dan disantap bersama. Biasanya aku membawa 2 piring makanan tapi entah mengapa, sudah dua kali Iedul Adha ini aku hanya membawa satu piring makanan karena kebetulan juga suamiku harus bekerja. Bila suamiku ikut serta, biasanya aku membawa dua piring: satu untuk kelompok jamaah wanita dan satu untuk jamaah laki-laki.

.

Begitu kutbah ditutup tanda selesai; secara otomatis jamaah langsung berkelompok menurut negara masing-masing dan ramai-ramai mengeluarkan bawaan masing-masing untuk dibagi dan disantap bersama. Hal ini kelihatan jelas sekali terutama pada jamaah wanita karena aku didalamnya. Aku sendiri secara reflek mengikuti langkah teman-temanku dan ikut sibuk “antri” ambil makanan. Aku baru tersadar saat antri kalau ternyata ada sekelompok mualaf Jepang dengan jumlah yang paling minoritas dibanding kami semua。Mereka sedang duduk mengamati kami disudut ruangan. Mereka seperti sekelompok orang asing yang tidak tahu harus bergabung kemana karena sepertinya semua sibuk sendiri; sementara, mereka juga sepertinya tidak siap dengan makanan saat datang tadi. Aku tertegun sendiri menyaksikan hal itu dan diam-diam merasa bahwa ada yang tidak beres dengan perbuatanku.

Aku lebih tertegun lagi karena ada seorang muslimah Jepang (teman tafsir mingguanku) dengan 3 orang putrinya yang masih kecil-kecil (usia 4 tahunan, 3 tahunan dan kurang dari 1 tahun) yang membuat lingkaran sendiri. Rupanya dia tadi datangnya sedikit terlambat hingga aku tidak menyadari kehadirannya disitu.

Aku sungguh merasa tidak nyaman sekali melihat kedua pemandangan tersebut. Untuk menutupi ketidaknyamanan hatiku, aku mengambil beberapa makanan kedalam piring kecil dan kuberikan kepada keluarga dengan ketiga putrinya tersebut. Dan betapa bertambah tidak nyamannya hatiku (tepatnya merasa bersalah) karena saat aku mengulurkkan makanan ke Ibu teman tafsir Jepang tadi, ternyata kelompok muslimah Jepang yang disudut itupun tengah memperhatikan perbuatanku. Aku merasa tidak adil terhadap mereka tapi aku juga bingung harus berbuat apa karena sepertinya jatah makanan dikelompokku juga sudah nyaris tak bersisa. Dalam kebingunganku, seseorang menyodorkan piring berupa sisa-sisa makanan kelompok yang telah disatukan kedalam satu piring kepadaku, untuk diteruskan ke teman-teman muslim tadi. Dengan sangat berat hati dan menebalkan muka, aku mengulurkan piring tersebut.

Saat aku kembali lagi ke tempat dudukku, aku termenung sendiri memikirkan apa yang baru saja terlintas di depan mataku. Aku tidak bisa lagi menikmati beberapa makanan yang sudah kuambil. Diantara keramaian orang yang tampak sedang menikmati hidangan masing-masing, aku duduk terpekur dan pikiranku menerawang jauh.

Aku teringat sebuah pribahasa yang kupelajari di sekolahku dulu “Birds of a feather flock together” dan rasanya pribahasa itu tepat sekali untuk menggambarkan apa yang baru saja terjadi selepas Ied tadi. Secara otomatis orang berkelompok menurut negara masing-masing tanpa menghiraukan saudara muslimah Jepang yang berada disudut ruangan. Ya, kesamaan identitas karena berasal dari negara yang sama; tanpa sengaja telah menimbulkan pembatas tersendiri bagi para mualaf Jepang yang sangat minoritas tersebut. Meskipun tidak bisa disalahkan juga bila setiap orang akan otomatis berkelompok mencari “komunitas”-nya sendiri-sendiri saat berada dikomunitas internasional yang besar; karena ternyata aku sendiripun termasuk salah satu diantaranya. Akan tetapi sepertinya rutinitas prilaku untuk mencari “komunitas” sendiri itu jadi perlu dikaji ulang saat ada sekelompok minoritas yang merasa terasingkan dengan prilaku yang mungkin terlihat umum dan wajar dilakukan orang tersebut.

Seandainya kita bisa sedikit saja berempati dan mencoba untuk menempatkan diri diposisi mereka, kita tentu bisa mengurangi dan bila perlu menghindari terjadinya “pengucilan” yang tidak disengaja terjadi. Bayangkan saja, para mualaf Jepang tersebut bahkan merupakan mioritas dikomunitas keluarganya sendiri yang notabene semuanya non muslim. Dia “dibedakan” dan kadang dikucilkan dari keluarganya karena identitas barunya (Islam). Lalu dengan semangat ukhuwah mereka datang ke perayaan sholat Ied untuk menemui keluarga besarnya yang baru. Tapi apa yang mereka dapatkan? Sebuah keterasingan baru yang tercipta begitu saja meskipun mungkin terjadinya juga tanpa disadari atau tanpa disengaja oleh saudara-saudara seimannya yang baru.

Oh, rupanya aku masih perlu mengasah dan melatih kembali sikap tanggap dan sensitif terhadap lingkungan, batinku. Sebuah sikap yang niscaya akan sangat mendukung terciptanya sebuah ukhuwah Islamiah yang manis tanpa terhalang oleh perbedaan bangsa maupun bahasa. Semua membaur bersama jadi satu dibawah satu identitas dan satu bendera ISLAM. Toh kelak diakhirat nanti yang membedakan aku dengan yang lain bukanlah bangsa ataupun bahasa, tapi ketakwaan terhadap Sang Pencipta. Menurutku, bila aku mampu membuat para mualaf tempat kami tinggal merasa di rengkuh oleh keluarga besarnya yang baru (Islam); tentu hal ini akan memberikan dukungan moral tersendiri buat mereka disamping sebagai upaya dakwah yang InshaAllah bernilai ibadah di bumi sakura ini.

Jadi seandainya ada orang yang berucap “birds of a feather flock together”, aku bisa tersenyum bersama jamaah semuanya karena merasa berada dalam satu kelompok identitas keislaman yang sama, tanpa dibatasi oleh perbedaan bangsa maupun bahasa. Oh betapa indah dan manisnya bila nilai ukhuwah itu terwujud dan aku bertekat untuk memulainya dari diriku sendiri dengan bimbingan dan pertolongan dari-Nya, InshaAllah, amin.