Sosial

Sosial

Keberagaman dI Era Global dan Reformulasi Bangunan Keilmuan di Perguruan Tinggi Islam


globalisasi, yang berciri khas kecepatan perkembangan sains dan teknologi. PTAI dimotivasi untuk memperkuat eksistensi dan perannya di era global, yang di satu sisi mengharuskannya berupaya mengembangkan kreativitas untuk menemukan solusi zaman yang terbaik, dan di sisi lain tetap mempertahankan jati dirinya sebagai lembaga pendidikan Islam. Mereka harus melakukan dan memerankan diri sebagai agent of change sembari memperkuat identitas Islam. Ada proses perubahan beradab seperti disebut sebagai continuity and change (ats-sawâbit wal-mutaghayyirât). Namun, jika konsisten dengan tuntutan atau berbagai tuntutan akomodasionis PTAI di era global, maka dari sudut pengembangan keilmuan dan perluasan peran PTAI, maka diperlukan sebuah keputusan poltis yang lebih berani dan terbuka, misalnya membuka peluang konversi menuju universitas. Dalam konteks keberagamaan, masyarakat telah mulai menunjukkan dan ditunjukkan berbagai model dan tipe respons keagamaan, yang kita kenal dengan keberagamaan (religiousity). Makna keberagamaan menjadi begitu luas, yang sangat mungkin masyarakat Islam kebanyakan akan merasa sulit menerimanya sebagai sebuah fenomena. Lembaga Pendidikan Islam, seperti halnya PTAI, pun tidak mudah untuk mengembangkan bentuk-bentuk pelayanan keagamaannya agar selaras dengan keperluan zaman. Demikian pula dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan, PTAI pun masih belum beranjak dari problem keilmuan klasik yang kurang akomodatif terhadap perkembangan sains dan teknologi modern. Tulisan di bawah ini membahas faktor fundamental keberagamaan di era globalisasi, yang berbasis pada bentuk pengembangan ilmu pengetahuan di perguruan tinggi, dan menciptakan pengaruh-pengaruh yang signifikan terhadap pola-pola responsi atas keberagamaan masyarakat yang berkembang mengikuti pola zaman. Keinginan Memperluas Peran Akhir-akhir ini, di kalangan perguruan tinggi Islam muncul fenomena menarik, yaitu timbulnya keinginan meningkatkan status kelembagaan yang selama ini disandang. Yang berstatus sekolah tinggi—misalnya STAIN—berkeinginan meningkat menjadi sebuah institut—yakni IAIN; dan yang berstatus institut, selanjutnya berkeinginan meningkat menjadi universitas—dalam hal ini menjadi UIN. Bahkan, jika memungkinkan, yang berstatus sekolah tinggi pun juga berkeinginan menjadi universitas. Fenomena itu sesungguhnya tidak saja terjadi di kalangan perguruan tinggi Islam negeri (PTAIN); akan tetapi, hal itu juga dikehendaki oleh perguruan tinggi agama selain Islam, seperti Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) maupun juga Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri (STAKN). Mereka juga ingin terus meningkatkan status kelembagaan mereka, dengan maksud dan tujuan yang agar lembaga pendidikan yang dikembangkan lebih sesuai dengan pemahaman agama yang mereka yakini kebenarannya. Fenomena ini seringkali memunculkan pertanyaan, mengapa keinginan itu sedemikian kuatnya, sehingga berbagai cara dilakukan. Bukankah bentuk kelembagaan yang sudah ada itu saja, jika dikembangkan dan ditingkatkan kualitasnya secara maksimal sudah akan menjadi kebanggaan masyarakat? Pertanyaan senada atas prakarsa perubahan itu juga seringkali muncul: Mengapa harus berubah? Bukankah selama ini me-manage perguruan tinggi yang sudah ada ini saja belum berhasil meningkatkan kualitasnya? Bukankah dengan meningkatnya status kelembagaan itu justru kualitasnya akan bertambah merosot, padahal selama ini lembaga pendidikan yang dikembangkan sudah dipandang rendah hasilnya? Agama dan pendidikan, dalam sejarahnya, memang tidak pernah dapat dipisahkan. Orang beragama selalu memiliki motivasi instrinsik untuk mengembangkan pendidikan. Orang beragama, karena cinta dan keyakinannya yang mendalam terhadap agamanya, ingin mentransmisikan pemahaman dan tradisi keagamaan mereka kepada generasi selanjutnya secara utuh dan berkualitas. Keinginan seperti itulah yang mendorong para agamawan membangun bentuk lembaga pendidikan sebagai wahana melakukan transmisi ajaran agama. Tampaknya, fenomena demikian terjadi di mana-mana dan bersifat universal. Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa tradisi munculnya lembaga pendidikan dimulai dari kalangan agamawan. Universitas Al-Azhar di Mesir, yang merupakan perguruan tinggi tertua di dunia, didirikan pada tahun 970 oleh para ulama. Begitu juga perguruan tinggi besar di Barat, Universitas Harvard yang berdiri pada tahun 1636 di Cambrigde, Massachusset, Amerika serikat, dan merupakan universitas paling prestigius, pada awalnya adalah merupakan lembaga pendidikan yang dirintis oleh para agamawan, seperti John Harvard yang namanya diabadikan sebagai nama universitas. Tidak perlu jauh-jauh, di Indonesia misalnya, sebelum lahir tradisi universitas, telah ada di mana-mana pondok pesantren yang dirintis oleh para ulama. Demikian pula sejarah lahirnya perguruan tinggi. Sebelum lahir universitas negeri di Indonesia, terlebih dahulu lahir perguruan tinggi yang dirintis oleh para tokoh agama Islam, yakni Universitas Islam Indonesia (UII). Justru berawal dari UII inilah kemudian dikembangkan menjadi IAIN Sunan Kalijaga dan Universitas Gajah Mada Yogyakarta, dan kemudian muncul universitas-universitas lainnya di berbagai daerah. Membaca sejarah pertumbuhan lembaga pendidikan seperti itu, kita memahami bahwa di kalangan masyarakat Islam yang tingkat keberagamaannya kuat, selalu memiliki motivasi yang tinggi untuk melakukan perubahan dalam upaya memenuhi idealisme keberagamaannya. Atas dasar penglihatan sejarah itu, lembaga pendidikan yang didasari oleh motivasi agama, selalu memiliki dorongan kuat untuk berkembang. Kekuatan penggerak itu di antaranya berupa semangat berkorban (yang dalam Islam, kata berkorban ini diderivasi dari qurbân, yang berarti pendekatan diri kepada Tuhan). Hanya saja, memang, kita tidak boleh menutup mata, bahwa semangat membangun lembaga pendidikan di kalangan masyarakat religius, khususnya Islam, masih sebatas kesadaran bereksistensi (how to exist atau how to survive) dan belum sampai pada kesadaran ke arah kualitas (how to be progressive and competitive). Kebanyakan perguruan tinggi Islam belum sampai pada semangat mengembangkan kualitas daya saing (competitiveness) atau daya beda (differentiation), atau daya unggul (excellencies). Mereka belum bersemangat untuk menciptakan improvisasi-improvisasi baru, seakan takut kalau-kalau improvisasi baru itu membawa konsekuensi terkurasnya sumber-sumber biaya, tenaga, dan waktu. Tidak tertutup kemungkinan, para pimpinan perguruan tinggi merasa khawatir popularitasnya akan merosot jika mengembangkan improvisasi-improvisasi, yang dalam kenyataannya sering dipandang aneh, atau bahkan dipandang sebagai "langkah gila!". Ketakutan-ketakutan dalam jiwa yang tidak memiliki basis legitimasi yang kuat ini harus dilawan, kendatipun perjuangan melawan ini dapat dikategorikan sebaga "jihad akbar", yaitu jihâd an-nafs, jihad melawan kelemahan diri sendiri, melawan kepentingan-kepentingan diri, atau melawan kepentingan-kepentingan sederhana. Keilmuan PTAI: Perlunya Reformulasi Tulisan ini, secara terbatas, terfokus pada persoalan pengembangan keilmuan yang seharusnya dibangun oleh perguruan tingi Islam. Dalam pandangan saya, pengembangan keilmuan, khususnya di lingkungan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri, tidak lepas dari berbagai persoalan yang terkait dengan simbol "Islam", yang merupakan ciri khas dan basis intelelektual, moral, dan spiritual; juga perangkat pendukung (sumber-sumber pengembangan) yang tersedia, serta aturan-aturan birokratis yang harus dipenuhi tatkala pengembangan keilmuan akan dibuka dan dimulai. Faktor lain yang tidak kalah pentingnya, yang perlu dipikirkan, adalah pertimbangan relevansi atau aspek pragmatis, yaitu sejauh mana hasil pembukaan itu memiliki relevansi dengan kehidupan atau kebutuhan masyarakatnya. Jangan sampai apa yang diupayakan dengan susah payah dan penuh pengorbanan tersebut justeru tidak banyak membawa manfaat, atau bahkan—meminjam istilah Pak Marwan Saridjo, mantan Sekjen Departemen Agama—para lulusan perguruan tingi kita akan sekedar menjadi korban idealisme kita. Di sinilah kita perlu waspada, bijaksana, dan penuh pertimbangan. Setiap hasil dan risiko harus dapat dikalkulasi, calculated dan accountable. Namun, juga kewaspadaan kita ini tidak boleh menjadikan kita terkungkung untuk maju; demikian juga, semangat besar untuk berubah menjadi maju, tidak boleh menjadikan kita ngawur, sehingga mengorbankan banyak pihak. Kita hanya waspada, hati-hati, jangan-jangan kita termasuk ke dalam kelompok yang disindir oleh Allah dalam Qs. Al-Kahfi 104-106, yaitu: الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا(104)أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا (105) ذَلِكَ جَزَاؤُهُمْ جَهَنَّمُ بِمَا كَفَرُوا وَاتَّخَذُوا ءَايَاتِي وَرُسُلِي هُزُوًا(106) ("Mereka yang perbuatannya sia-sia dalam kehidupan dunia ini; namun, mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu adalah orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Tuhan mereka dan mengingkari juga terjadinya perjumpaan dengan-Nya. Oleh karena itu, sia-sialah kerja mereka, dan Kami tidak perlu lagi mengadakan evaluasi terhadap (kerja) mereka pada hari kiamat. Balasan untuk mereka itu adalah neraka Jahannam, yang disebabkan keingkaran mereka, serta menjadikan ayat-ayat-Ku dan para Rasul-Ku hanya sebagai gurauan"). Struktur Keilmuan dan Budaya Kampus Islam Salah satu hal yang menjadi kegelisahan bagi kalangan perguruan tinggi Islam pada akhir-akhir ini adalah menyangkut cara memandang agama (ad-dîn) dan ilmu (al-'ilm) yang bersifat dikotomik, yakni yang menempatkan masing-masing—agama dan ilmu—secara terpisah. Ajaran Islam yang secara ideologis diyakini bersifat universal, ternyata pada tataran implementasi justru diposisikan secara marginal dan dipandang kurang memberikan kontribusi yang signifikan kepada pengembangan peradaban umat manusia. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang gegap gempita, yang dapat kita saksikan saat ini, dipandang bukan merupakan sumbangan perguruan tinggi Islam, melainkan produk karya perguruan tinggi yang tidak membawa-bawa label "Islam". Perguruan tinggi Islam, khususnya di Indonesia, masih sibuk mengurus pengembangan ilmu-ilmu keagamaan an sich, seperti ushuluddin, ilmu syariah, ilmu tarbiyah, ilmu adab dan ilmu dakwah. Jika sebatas bidang ilmu "keagamaan" itu saja yang dikembangkan, maka hal itu akan mengundang persepsi bahwa Islam yang disebut-sebut bersifat universal itu ternyata sesempit itu, dan karenanya idealisme Islam universal itu tidak pernah menjadi kenyataan. Maka masih perlu diskusi atau seminar untuk mendapatkan hasil berupa format baru mengenai bentuk integrasi kedua jenis pengetahuan (pengetahuan keagamaan—devine knowledge—dan sains—scientific knowledge), di mana yang satu kebenarannya bersifat mutlak, karena bersumber dari Yang Maha Tahu; sedangkan yang lainnya—yakni sains—adalah temuan ilmiah yang kebenarannya bersifat relatif, karena merupakan hasil temuan manusia dari kegiatan riset dan kekuatan akalnya yang setiap saat dapat diverifikasi. Lewat hasil perenungan yang cukup lama dan mendalam, tatkala dihadapkan oleh problem cara pandang dikotomik, yakni pemisahan agama (khususnya Islam) dan ilmu, sehubungan dengan peran saya sebagai pimpinan STAIN Malang, akhirnya saya menemukan format yang mungkin tepat dijadikan bahan diskusi kali ini. Selama ini, kajian ilmu ke-Islaman (Islamic studies) keluar dari mainstream pembidangan ilmu yang berlaku pada umumnya. Setahu saya, ilmu dapat dikategorisasikan menjadi tiga, yaitu ilmu-ilmu alam (natural sciences), ilmu-ilmu sosial (social sciences), dan humaniora. Ketiga jenis ilmu pengetahuan itu memiliki konsep, obyek kajian, serta metodologi pengembangannya masing-masing. Ilmu-ilmu alam pada garis besarnya terdiri atas ilmu fisika, biologi, kimia dan matematika. Berangkat dari ketiga ilmu murni ini selanjutnya berkembang ilmu-ilmu terapan (applied sciences), seperti ilmu kedokteran, ilmu teknik, ilmu kelautan, ilmu pertambangan, ilmu pertanian dan lain-lain. Ilmu-ilmu ini pun berkembang membentuk cabang yang lebih spesifik dan beraneka ragam. Demikian pula ilmu-ilmu sosial, yang pada awal mula mencakup ilmu sosiologi, ilmu psikologi, ilmu antropologi, dan sejarah, kemudian berkembang pesat sehingga melahirkan jenis atau bidang ilmu yang lebih bersifat terapan, seperti ilmu hukum, ilmu ekonomi, ilmu pendidikan, ilmu administrasi, ilmu politik dan lain-lain. Ilmu humaniora terdiri atas filsafat, bahasa dan sastra, dan seni. Sementara itu, ilmu agama Islam yang dijadikan bahan kajian di IAIN/STAIN, ditempatkan pada posisi yang berbeda dengan—atau bahkan di luar—tiga jenis ilmu pengetahuan yang telah disebutkan di atas. Akibatnya, kemudian disusun cabag ilmu tersendiri sebagaimana yang kita kembangkan selama ini, yaitu ilmu-ilmu kegamaan, atau ilmu-ilmu yang kita anggap ilmu-ilmu ke-Islaman, seperti ilmu ushuluddin, ilmu syariah, ilmu tarbiyah, ilmu dakwah, dan ilmu adab. Ilmu-ilmu "ke-Islaman" ini kemudian terlembaga di perguruan tinggi agama Islam dalam bentuk berbagai jurusan dan program studi. Akibat selanjutnya adalah terjadinya apa yang disebut cara pandang dikotomik terhadap ilmu pengetahuan, yaitu memisahkan ilmu agama Islam dari ilmu umum atau ilmu modern. Terma "ilmu agama Islam" dan "ilmu umum" atau "ilmu modern" itu sendiri sesungguhnya seringkali melahirkan perdebatan panjang. Sebab, kategori agama dan umum dipandang kurang tepat. Kata "umum" semestinya dibedakan dengan kata "khusus"; namun, anehnya, kata "umum" dikontraskan dengan "agama". Kesan yang muncul adalah bahwa "Islam" bukanlah "universal", "Islam“ menjadi bagian dari "ilmu-ilmu umum", dan akhirnya "Islam " dikonstruk menjadi lebih sempit dari cakupannya yang sesungguhnya lebih universal itu. Persoalan ini tampaknya sederhana. Namun, menurut hemat saya, cara pandang dikotomik tersebut membawa implikasi yang cukup luas. Islam kemudian menjadi terkesan sempit, dan tidak tergambar sifat universalitasnya, seperti yang kita yakini selama ini. Bahkan, dalam diri kita, boleh jadi timbul kesan seolah-olah Islam tidak banyak memberikan kontribusi bagi perkembangan peradaban umat manusia, termasuk bagi kemajuan-kemajuan hidup kita. Dengan Islam, kita kemudian merasa tertinggal, kuno dan tidak bisa mengikuti perkembangan zaman. Padahal, seharusnya tidak demikian. Menurut hemat saya, ilmu-ilmu ke-Islaman tidak perlu diletakkan pada mainstream kategori ilmu pada umumnya itu. Yang membedakan ilmu yang dikembangkan oleh perguruan tinggi Islam dengan ilmu yang dikembangkan perguruan tinggi pada umumnya terletak bukan pada jenis ilmu, melainkan pada sumber kajian (sources of knowlede)-nya. Perguruan tinggi Islam, dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, menurut hemat saya, bersumber pada ayat-ayat qawliyyah dan ayat-ayat kawniyyah sekaligus. Ayat-ayat qawliyyah yang dimaksud adalah al-Qur’an dan al-Hadis; sedangkan ayat-ayat kawniyyah-nya adalah hasil-hasil observasi, eksperimen dan kekuatan akal atau rasio. Berbeda dengan perguruan tinggi agama Islam, perguruan tinggi pada umumnya mengembangkan ilmu sebatas yang bersumber pada ayat-ayat kawniyyah itu saja. (periksa lampiran). Dari segi kurikulum, pengembangan keilmuan di Perguruan Tinggi Agama Islam, sebagai upaya untuk memperjelas integrasi “agama dan ilmu umum” itu, yang istilah ini sesungguhnya saya kurang menyukai, saya gunakan metafora sebuah pohon yang tumbuh subur, kuat, rindang, dan berbuah sehat dan segar. Akar yang kukuh menghujam ke bumi, saya gunakan untuk menggambarkan ilmu alat yang harus dikuasai secara baik oleh setiap mahasiswa, yaitu Bahasa Arab dan Bahasa Ing gris, logika, pengantar ilmu alam, dan ilmu sosial. Batang pohon yang kuat itu saya gunakan untuk menggambarkan kajian dari sumber ajaran Islam, yaitu al-Qur’an, al-Hadis, pemikiran Islam, sirah nabawiyah, dan sejarah Islam. Sedangkan dahan yang jumlahnya cukup banyak saya gunakan untuk menggambarkan sejumlah ilmu pada umumnya dengan berbagai cabangnya, seperti ilmu-ilmu alam, ilmu sosial dan humaniora. Sebagai sebuah pohon, ia harus tumbuh di atas tanah yang subur. Tanah subur, di mana pohon itu tumbuh, saya gunakan untuk menggambarkan adanya keharusan menumbuh-kembangkan kultur kehidupan kampus yang berwajah Islami, seperti kehidupan yang dipenuhi oleh suasana iman, akhlak yang mulia, dan kegiatan spiritual. Sedangkan pohon itu sendiri menggambarkan bangunan akademik yang akan menghasilkan buah yang sehat dan segar. Buah yang dihasilkan oleh pohon saya gunakan untuk menggambarkan produk pendidikan Islam, yaitu imân, amal shâlih dan akhlâkul karîmah. Konsep tersebut, menurut hemat saya, cukup ideal. Oleh karena itu, implementasinya tidak akan mencukupi jika hanya mengikuti ukuran yang dikembangkan oleh pemerintah—dalam hal ini Departemen Agama, atau juga Departemen Pendidikan Nasional, dengan menggunakan sistim SKS sebagaimana yang berjalan selama ini. Agar mahasiswa benar-benar mampu menggali pengetahuan yang bersumberkan ajaran Islam yaitu al-Qur’an dan al-Hadis serta sumber-sumber ilmiah, maka perguruan tinggi Islam seharusnya memadukan tradisi perguruan tinggi dengan tradisi pesantren. Sebab, pada kenyataannya, input perguruan tinggi Islam (sebagai contoh UIN Malang) sekalipun mereka berasal dari lulusan Madrasah Aliyah, kemampuan berbahasa Arab untuk melakukan kajian Islam dari sumber aslinya masih sangat terbatas. Apalagi mereka yang berlatar belakang sekolah umum, SMU misalnya. Saya yakin, niat mulia UIN untuk mengintegrasikan agama dan ilmu, jika tidak dibarengi dengan kebijakan yang strategis dan inovatif, tidak akan membawa hasil yang memuaskan. Yang terjadi kemudian hanyalah seperti yang dialami oleh perguruan tinggi Islam swasta selama ini, antara ilmu agama dan umum masih saja terpisah dan belum terintegrasi. Yang membedakan perguruan tinggi Islam dengan perguruan tingi pada umumnya hanya sebatas jumlah mata kuliah agama Islam ditambah bobot sksnya. Jika demikian, menurut saya, tidak akan memenuhi harapan idealisme mengintergrasikan agama dan ilmu selama ini. Memperluas Batas Bidang Kajian Islam Selain menyangkut restrukturisasi pembidangan ilmu pengetahuan, sebagaimana dikemukakan di atas, mungkin perlu juga dikritisi kembali tentang apa yang disebut dengan ilmu ke-Islaman selama ini. Dalam perspektif konservatif, yang disebut sebagai ilmu ke-Islaman tidak lebih dari fiqh, tawhid, akhlak/tasawwuf, tafsir dan hadis, tarikh dan bahasa Arab. Selain itu jenis kategori ilmu-ilmu tersebut, dipandang bukan bagian dari ilmu yang terkait dengan Islam. Sebagian orang menyebutnya sebagai ilmu sekuler, atau ilmu yang terpisah dari Islam. Mungkin sudah saatnya kita mempertanyakan kembali, apakah cara pandang seperti ini masih harus dipertahankan? Lagi-lagi, jika ajaran Islam bersifat universal, penyebutan bidang ilmu ke-Islaman seperti itu tampaknya sudah tidak memadai. Jika kita lakukan kajian secara saksama, al Qur’an dan al-Hadis memuat pesan/informasi/penjelasan yang amat luas dan mengenai berbagai hal. Qs. Al-An'âm 38—yang penggalannya menyebutkan: "Tiada suatu apa pun yang Kami pisahkan dari atau lupakan dalam al-Qur'an." Al-Quran yang berfunsgi sebagai al-hudâ (atau petunjuk, misalnya dalam Qs. Al-Baqarah 1 dan 85, Muhammad 7, al-Jâtsiyât 11, al-Luqman 5, Fushshilât 44, al-Mu'min 54 dan lain-lain); sebagai tibyân (tibyânan li kulli syai'in, dalam hal apa saja, seperti dalam Qs. An-Nahl 89); sebagai furqân (pembeda yang benar dari yang salah, seperti dalam Qs. Âli 'Imrân 4); rahmah (seperti dalam Qs. An-Nahl 89), as-syifâ’(obat penyakit spiritual—atau bahkan obat penyakit fisik, seperti dalam Qs. Al-Isra' 82) ; sebagai al-busyrâ (kabar gembira, seperti dalam Qs. An-Nahl 89; dan lain-lain. sudah barang tentu tidak cukup memadai jika hanya dicover dari aspek fiqh, tauhid, akhlak/tasawwuf dan sejenisnya. Saya tatkala membaca misalnya Qs. Al-Ghasiyah 17-23: أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ (17) وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ(18) وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ (19) وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ (20) فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ (21) لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُسَيْطِرٍ (22) إِلَّا مَنْ تَوَلَّى وَكَفَرَ (23) pikiran saya tertuju pada hayalan-hayalan: bukankah kita semua dianjurkan untuk memperhatikan bagaimana persoalan biologi, fisika, kimia, dan lain-lain. Artinya, sesungguhnya al-Qur’an melalui potongan surah itu memberikan inspirasi dan dorongan untuk melakukan kajian pada obyek tidak saja persoalan fiqih, tawhîd, akhlak dan tasawwuf serta tarikh itu. Secara saksama saya mencoba mengkaji dan memahami al-Qur’an, sampai saya faham bahwa ternyata kitab suci itu memuat informasi yang luar biasa luasnya. Al-Qur’an ternyata bicara tentang Tuhan, penciptaan, manusia dengan berbagai sifat dan ciri-cirinya, berbicara tentang alam beserta hukum-hukumnya, berbicara tentang makhluk baik yang dapat dikenali oleh panca indera maupun yang abstrak (ghaib), seperti malaikat, jin, dan setan. Al-Qur’an juga berbicara tentang jagad raya (kosmos, al-'âlam)), berbicara tentang bumi atau tanah (al-'ardh), matahari (as-syams), bulan (al-qamar), bintang (an-nujûm), air (al-mâ'), gunung (al-jabal), petir (al-barq), laut (al-bahr), binatang (al-'an'âm, al-bahâ'îm) dan tumbuh-tumbuhan (an-nabâtât), dan lain-lain. Al- Qur’an juga berbicara tentang keselamatan (an-najât, al-falâh), baik di dunia dan di akhirat. Keselamatan dapat diraih oleh siapa saja asal mengikuti jalan Allah (as-shirat al-mustaqîm), yaitu beriman, ber-Islam dan ber-ikhsan. Selain harus melakukan amal shalih serta berakhlakul karimah. Semua ini diterangkan dalam al-Qur’an maupun Hadis Nabi. Berangkat dari pemikiran itu, sesungguhnya tidak akan sulit mengintegrasikan antara apa yang disebut dengan agama dan ilmu (sains) itu. Melalui al-Qur’an dan al-Hadis, akan diperoleh penjelasan dan petunjuk tentang alam dan jagat manusia, yang selanjutnya dapat dijadikan titik tolak (starting point) untuk melakukan eksperimentasi, observasi, dan juga kontemplasi. Demikian pula, hasil-hasil kajian ilmiah bisa digunakan untuk memperluas wawasan dalam rangka memahami kitab suci maupun Hadis Nabi tersebut. Cara berpikir seperti ini, mungkin dapat dijadikan sebagai pintu untuk melihat Islam dalam wilayah yang amat luas dan universal itu. Nasihat paling baik untuk ini bisa mengikuti apa yang dinasihatkan kepada Nabi Yusuf oleh ayahnya, seperti dalam penggalan Qs. Yusuf 67, yaitu: وَقَالَ يَابَنِيَّ لَا تَدْخُلُوا مِنْ بَابٍ وَاحِدٍ وَادْخُلُوا مِنْ أَبْوَابٍ مُتَفَرِّقَةٍ (Janganlah kalian masuk hanya melalui satu pintu; Sebaliknya, masukilah melalui berbagai pintu!) Lewat contoh sederhana, sewaktu saya belajar agama di sekolah menengah. Ketika guru saya menerangkan tentang air, rupanya hanya dilihat dari aspek fiqhnya, yakni air sebagai alat thaharah. Memang, fungsi air salah satunya adalah untuk bersuci. Akan tetapi, al-Qur’an juga mengatakan bahwa air juga sebagai sumber kehidupan وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ (Dan Kami buat segala sesuatu menjadi hidup dengan air; apakah kalian tidak percaya?). Informasi bahwa air sebagai sumber kehidupan ini kurang memperoleh penjelasan yang cukup, dan bahkan tidak memberikan inspirasi apa-apa. Padahal, dalam kontek kehidupan, betapa hal itu amat penting termasuk juga untuk memperkokoh keimanan kita. Biji-bijian yang kadangkala sedemikian keras, ternyata dapat pecah ketika terkena air. Sebagian bumi ini begitu subur oleh karena terdapat air yang cukup, dan sebaliknya tanah-tanah menjadi mati dan tandus oleh karena tidak ada air. Petunjuk al-Qur’an ini semestinya memberikan inspirasi bagaimana mengembangkan wilayah yang tandus. Menurut al-Qur’an, mestinya segera saja umat Islam membangun irigasi agar tanah yang mati dan tandus itu menjadi hidup subur yang selanjutnya memakmurkan penghuninya, baik manusia atau hewan. Uraian ini adalah sekedar contoh bagaimana belajar dari kitab suci, yang dapat difungsikan sebagai hudan lin nâs dan tibyânan li kulli syai'in itu. Pengembangan Bidang Keilmuan dan Pengalaman Mendapatkan Legitimasi Berangkat dari pemikiran integratif Islam dan ilmu sebagaimana dikemukakan di atas, maka sesungguhnya pengembangan jenis keilmuan di IAIN/STAIN atau pun UIN bisa dilakukan secara leluasa. Jenis program studi yang dipilih untuk dikembangkan tergantung pada kebutuhan daerah yang bersangkutan, ketersediaan tenaga pengajar serta sarana pendukung seperti tenaga dosen, perpustakaan, laboratorium dan lainnya. Pikiran integratif itu menjadikan perguruan tinggi agama Islam tidak harus terkungkung oleh batas-batas yang sempit selama ini, yaitu hanya sebatas fakultas ushuluddin, fakultas tarbiyah, fakultas adab, fakultas dakwah dan fakultas syariah. Katkala IAIN/STAIN/UIN membuka jurusan pendidikan, kemudian kajiannya sudah bersumber pada ayat-ayat qawliyyah dan kawniyyah, maka sudah sama artinya jurusan pendidikan itu dengan Jurusan Tarbiyah. Ketika IAIN/STAIN/UIN membuka jurusan ilmu hukum, kemudian kajiannya berdasarkan ayat-ayat qawliyyah dan ayat-ayat kawniyyah, maka sudah sama artinya dengan jurusan syariah. Demikian pula, jika perguruan tinggi ini membuka jurusan komunikasi, dan kajiannya sudah mendasarkan pada ayat-ayat qawliyyah dan kawniyyah, maka sudah sama artinya dengan menyelenggarakan jurusan dakwah, dan selanjutnya begitu pula ketika perguruan tinggi membuka jurusan ushuluddin maupun adab. Jika UIN/IAIN/STAIN dibolehkan membuka jurusan pendidikan, hukum, ilmu komunikasi, bahasa dan sastra dan filsafat maka semestinya juga dibolehkan untuk membuka jurusan dan bidang studi lainnya sepanjang aturan yang ada memungkinkan untuk itu. Sehingga, bisa jadi misalnya IAIN membuka program studi ilmu kelautan, ilmu pertanian, ilmu pertambangan, ilmu peternakan dan bahkan ilmu kedokteran dan lain-lain. Begitu juga STAIN semestinya memiliki peluang yang sama. Hanya, bedanya perguruan tinggi Islam ini dengan perguruan tinggi pada umumnya terletak pada sumber ilmu yang digunakan. Sekali lagi, perguruan tinggi Islam dalam kajiannya selalu menjadikan al-Qur’an dan al-Hadis sebagai sumber ilmu, yang selanjutnya sumber ilmu itu disebut sebagai ayat-ayat qawliyyah dan kajian ilmiah yang meliputi observasi, eksperimen dan kekuatan akal, selanjutnya disebut sebagai ayat-ayat kawniyyah. Perbedaan antara perguruan tinggi Islam dan lainnya bukan terletak pada jenis ilmu yang dikembangkan melainkan pada sumber ilmu yang dijadikan sebagai dasar pengembangannya. Dengan demikian, perguruan tinggi Islam diharapkan memiliki kawasan yang lebih luas, dan hal ini sejalan dengan pandangan Islam iu sendiri yang memiliki lingkup yang lebih luas dan kompehensip, bahwa dalam membangun manusia tidak saja sebatas pengembangan aspek intelektual, melainkan juga spiritual, sosial dan profesional sekaligus. Islam tidak saja mendasarkan kebenarannya pada penjelasan burhânî, tetapi juga penjelasan bayânî dan bahkan 'irfânî. Konsep integrasi Islam dan ilmu seperti itu, diharapkan melahirkan seorang sarjana yang memahami betul kitab suci al Qur’an dan hadits tetapi juga memahami disiplin ilmu modern tertentu pilihannya seperti misalnya ilmu pertanian, ilmu kelaulan, ilmu psikologi dan lainnya. Sekedar sebagai contoh di Indonesia kita mengenali orang seperti Jalaluddin Rakhmat, Syafii Maarif, Amin Rais, Abdurrahman Wahid, dan seterusnya. Mereka itu dapat memahami kitab suci Al-Qur’an dan al-Hadis, tetapi juga ilmu pengetahuan yang bersumber dari ayat-ayat kauniyah. Sekedar sebagai contoh, beberapa tokoh misalnya : Jalaluddin Rakhmat adalah ahli di bidang komunikasi, Syafii Maarif ahli di bidang filsafat, Amin Rais ahli di bidang politik, Abdurrahman Wahid memiliki wawasan yang luas tentang ilmu sosial dan politik serta lainnya. Mereka itu memiliki kemampuan untuk memahami kitab suci dan sekaligus menjadikan sumber pengetahuan. Jika perguruan tinggi Islam mampu melahirkan bibit-bibit ulama dan intelektual sekaligus seperti itu, maka akan memberi sumbangan besar pada bangsa Indonesia ini. Cara pandang ilmu secara integratif seperti ini semestinya juga sudah tidak perlu lagi mempertanyakan, di mana meletakkan fakultas, jurusan, atau prodi agama. Sebab, kajian Islam dengan struktur keilmuan seperti ini sudah included di dalamnya. Jika masih saja dipertanyakan, apalagi dikhawatirkan fakultas/ jurusan agama akan mati, memang demikian halnya. Akan tetapi, kajian agama akan menjadi lebih menarik dan memiliki kawasan yang lebih luas, jika didasarkan pada perspektif yang lebih luas mengenai Islam, bukan perspektif konvensional yang dikotomik dalam melihat agama dan sains. Selanjutnya, yang menjadi persoalan adalah menyangkut implementasi konsep atau pandangan itu. Jika IAIN/STAIN membuka fakultas, jurusan atau program studi seperti dikemukakan di atas, akan dianggap tidak lazim atau aneh oleh masyarakat dan bahkan juga oleh pemerintah. Anggapan itu wajar terjadi oleh karena selama ini IAIN/STAIN hanya membuka fakultas ushuluddin, tarbiyah, syari’ah, dakwah dan adab. Masyarakat sudah terlanjur memahami bahwa yang bernama agama Islam sebatas lingkup itu saja. Di luar itu dianggap bukan bagian Islam dan bahkan disebut sebagai ilmu sekuler. Sedangkan jika IAIN atau STAIN bermaksud mengubah kelembagaan menjadi UIN juga tidak begitu mudah sekalipun sesungguhnya peluang itu selalu ada. Berdasarkan pengalaman selama ini, oleh karena fenomena itu masih tergolong baru, apalagi aspirasi itu datang dari bawah akan menemui banyak hambatan. Perubahan STAIN Malang menjadi UIN Malang memerlukan waktu tidak kurang dari 5 sampai 6 tahun. Berbagai upaya dilakukan dengan semangat tinggi, kerja keras, ulet, serta telaten, tanpa mengenal lelah dan putus asa. Proses panjang dan berliku-liku yang harus dilalui tidak pernah dapat diselesaikan sekali jadi. Setiap instansi, dengan birokrasi yang berlapis-lapis, yang terkait dengan penyelesaian perijinan, memerlukan waktu lama dan harus berkali-kali menempuh konsultasi dan lobi-lobi. Proses panjang dan melelahkan seperti inilah yang mungkin dirasakan sebagai hambatan. Saya yakin, proses ini jika tidak ditangani secara sungguh-sungguh dan sabar, tidak akan mencapai hasil. Kita, memang, dihadapkan pada dua pilihan: antara bersikukuh mempertahankan tradisi lama dengan konsekuensi dianggap tidak mengalami kemajuan, dan bisa jadi akan ditinggal oleh masyarakat yang selama ini memberikan dukungan; atau mengambil prakarsa melakukan perubahan dengan konsekuensi berani menghadapi risiko berat, yang memerlukan kerja keras untuk menggapai idealisme yang diinginkan. Pilihan mana yang diambil, semuanya tergantung kepada keberanian kita masing-masing. "Banyak jalan mendaki (menuju kemuliaan dan keagungan; namun, sedikit sekali orang yang berani menempuhnya!", demikian diisyaratkan dalam al-Qur'an. Penutup Perubahan menyangkut apa saja, apalagi perubahan terkait dengan kelembagaan yang sudah lama dipandang benar dan mapan, selalu membawa konsekuensi munculnya perdebatan antara yang setuju dan tidak setuju. Perubahan, sesungguhnya merupakan keniscayaan, sebab tidak ada sesuatu di muka bumi yang tidak berubah. Semua selalu berubah. Oleh karena itu jika lembaga pendidikan tinggi, tidak mau melakukan perubahan, akan berkonsekuensi ditinggal oleh masyarakatnya yang selalu dan akan mengalami perubahan. Dalam dunia modern sesungguhnya kita hanya berada pada dua pilihan, yakni berposisi menjadi kekuatan pengubah ataukah sebatas sebagai obyek yang akan diubah. Persoalan selanjutnya adalah bagaimana perubahan yang "niscaya" kita lakukan itu dapat dikelola secara tepat, sehingga tidak menimbulkan problem baru yang lebih sulit lagi diselesaikan. Di sinilah pentingnya suasana kebersamaan, komitmen untuk maju bersama, serta selalu menghargai berbagai pandangan atau pikiran yang muncul dari mana saja datangnya, sebagai modal utama yang sangat berharga untuk memperjuangkan apa yang dipandang lebih baik di masa yang akan datang. Setelah berusaha keras untuk melakukan yang terbaik, sebagai orang yang beriman, mesti bertawakkal, sabar, ikhlas dan beristiqâmah. Wallâhu a’lam bishawâb.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang