Sosial

Sosial

Haji itu Memang Mahal


idak peduli. Sedangkan kalau hadir, jelas akan menambah beban. Tapi memang, ini adalah sebuah harga yang harus dibayar tatkala orang berusaha mempererat tali silaturrahmi. Oleh karena itu hitung-hitung, biaya haji memang mahal. Belum lagi, biasanya sepulang haji, setiap orang datang juga diberi oleh-oleh, berupa sajadah, tasbeh, kerudung, hambal, atau bentuk suveneer lainnya. Pokoknya harus ada oleh-oleh, sebagai buah tangan pulang haji. Memang mahal dan bahkan juga repot. Hanya akhir-akhir ini, barang-barang khas Arab bisa dibeli di Indonesia. Oleh karena itu, biasanya sebelum berangkat, jama’ah haji menyiapkan oleh-oleh itu. Atau, menggunakan jasa orang lain menyiapkannya. Inilah ibadah haji dengan berbagai rangkaiannya, yang ternyata tidak sederhana dan juga tidak murah. Apakah haji harus dilakukan seperti itu, tentu tidak. Tidak ada tasyakuran baik sebelum dan sesudahnya juga tidak mengapa. Hajinya jika dilakukan secara ikhlas, sungguh-sungguh diniati menunaikan perintah Allah dan mendekat kepada Nya, insya Allah hajinya mabrur. Kemabruran bukan terletak pada besarnya acara tasyakuran dan juga jenis dan kualitas oleh-oleh sepulang haji yang dibagikan pada tetangga, sahabat, kenalan, tetapi justru karena niat dan keikhlasannya menjalankan ibadah itu. Bahkan, acara-acara lain yang menyertai itu, seperti tasyakuran dan pengadaan oleh-oleh yang berlebih-lebihan, jika tidak ikhlas apalagi dibarengi keinginan untuk pamer dan lain-lain, maka justru bisa mengurangi nilai ketulusan haji. Islam melarang hidup ini berlebih-lebihan. Islam mengajarkan kepada ummatnya agar hidup sederhana. ”Makanlah dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan”, inilah tuntunan Islam. Selanjutnya jika dihitung, ternyata biaya haji jauh melebihi biaya kuliah empat tahun, khususnya untuk fakultas atau jurusan tertentu. Fakultas ilmu-ilmu sosial -----hukum, pendidikan, ekonomi, administrasi dan sejenisnya, yang berada di kota kecil, tidak terlalu mahal. Tetapi, untuk biaya kuliah fakultas kedokteran, di mana saja mahal. Kecuali di Iran, negeri yang dipimpin oleh Ahmad Dinejad, perguruan tinggi dilarang memungut biaya sedikitpun kepada mahasiswa fakultas kedokteran. Jika mahasiswa kedokteran dipungut biaya pendidikan, Pemerintah khawatir, setelah lulus mereka akan balik memungut biaya mahal kepada para pasiennya. Pasien yang sudah menderita, oleh pemerintah tidak dibolehkan dokter memperberat lagi dengan harus membayar mahal. Inilah cara pemerintah di sana dalam melindungi rakyatnya yang seharusnya mendapatkan pertolongan. Mahalnya biaya haji seperti itu, lebih-lebih sejak beberapa tahun terakhir ini, peminat haji harus antri bertahun-tahun menunggu giliran. Ibadah haji bagi bangsa Indonesia, tidak sebagaimana dulu bisa dilakukan setiap tahun, sekarang harus menunggu antara tiga sampai empat tahun dan bahkan lebih. Oleh karena itu wajarlah, jika keinginan mendapatkan haji mabrur, bukan saja datang dari orang-orang yang menjalankan haji itu sendiri, melainkan datang dari semua orang yang menyaksikan keberangkatan ke tanah suci. Harapan itu, selain dengan doa, juga semacam teguran halus jika seorang yang telah menunaikan ibadah haji melakukan sesuatu tindakan yang dianggap kurang sepantasnya. Misalnya, dengan mengatakan bahwa : ”sudah haji masih saja belum rajin sholat jama’ah maghrib, isya’ apalagi subuh. Padahal suara adzan dari masjid sekalipun tidak menggunakan pengeras suara selalu terdengar dari rumahnya”. Komentar seperti ini muncul, karena memang masyarakat selalu menghendaki apa yang seharusnya terjadi, benar-benar dapat diwujudkan dalam kenyataan sehari-hari. Harapan masyarakat seperti itu kiranya sangat baik semakin ditumbuh-kembangkan, agar terjadi saling menjaga dan mengontrol, dan bahkan juga saling menasehati tentang kebaikan dan kebenaran. Yang diperlukan, dalam hal itu, bagaimana agar di antara mereka tidak tersinggung atau sakit hati. Peringatan semacam itu menjadi sangat penting, mengingat biaya dan kesempatan mendapatkan gelar haji memang mahal, dan bahkan bisa jadi lebih mahal dari biaya mendapatkan gelar sarjana strata satu (S1). Allahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

.

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang