Sosial

Sosial

Thawaf Ifadhah dan Kebaktian Anak pada Orang Tua


Beberapa kali menunaikan ibadah haji, saya menyaksikan suasana di Masjidil Haram paling padat adalah di masa-masa itu. Jama’ah haji sepertinya bertumpah ruang di tempat yang sesunguhnya terbatas ini. Sehingga, halaman masjidil Haram di sekitar Ka’bah penuh sesak dengan orang-orang yang sedang thawaf. Sehingga, thawaf memerlukan waktu lama, kadang-kadang hampir-hampir sulit bergerak. Sekalipun menyaksikan lokasi yang penuh sesak seperti itu, semangat mereka melakukan thawaf tidak surut. Bisa jadi thawaf dalam keadaan seperti itu baru selesai tujuh kali puratarn memakan waktu berjam-jam, adahal jika waktu longgar bisa diselesaikan sekitar setengah jam saja. Jika keadaan di halaman Ka’bah penuh sesak seperti itu, maka para jama’ah mengambil tempat thawaf di Masjid, baik di lantai dua atau tiga. Konsekuensinya thawah akan lebih lama lagi, karena putaran lebih melebar, sehingga memerlukan waktu yang lebih lama. Dahulu, orang-orang yang udzur apakah karena lanjut usia dan atau sakit, thawaf menggunakan jasa tandu, dan pelaksanaannya di halaman Ka’bah pula. Oleh karena para pemikul tandu itu adalah orang-orang yang sangat berpengalaman dan berharap sesegera mungkin menyelesaikan tugasnya, maka mereka memaksa mengambil jalan, dan sangat mengganggu orang yang sudah berdesak-desakan. Sambil mengatakan thorik-thorik, maksudnya minta jalan, mereka menerobos kerumunan yang sudah sesak, sehingga tiak jarang mengakibatkan orang yang thawaf lainnya kalang kabut, terganggu oleh mereka itu. Untungnya, orang yang sedang thawaf, biasanya mampu menahan kesabarannya. Setelah menyelesaikan thawaf tuju kali putaran, jama’ah haji sholat sunnah di sekitar maqom Ibrahim, dan kalau memungkinkan juga di Hijir Isma’il. Pelataran dalam yang dibatasi oleh tembok yang menyatu dengan bangunan Ka’bah, itulah Hijir Isma’ail. Wilayah itu dipandang sebagai bagian dari Ka’bah, sehingga jika kita berhasil sholat di tempat itu, maka dianggap sama dengan sholat di dalam Ka’bah. Tidak semua jama’ah haji berhasil sholat di hijir Isma’il karena padatnya. Begitu juga tidak semua orang bekesempatan mencium hajar aswat, karen penuh sesaknya manusia di tempat itu. Rangkaian kegiatan selanjutnya setelah thawaf adalah menjalankan sa’i, yaitu jalan kali dari bukit Shofa ke Marwa, juga sebanyak tujuh kali. Perjalanan dari Shofa ke Marwa dihitung sekali, sehingga setelah sampai ke Shofa lagi dari Marwa dianggap telah mendapatkan dua kali putaran. Di tempat ini, di saat-saat thawaf ifadhah sedemikian padatnya, sampai-sampai beberapa saat, jama’ah berhenti bersama-sama sambil berdiri, karena tidak ada jalan sedikitpun untuk bergerak. Suasana bisa jadi sangat padat. Kadang jauh lebih padat dari pada di halaman Ka’bah. Tempat ini sekarang lagi diperluas, dan kalau sebelumnya hanya terdiri atas dua lantai, maka saat ini, selain diperluas mas’a juga ditambah menjadi tiga lantai. Baik pelaksanaan thawaf maupun sa’i dalam rangkaian ifadhah, memang benar-benar berat, harus bergerak di tempat yang sulit bergerak, karena padatnya manusia. Tetapi untungnya, sekalipun berdesak-desakan seperti itu, mungkin ada di antara jama’ah yang merasa terdorong, terinjak kakinya, terkena siku yang kadang juga sangat sakit, tetapi tidak ada orang yang marah. Mereka sabar menjalankan ibadah itu. Sekalipun mereka berasal dari berbagai negeri, yang berukuran badan serta warna kulit dan rambut yang berbeda-beda, tetapi ketika sedang di tempat-tempat suci -----di halaman sekitar Ka’bah, di tempat Sa’i dan lain-lain, sekalipun bergesek-gesekan, tidak pernah ada yang merasa tersinggung, dianggap rendah atau merasa diganggu. Semua berperasaan sama, yaitu sedang beribadah, mendekat pada Allah swt. Dalam suasana seperti itu, sebuah pemandangan yang amat menarik bagi saya adalah tatkala menyaksikan anak-anak muda, laki-laki atau perempuan, mendorong ayah atau ibunya yang sudah tua atau yang lagi sakit dengan kursi roda melakukan thawaf atau sa’i. Saya benar-benar iri dengan mereka itu. Saya mengandai-andai, alangkah bahagianya jika saya juga memiliki kesempatan membawa ayah atau ibu saya yang sudah tua, lalu saya dorong-dorong di sekitar Ka’bah, saya ajak mereka berdo’a, menyebut asma Allah, Yang Maha Besar dan Maha Suci. Bagi saya pemandangan itu -----anak-anak muda yang berbakti pada orang tua, di waktu-waktu mendekat pada Allah, adalah merupakan keindahan yang luar biasa. Melihat pemandangan seperti itu, saya benar-benar iri. Andaikan mungkin, saya mau teriak memanggil ayah dan ibu saya, lalu beliau saya dorong dengan kursi roda di sana. Hanya saja itu tidak mungkin saya lakukan, karena kedua orang tua saya sudah lama dipanggil menghadap Allah swt, selama-lamanya, mereka sudah wafat. Saya bersyukur, pada saat haji yang pertama kali pada tahun 1992, saya berkesempatan bersama Ibu. Tetapi karena ibu masih dalam keadaan sehat, semua syarat dan rukun haji bisa ditunaikan sendiri, tanpa pertolongan orang lain, saya tidak berkesempatan menolongnya, kecuali sebatas mendampingi. Beberapa kali berkesempatan ibadah haji -----sebagai undangan dari pemerintah Saudi, saya menyaksikan keindahan yang sangat luar biasa itu. Anak-anak muda, berkesempatan menolong orang tuanya yang sudah udzur, berthawaf dan bersa’i. Mereka mendorong ibu atau ayahnya yang sudah tua dengan alat kursi roda, dengan sabar. Keindahan itu semakin mengharukan lagi, tatkala orang tuanya dilihat lelah, anaknya segera menghentikan kursi rodanya, lalu mengambilkan air Zam-Zam yang tersedia di sekitar itu, kemudian menyuruhnya anak itu pada orang tuanya meminum. Sungguh, saya iri dan kepingin melakukan hal yang sama, tetapi sekali lagi itu tidak akan mungkin saya lakukan selama-lamanya. Saya melihat pemandangan itu sebagai sesuatu yang luar biasa indahnya. Yaitu kebaktian anak muda pada orang tua, yang tulus. Keindahan itu menjadi lebih sempurna tatkala itu terjadi di tempat yang mulia, Masjidil Haram. Subhanallah, Allahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang