Sosial

Sosial

Tersenyumlah Anakku


Tujuh tahun saya menjadi guru di sekolah dasar dengan berpindah-pindah tempat tugas berkali-kali, namun tak satu pun juga yang memberikan saya tugas tambahan sebagai wali kelas. Tugas yang selalu saya nantikan. Penantian panjang itu menjadi suatu kenyataan ketika kali pertama saya menapakkan kaki sebagai guru di suatu sekolah pertambangan batu bara di pedalaman Kalimantan Timur saya pun mendapat kesempatan yang saya inginkan selama tujuh tahun.

Biasanya setelah mengajar, saya langsung melakukan rutinitas dan aktivitas sehari-hari sebagai guru, mulai membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), analisis mata pelajaran, maupun membuat tulisan-tulisan ringan, dan opini yang saya posting di blog pribadi maupun saya kirim ke media masa. Saya tidak biasa menangani masalah-masalah anak didik di kelas selain berkaitan dengan mata pelajaran yang saya ampu. Kini setelah menjadi wali kelas, saya tahu banyak hal tentang anak didik saya mulai dari prestasi akademik sampai dengan masalah-masalah pribadi maupun yang sifatnya kasuistik.

.

Tujuh bulan lebih saya menjadi guru SD di daerah pertambangan, namun tidak ada juga perubahan yang berarti terhadap makhluk imut-imut yang sedang saya hadapi. Mereka bukan apa-apaku, bukan saudaraku, mereka adalah makhluk yang dititipkan oleh orang tuanya kepadaku. Bedanya dengan penitipan barang, kalau mereka menitipkan barang tentunya ada biaya yang dikenakan dan relatif mahal, tetapi kalau menitipkan anak di sekolah jika dihitung secara ekonomis akan lebih murah.

Analoginya sederhana, kita parkir saja sekali jalan Rp. 1.000. jika dalam satu hari kita parkir 5 kali, maka dalam 1 bulan kita parkir 150 kali dan bila dikalikan dengan 1.000 hasilnya untuk parkir saja Rp. 150.000. itu parkir kita yang hanya berupa barang. Lha ini kita “menitipkan” anak-anak kita di sekolah dengan membayar Rp. 20.000 per bulan itupun juga sering nunggak dan tidak membayar sampai guru harus menagih-nagih ke orang tua. Padahal, yang kita “titipkan” ke sekolah itu adalah masa depan, investasi dan amanah kita yang paling mahal, tentu saja bahwa anak adalah investasi masa depan yang menjanjikan. Lantas mengapa banyak orang tua yang tidak sadar dengan hal ini??

Lantas kenapa banyak anak yang tidak menurut dengan gurunya? Apakah gurunya kurang sayang kepada anak didiknya? Atau gurunya sibuk menafkahi dirinya dan keluarganya daripada harus mengajarkan dan mendidik ini dan itu kepada anak orang lain? Satu hal yang menarik dan membuat saya semakin penasaran dengan mereka bahwa apa yang mereka perbuat, kenakalan yang mereka lakukan adalah sesuatu yang wajar. Kenakalan seorang yang tidak disengaja dan memang mereka tidak tahu, sebagai gurunya kita berkewajiban untuk mengarahkan mereka sesuai dengan potensinya.

Berbeda dengan anak remaja, SMP atau SMA, apa yang mereka lakukan sedikit banyak sudah menggunakan nalarnya secara optimal. Makanya, tidak jarang dan kerap kali di kalangan remaja pada beberapa kasus pernah kita temukan. Selama menjadi wali kelas, saya menghadapi masalah yang cukup fenomenal. Mengingat hal ini menjadi tugas pertama saya sebagai seorang guru, biasanya saya dihadapkan pada permasalahan akademik, kenakalan anak, sampai pada permasalahan keluarganya.

Namun tidak demikian dengan Aji, salah satu murid di kelasku yang memang fenomenal dan unik, setiap hal dan banyak hal hampir seperti tidak habis kata untuk menceritakan Aji. Aji yang sehari-hari sumringah, ceria, dan ramah pada teman-temannya. Aji bukan seorang murid teladan. Bukan, dia jauh dari itu, kalau frase "teladan" di sini dimaksudkan merujuk pada siswa-siswi yang berhasil secara akademik. Ia seringkali meraih posisi ekor di kelasnya. Namun, Aji menyimpan potensi yang dapat meledak sewaktu-waktu, dalam arti positif. Di tengah berbagai keterpurukan akademiknya, Aji tetap berusaha untuk aktif dalam kegiatan-kegiatan luar kelas. Sampai suatu saat, diadakan aneka lomba antar kelas sekolah.

Dari sembilan lomba yang diikuti, tak satu pun yang dilolosi oleh Aji. Pernah Aji ikut audisi untuk lomba menyanyi yang kala itu saya sendiri sebagai jurinya, yang pula merangkap wali kelas Aji. Semua peserta lain sibuk berlatih di sudut-sudut kelas, semerdu mungkin. Lain halnya Aji, yang "nekad" tak latah latih suara. Meski demikian, Aji tetap ingin audisi pertama sebelum kawan-kawannya. Terlihat determinasinya, yang tak mau dikungkung jeruji nilai-nilai tumbang. Sebagai wali kelasnya saya sangat sayang padanya, meskipun secara akademik ia termasuk anak yang lambat dalam belajarnya tapi tidak semangat belajarnya peatut diapresiasi. Semester pertama, Aji menduduki ranking 34 dari 34 siswa di kelas.

Meskipun menurut paham konstruktivistik tidak disarankan mencantumkan ranking di raport. Sementara semester kedua, Aji tetap istiqomah dengan prestasinya, yakni ranking 34 dari 34 anak didik di kelas. Jika dibandingkan secara parallel kelas III, aju pun memperoleh ranking yang paling akhir dari urutan terakhir anak kelas III paralel. Kini, akhir tahun pembelajaran 2007/2008, sebagai seorang wali kelas tentu tidak berhenti pada pembagian rapor saja. Namun, ada beberapa hal yang membuat saya tetap tidak ingin begitu saja melepaskan anak didik saya ke kelas empat. Secara akademis, saya akui purna sudah tugas saya sebagai guru dan wali kelasnya.

Namun, secara psikologis, seorang guru tidak akan begitu saja melupakan anak didik saya. Mengingat secara akademik nilai Aji tidak bisa diharapkan, maklum pendidikan kita masih memperhitungkan nilai akademik meskipun paham konstruktivistik dalam pendidikan dikumandangkan di bumi Indonesia. Perasaan gentar sekaligus khawatir menyelimuti saya, sebagai wali kelas pertama selama tujuh tahun menjadi guru tentu ada rasa demikian. Bagaimana kemudian untuk menentukan naik tidaknya Aji ke kelas empat? Beberapa orang teman guru, menyarankan kepada saya untuk mengujungi rumahnya sekedar basa-basi ataupun menyampaikan tentang nilai akademik Aji.

Keesokan harinya, saya memberanikan diri ke rumah Aji. Di sana sudah menanti keluarga besarnya bapak, ibu, nenek, dan tantenya. Manakala saya harus ke rumah ortunya anak didik. meski saya tidak mau mendahului takdir, tapi minimal saya sudah bersiap-siap seandainya anak didik saya ini tidak naik kelas, maka orang tuanya sudah saya beri informasi. Panjang lebar saya ceritakan tentang perilaku Aji, anak didik saya kepada ortunya. Aji merupakan sosok anak yang menurut saya, harus mendapat perhatian istimewa dibanding dengan teman-teman sekelasnya. Aji cenderung periang dan secara sosial Aji suka menolong teman-temannya, Aji langsung mengacungkan tangan dan mengajukan diri untuk disuruh oleh guru-gurunya sebelum teman-teman yang lain mengacungkan tangannya.

Sikap suka menolong sesame yang sudah tumbuh pada aji yang baru berumur 9 tahun, tanggungjawab social kemasyarakatnnya memang patut diapresiasi. Namun tidak demikian dengan prestasi belajarnya, Aji termasuk kategori anak yang cerdas meniru tugas teman-temannya hanya untuk mendapatkan nilai baik, tapi itupun tidak ia dapatkan. Aji sudah terbiasa mendapat nilai 20 manakala teman-temannya mendapatkan nilai 90 atau minimal 70, Aji tetap konsisten dengan angka 20an.

Namun, ada semangat yang menggejolak yang membuat saya semakin tertegun oleh semangat ibu anak didik saya ini. meski secara medik Beliau sudah divonis tidak berumur lama setelah 3 hari melahirkan Aji. namun, sampai sekarang Beliau masih bertahan hidup dengan semangat membesarkan anak-anaknya dengan pendidikan yang layak. toh...meskipun seperti sekarang ini. anak didik saya ini sekitar 20% saja tingkat kelulusannya. "Bapak, mungkin ini adalah kesalahan saya tidak bisa mendidik Aji sebagaimana layaknya anak-anak yang lain. saya sudah harus ganti cairan setiap 4 jam sekali. dan ketika saya ganti cairan membutuhkan waktu 1 jam dan di dalam ruangan yang steril. bagaimana saya bisa mendampingi, membimbing Aji. semua urusan Aji kebanyakan sudah saya limpahkan kepada adik saya, tantenya Aji" ibu Aji menceritakan keadaannya.

Saya lantas mendengarkan dengan seksama, sesekali saya membetulkan tempat duduk saya agar lebih dekat dengan sumber suara yang membuat mata saya berkaca-kaca. Saya terus mengamati dan mendengarkan sepatah demi sepatah kata tegarnya seorang perempuan yang luar biasa, dengan semangatnya yang tinggi ia ingin hidup 1000 tahun lagi melihat anak-anaknya menjadi orang-orang yang sukses. Dia ingin melihat anak cucunya tumbuh kembang menjadi orang-orang yang berguna, ingin Aji menjadi anak yang sholih. Yang saya inginkan hanyalah sesuatu yang bisa membuat Aji bahagia yaitu di detik-detik hidup saya dapat memberikan kasih sayang kepada Aji, karena kepada Allah dan Aji lah nanti di sisa-sisa hidup saya ini kuibadahkan. Siapa yang tidak ingin orang tua meninggal didoakan oleh anaknya? Lanjut ibu Aji.

Ibu melanjutkan ceritanya, “meski saya sakit, saya tidak ingin dikatakan sakit di depan Aji. Saya ingin Aji bangga punya ibu yang kuat meski hampir tujuh tahun di dera sakit yang kian hari kian berat rasanya, saya tetap tegar. Yang saya inginkan hanya memberikan pengetahuan yang lengkap dan kasih sayang itu”. Saya melihat dengan jelas waktu masih kecil menangis di malam hari, tiga hari setelah melahirkan Aji, ibu Aji sudah divonis meninggal secara medik. Meski demikian, ibunya masih tetap hidup hanya untuk membesarkan Aji, ingin tetap hidup untuk melihat Aji menjadi menjadi anak yang cerdas dan pintar di sekolah meski sampai saat ini, bayangan ajal sudah kian dekat dan hampir kian dekat.

Di akhir pembicaraan dengan Ibu Aji, saya menyampaikan akan berusaha memperbaiki nilai-nilai Aji dengan cara menghubungi guru-gurunya untuk diremidi, ataupun memberikan tugas-tugas tambahan untuk menutup kekurangan KKM (Kriteria ketuntasan minimal) yang harus dicapai oleh seorang peserta didik. Hingga kahirnya, sidang kenaikan kelas pun digelar. Lebih kurang dua jam untuk membahas naik tidaknya Aji.

Mulai dari nilai, perilaku, hingga psikomotoriknya. Walhasil, saya pun bersujud syukur, mengucapkan “alhamdulillahi robbil alamin” ketika palu sidang diketuk bahwa Aji naik kelas. Kontan saja, semua peserta sidang yang terdiri guru-guru di sekolah saya terharu memutuskan Aji naik kelas. “Aji, Tersenyumlah anakku, lebih giat belajar lagi. Kelas empat kamu harus lebih baik dari kemarin. Biarlah hari ini, nilaimu seperti itu, tapi tidak untuk kelas empat nanti. Dengan cairan demi cairan, doa ibumu menyertaimu. Aji, saya selalu mendoakanmu.” "Jadilah guru diri sendiri, sebelum menjadi guru orang lain"