Sosial

Sosial

Si Pemurah Hati Telah Pergi


Namanya Mbok Rosidi. Aku mengenalnya sejak kanak-kanak karena salah satu anaknya, Slamet, adalah teman sekelasku di SD. Aku sering bermain di rumahnya dan tiap kali waktu makan siang tiba, Mbok Rosidi mengajakku makan bersama Slamet. Kami berdua diperlakukan sama; saat Slamet menerima satu potong telur goreng, aku pun diberikan sama.

Saking dekatnya, sampai aku kuliah di perguruan tinggi, meskipun Slamet harus merantau ke Bandung, aku tetap dianggapnya bagaikan anak sendiri. Tiap kali pulang kampung karena jatah uang habis, begitu aku silaturahmi ke rumahnya, Mbok Rosidi menyambutku dengan begitu gembira dan selalu memintaku makan masakan yang telah terhidang di meja seadanya. Saat pamit, berbagai makanan kering telah disiapkan olehnya untuk dibawa sebagai bekalku saat kembali ke Semarang. Rempeyek kacang atau ikan teri, oseng-oseng tempe kering, ikan kolam goreng, sesisir pisang, dan serundeng (parutan kelapa goreng) adalah hanya beberapa contoh makanan yang telah banyak kuterima dari tangan Mbok Rosidi yang begitu murah hati.

Mbok Rosidi adalah sosok Ibu yang polos; apapun yang dirasakan mengganggu pikiran, selalu beliau ceritakan padaku sambil meminta nasehat. Padahal aku sendiri merasa masih sangat hijau dan tidak pantas untuk menasehati seorang Ibu yang telah makan garamnya kehidupan. Tetapi itulah beliau; dari ceritanya, aku belajar banyak hal tentang kehidupan termasuk bagaimana harus berbakti kepada orang tua.

Hingga aku menikah dan mempunyai anak, sosok Mbok Rosidi tidak pernah berubah; tetap murah hati dan menginginkan kami senantiasa menjalin silaturahmi. Hobinya yakni menanam sayur mayur di sawah dan kebun membuat kami setiap kali masa petik tiba banjir kangkung, bayam, terong, dan kacang panjang.

“Segini cukup ya. Kalau kebanyakan, Mas Tus bisa membagikannya kepada kakak-kakak Mas Tus,” begitulah kata-kata Mbok Rosidi setiap kali memberikan seonggok sayuran yang telah dibungkus dengan kantong plastik besar. Jika sesekali aku menolak pemberiannya karena di rumah kami memang masih punya banyak sayuran; beliau tetap saja ngotot atau meletakkan barang pemberiannya itu di cantelan sepeda motorku. Saat panen padi tiba beliau juga mengirimi kami dan ibu kandungku satu tenggok beras dengan berbagai sayur atau makanan di atasnya.

Kedua anakku pun, Ayu dan Ita, tidak berbeda dengan ayahnya, tiap kali kuajak silaturahmi ke rumahnya, keduanya juga merasakan buah manis kemurahatian Mbok Rosidi. Semua makanan di almari beliau tunjukkan dan kami disuruh memilih mana yang ingin kami bawa pulang.

Sayang, sekitar tiga tahun yang lalu Mbok Rosidi yang kira-kira berusia 50 tahun itu menderita diabetes dan sering keluar masuk rumah sakit. Saat aku pulang ke Indonesia Februari lalu, kami masih sempat bertemu dan seperti biasa ngobrol sana sini terutama tentang apa yang dirasakannya sebagai seorang Ibu yang masih memiliki anak ragil, sementara anak-anak yang lain sudah menikah dan merantau jauh.

Aku masih bisa merasakan erat dan dinginnya jabat tangan beliau saat aku pamit akan kembali ke Jepang.

“Saya berdoa Mas Tus sehat dan studinya lancar serta keluarga di sini juga selalu baik. Tolong doakan saya ya agar sehat dan bisa ketemu mas Tus lagi.” Itulah kata-kata terakhir yang kudengar dari bibir kering Mbok Rosidi di belakang rumah saat melepas kepergianku kembali ke Jepang. Aku tahu, dia tengah merasakan betapa pedihnya sakit yang telah lama diderita.

Dan suatu malam, saat kutelepon keponakan di kampung halaman, dengan suara parau dia mengabarkan bahwa malam Jumat kemarin (5/12/08), setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, Mbok Rosidi dipanggil menghadap kembali kehadirat Illahi. Innalillahi wainnailaihi rojiun.

Di jalanan kampus nan sepi, begitu keluar dari telephone box, aku menangis, sesenggukan. Kupandangi bulan berbentuk sabit di langit; tapi yang tampak oleh mataku wajah Mbok Rosidi. Aku meraung sambil mengayuh sepeda. Di kamar, fikiranku buyar; bayangan pertemuan demi pertemuan dengan Mbok Rosidi silih berganti muncul di kepalaku, sementara kedua mataku banjir air mata. Aku terkulai lemas sambil memegangi bibir tempat tidur. Ada rasa bersalah terasakan begitu dalam di dada ini; selama ini aku sering cuek mendengarkan keluh kesah seorang Ibu yang begitu polos dan jujur. Aku juga tidak pernah berbicara dengannya lewat telepon, padahal aku tahu anak lelaki ragilnya yang bekerja di lembaga kursus kami, jelas-jelas memegang handphone.

“Maafkan saya, Mbok. Ikhlaskan kepergian Mbok bertemu Allah, Sang Khalik yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Meskipun sungguh berat dan pilu, kami, anak-anakmu dan seluruh orang yang selama ini begitu mencintai Mbok, berusaha tegar dan ikhlas seraya berdoa semoga Allah SWT yang Maha Melihat mengampuni segala dosa dan kesalahan Mbok serta memasukkan Mbok ke dalam golongan orang-orang yang selamat. Kami menjadi saksi Mbok adalah orang yang paling murah hati yang pernah aku temui dan Allah akan amat mencintai orang-orang yang dermawan seperti Mbok.”