Sosial

Sosial

Haji dan Problem Bahasa Komunikasi


Keterbatasan bahasa komunikasi ini menjadikan mereka sekalipun ketemu tidak bisa saling tegur sapa. Umumnya mereka hanya mengenali penampilan fisik, misalnya jama’ah haji dari Turki, kulitnya keputih-putihan, biasanya berbadan besar. Jama’ah dari Afrika, berkulit hitam, tinggi besar. Mereka yang dari Sudan berkulit hitam, mengenakan surban tebal, dari Iran kulit mereka berwarna agak putih, tinggi dan mengenakan pakaian serba hitam. Sebaliknya dari Malaysia, Tailan, Pilipina dan sekitarnya, ukuran badannya kecil-kecil dan berkulit sawo matang. Kesan sebatas itu sajalah yang mereka ketahui dari ibadah haji ini. Memang tidak semua begitu, ada di antara jama’ah haji yang berpendidikan cukup, menguasai bahasa Inggris atau bahasa Arab. Hanya saja jumlahnya belum sebanding bilamana dibandingkan dengan besarnya jama’ah haji secara keseluruhan, masih sedikit. Saya pernah diundang pada mu’tamar Rabilthah Alam Islamy yang waktunya dibersamakan dengan pelaksanaan haji. Mereka yang diundang dan hadir adalah para tokoh muslim dari berbagai negara. Di sela-sela mi’tamar diselenggarakan pertemuan non formal sambil makan bersama. Pertemuan itu dipimpin oleh Dr.Abdullah al Turki, sekjen Rabithah Alam Islamy. Dalam kesempatan itu, secara bergantian satu demi satu diminta untuk memperkenalkan diri dan memberikan informasi tentang negerinya masing-masing, terutama terkait dengan kehidupan umat Islam. Mereka masing-masing menjelaskan tentang dakwah, pendidikan, kegiatan sosial dan lain-lain. Dari pengalaman pertemuan itu, saya kemudian membayangkan alangkah indahnya jika suatu saat nanti, umat Islam sudah maju, dan mampu berkomunikasi menggunakan bahasa internasional, semisal Bahasa Arab sebagai bahasa umat Islam se dunia, maka akan banyak lagi keuntungan yang diperoleh melalui momentum haji. Sementara ini karena hambatan bahasa itu, maka keuntungan yang didapatkan dari ibadah haji hanya sebatas keuntungan yang bersifat spiritual. Karena itu, sepulang haji biasanya yang dijadikan bahan cerita kepada orang-orang menyambutnya, sebatas hal-hal lahiriyah yang diperoleh melalui penglihatan, seperti bentuk tubuh dan warna kulit jama’ah haji dari berbagai negara sebagaimana dikemukakn di muka. Oleh karena jama’ah haji Indonesia termasuk besar jumlahnya dibanding jama’ah haji dari negara-negara lain, maka para pelayan toko atau penjual barang-barang di pasar, biasanya sedikit banyak -----sekalipun orang Arab mampu sedikit-sedikit Bahasa Indonesia. Setidak-tidaknya tatkala mereka menyebut besarnya uang atau bahasa populer terkait dengan pasar, misalnya : ”haji-haji, murah-murah, untuk oleh-oleh”, dan sejenisnya. Atau kalau mengalami kesulitan, biasanya mereka menggunakan bahasa isyarat, sehingga komunikasi mereka menyerupai orang yang menderita tunawicara. Inilah sedikit pemandangan jama’ah haji dalam berkomunikasi antar bangsa. Ternyata bahasa komunikasi masih merupakan problem mendasar yang semestinya perlu dicarikan jalan keluarnya. Atau, jika dicari hikmahnya, maka dengan tidak mampu saling berkomunikasi secara lisan, mereka menjadi rukun karena tidak ada perbedaan pendapat dari masing-masing pihak. Allahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang