Sosial

Sosial

Mereka adalah Manusia Biasa


Di dalam masa krisis ini, terkadang timbul keinginan di dalam hati saya untuk membatasi aktivitas jalan-jalan. Karena seringnya, jalan-jalan itu menghabiskan sejumlah dana yang tidak kecil. Namun, pembatasan yang ketat rasanya tidak bijak juga jika diterapkan terhadap anak-anak saya. Bagaimanapun mereka membutuhkan sarana pendidikan yang mampu mengembangkan daya imajinasi dan perkembangan otak kanannya. Konon, perkembangan otak kanan yang dominan inilah yang mampu menghantarkan anak pada keberhasilannya, karena faktor yang sering menyebabkan anak berhasil saat ini, antara lain soft-skill, life skill, dan kreativitas, bisa diasah dengan aktivitas out-door seperti itu. Tentu saja, hal ini tidak memungkiri bahwa pengembangan daya analitis dan perkembangan otak kiri pun turut berkontribusi bagi keberhasilan seorang anak. Dan oleh karenanya, pengembangan otak anak harus dilakukan secara seimbang dan tidak berat sebelah.

Ahad kemarin, saya bersama anak-anak mengunjungi Dunia Fantasy Ancol. Sebenarnya kunjungan itu tidak kami rencanakan sebelumnya. Tiba-tiba saja pada hari Kamis sebelum waktu kunjungan, kami ditawari tiga buah tiket yang merupakan jatah karyawan sebuah perusahaan swasta namun mereka tidak berkenan menggunakannya. Penyebabnya, boleh jadi mereka sudah “jenuh” karena sering menerima jatah berkunjung, atau barangkali mereka ingin sekali-kali mengambil keuntungan dari tiket-tiket yang dijual dengan harga murah itu sekedar untuk mengimbangi kenaikan harga-harga dan memenuhi kebutuhannya. Dengan niat ingin membantu kawan yang membutuhkan uang itu, sekaligus memanfaatkan kesempatan memberikan pendidikan dan menjalin kedekatan dengan anak-anak dengan rihlah, maka tiga buah tiket masuk dan terusan itu pun akhirnya kami beli.

Pada hari yang ditentukan, kami pun berkunjung ke dunia ‘rekreasi dan kesenangan keluarga’ itu. Subhanallah, ternyata arena rekreasi yang cukup prestisius itu, penuh dengan para pengunjung. Hampir pada semua jenis permaian, selalu terbentuk antrian yang cukup panjang. Banyaknya manusia yang berjubel di sana, seakan membuktikan tidak ada imbas dari krisis keuangan global di Indonesia ini.

Saya berusaha berprasangka baik, bahwa boleh jadi mereka baru berkunjung setelah 5 tahun mereka tidak berkunjung seperti saya. Atau mereka yang berkunjung adalah orang-orang yang menghargai wisata sebagai bentuk pendidikan dan penyegaran bagi anak, bukan dimaksudkan untuk berhura-hura atau kesenangan pribadi. Atau mereka yang berkunjung adalah mereka yang selama ini belum pernah menyaksikan secara nyata wujud Dunia Fantasy, meskipun mereka sudah belasan tahun tinggal di Jakarta. Yah, apapun motifnya asal bukan untuk berhura-hura dan kesenangan pribadi, atau sepanjang mereka menyadari bahwa mereka harus menjaga diri dari perilaku “demonstratif” karena situasi yang masih diliputi krisis, maka pilihan mereka berwisata ke sana adalah pilihan yang masih dalam taraf kewajaran dan bisa dimaklumi.

Namun ada satu hal yang tidak bisa saya pahami. Yaitu ketika saya banyak menyaksikan pasangan muda-mudi yang rasanya memiliki tujuan selain dari yang saya sebutkan di atas. Saya perhatikan mereka begitu mesra menikmati keberduaan. Ketika mereka menaiki kereta Bianglala, perahu ayun Kora-kora, kereta luncur Niagara, Jet Coaster, Tornado, menikmati film Extreme Log, atau aneka permain lain yang menegangkan, selalu saja ada kesempatan untuk saling bersentuhan, berangkulan, tangan melingkar di pinggang, atau aksi bermesraan lainnya. Aduh, sayang RUU Pornoaksi tidak jadi Undangkan. Andai sekarang ini, ia sudah diberlakukan, boleh jadi mereka takut melakukan tindakan yang bisa mengarahkan mereka pada tindak perzinahan itu.

Jika perempuan yang terlibat aksi bermesraan itu adalah perempuan yang mengenakan pakaian "ala kadar"-nya, barangkali saya tidak begitu memperdulikan. Tetapi yang saya lihat saat itu adalah perempuan-perempuan yang mengenakan jilbab. Kesannya tidak elegan, karena masih banyak masyarakat yang mengkonotasikan pakaian taqwa bagi muslimah dengan mengenakan jilbab, tanpa memandang apakah jilbab yang dikenakannya itu sesuai dengan butir-butir syariah atau tidak.

Jika saya tahu bahwa dari tampilan mereka sebenarnya mereka tidak mencerminkan kepatuhan pada firman Allah SWT dalam QS 33:59, apakah mereka sendiri dan orang banyak juga tahu? Saya menyaksikan sebagian mereka mengenakan celana panjang dan blus yang belum menutupi sepenuh pinggulnya. Sebagian lagi mengenakan jilbab dan membiarkan lekukan dadanya terlihat. Sebagian lagi mengenakan blus yang menutupi sepenuh pinggul, tetapi beberapa aurat lain seperti bagian tangan dan kaki, masih kelihatan. Dan sebagian lainnya masih memperlihatkan rambut dan batang leher. Jelas, bahwa tampilan mereka berbeda dengan tampilan muslimah yang benar-benar berjilbab yang saya saksikan. Tetapi sayangnya, masyarakat tidak memperhatikan detail-detail seperti itu.

Akibatnya, timbullah pernyataan yang bernada negatif bahwa tidak semua yang berjilbab itu baik. Oleh karenanya, tidaklah perlu memaksakan diri mengenakan jilbab, yang penting hatinya baik dahulu. Tidak salah memang, tetapi terkesan bahwa syariah Islam itu tidak memiliki signifikansi apa-apa. Alangkah lebih bijaknya jika kita mengatakan bahwa tidak semua yang mengenakan jilbab itu memahami arti jilbab yang sebenarnya. Jadi yang bermasalah adalah orangnya, manusianya, dan bukan pada perintahnya.

Jika kita dalami, mereka yang mengenakan jilbab (dalam arti sejatinya) adalah mereka yang berusaha mentaati perintah Allah SWT dengan sepenuh hati. Dan ketaatan mereka ini senantiasa terpancar meski banyak pihak yang mengkaburkan dengan jilbab-jilbab “palsu”. Fenomena ini tidak jauh beda dengan fenomena sholat. Mereka yang senatiasa sholat (berjamaah di masjid) adalah mereka yang berusaha mentaati Allah SWT dengan sepenuh jiwa. Meski ada sebagian yang melakukan sholat tetapi tetap melakukan perbuatan keji dan mungkar, maka yang menjadi pihak tertuduh bukanlah sholatnya itu (syariahnya), tetapi keimanan orang itulah yang masih teramat lemah, sehingga tindakan satu belum berbanding lurus (konsisten) dengan tindakan lainnya.

Pemandangan muslimah berjilbab yang saya temui, cukup memberi hikmah bahwa manusia itu adalah sumber kelemahan dan kesalahan. Dalam permasalahan apapun, hendaknya kita selalu menyadari akan sifat asasi dari manusia ini. Hal ini bermanfaat agar kita selalu bisa mengambil tindakan yang proporsional dan tidak berlebih-lebihan. Mungkin sebagai contoh, atas tindakan muslimah berjilbab yang masih bermesraan dengan laki-laki yang bukan muhrimnya itu, saya lebih cenderung untuk memberikan nasehat dan pencerahan dibanding dengan harus memberikan umpatan dan caki-maki. Adalah wajar jika mereka masih awam, karena kita belum memberikan pemahaman yang utuh dan sebenarnya.

Dengan tindakan ini maka mudah-mudahan mereka bisa berubah menjadi lebih, bukan malah menjadikan mereka hancur berkeping-keping karena sakit hati.