Sosial

Sosial

Motor Penggerak Masyarakat


uang saku, tidak mengapa, itu sebagai hal biasa. Tetapi sekarang, kegiatan seperti itu jika tanpa amplop, penceramah atau khotib, tidak akan datang jika diundang lagi. Alasannya macam-macam, untuk tidak datang, walaupun sesungguhnya khawatir pengalaman sebelumnya itu terjadi lagi. Atas dasar kenyataan seperti itu maka sementara orang mengatakan, tanpa uang kegiatan apapun tidak bisa dijalankan. Orang Jawa mengatakan jer basuki mowo bea. Apa yang terjadi seperti itu, sesungguhnya bukan sesuatu yang baru. Gambaran semacam itu adalah merupakan ciri kehidupan perkotaan, di mana masyarakat diwarnai oleh ekonomi uang. Apa saja dalam tukar menukar menggunakan alat tukar yang disebut uang. Beda dengan masyarakat pedesaan dahulu, tukar menukar menggunakan barang atau lainnya. Di desa dulu imbalan terhadap jasa seseorang itu sesungguhnya juga ada, hanya bentuk imbalan itu tidak selalu menggunakan uang, melainkan berupa barang. Dan pemberiannya pun juga tidak selalu dilakukan secara bersamaan dengan jasa yang diberikan itu, tetapi bisa diberikan jauh setelah selesai jasa itu dilakukan. Gotong royong secara murni tanpa suatu imbalan, di zaman kapan pun sesungguhnya hampir-hampir juga tidak ada. Kenduri di mana seseorang mengundang tetangga untuk diajak makan bersama, dan setelahnya tatkala pulang masih dibawai bungkusan makanan agar yang di rumah pun menikmati, sesungguhnya juga berupakan bentuk pertukaran saja. Tetangga yang diundang untuk kenduri itu, karena sebelumnya juga telah mengundang pada acara yang sama. Bahkan, kegiatan takziyah pun dilakukan karena memenuhi tukar menukar ini. Coba seseorang yang tidak pernah bermasyarakat, maka jika terkena musibah kematian, maka yang hadir untuk melayat jumlahnya juga tidak sebanyak mereka yang rajin melakukan hal itu. Dari uraian itu, tidak sedikit orang menjadi percaya, bahwa uanglah sesungguhnya yang menjadi kekuatan penggerak masyarakat untuk melakukan sesuatu. Tanpa uang tidak akan bisa masyarakat digerakkan. Akan tetapi, saya memiliki tesis berbeda dengan kesimpulan itu. Bahwa kekuatan penggerak bukan hanya uang, tetapi ada beberapa lainnya, di antaranya adalah sang pemimpin. Pemimpin yang cerdas dan berkharakter, memiliki integritas yang tinggi, menurut hemat saya mampu menjadi kekuatan penggerak masyarakat. Uang tetap penting, tetapi bukan segala-galanya. Pemimpin yang memiliki kharakteristik sebagaimana disebutkan itu justru bisa mendatangkan uang, dan sebaliknya uang belum tentu bisa melahirkan pemimpin yang dibutuhkan. Tidak sedikit kasus, organisasi menjadi bercerai berai, kegiatannya menjadi berhenti, yang disebabkan oleh faktor uang. Sebelum memiliki uang, sebuah organisasi hidup rukun, akan tetapi begitu ada uang, mereka sibuk berebut uang. Ada saja sekelompok ingin menguasai uang itu, diawali dari saling tidak percaya, su’udhan yang semua itu mengakibatkan renggangnya hubungan di antara mereka. Akibatnya organisasi atau gerakan menjadi tidak jalan. Faktor uang inilah yang menjadi sumber persoalannya. Pemimpin yang berhasil merumuskan persoalan yang sedang dialami, mampu menunjukkan arah yang seharusnya dituju dengan jelas, menjelaskan potensi yang dimiliki, menunjukkan jalan menuju cita-cita ideal bersama itu, mengetahui halangan dan sekaligus jalan keluar untuk menyelesaikan, semua itu adalah kekuatan yang sebenarnya. Pemimpin seperti itu akan mampu menggerakkan semangat dan cita-cita, menumbuhkan imajinasi, keberanian, kemaauan menaggung resiko, semangat berkorban, menghidupkan sekaligus menggerakkan jiwa hingga melahirkan kekuatan yang dahsyat. Pemimpin seperti itu, jika sedang di depan akan menunjukkan arah, sedangkan jika sedang di tengah komunitas yang dipimpin ia menggerakkan dan tatkala sedang berada di belakang, ia akan memberikan semangat dan dorongan yang kuat. Inilah sesungguhnya pemimpin yang menyandang kekuatan penggerak terhadap orang-orang yang dipimpinnya. Ukuran keberhasilan pemimpin seperti ini, berbeda dengan pemimpin pada umumnya. Memang setiap jenis usaha menghadaki hasil maksimal. Ukurannya pun akan berbeda-beda. Seorang petani disebut sukses, manakala panennya banyak dan berkualitas. Peternak dibilang sukses manakala ternaknya berkembang. Pedagang dikatakan sukses, manakala labanya banyak. Pendidik yang sukses jika murid-muridnya berprestasi. Maka pemimpin yang sukses semestinya diukur dari keberhasilannya menciptakan perubahan, inovasi, dinamika yang dihendaki oleh kelembagaan yang dipimpinnya, sesuai dengan tuntutan zaman yang selalu berubah, dengan cepat dan bahkan radikal. Di Indonesia ini telah lahir para pemimpin yang memiliki kekuatan penggerak luar biasa dalam skala dan bidang yang berbeda-beda. Para tokoh yang telah diakui sebagai pahlawan bangsa di tanah air ini, sesungguhnya adalah pemimpin yang memiliki kekuatan penggerak itu. Jika kita mau menyebut seorang tokoh, misalnya Bung Tomo. Ia telah berhasil menggerakkan anak-anak Surabaya mengusir penjajah. Sekalipun dengan sarana yang tidak seimbang, bambu runcing dan dilakukan dengan cara gerilya, ternyata mereka mampu mengalahkan musuh yang bersenjatakan modern. Di dunia pendidikan, KH Imam Zarkasyi, di desa Gontor, Ponorogo, mampu merumuskan model pendidikan Islam, dan ternyata kemudian berhasil melahirkan para tokoh yang kini menduduki peran-peran penting di negeri ini. KH Hasyim Asy’ari dan KH.Ahmad Dahlan, keduanya mendirikan organisasi Islam, masing-masing Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, kemudian menjadikannya sebagai sarana gerakan dakwahnya. Mereka itu semua bergerak, bukan karena uang, melainkan didasari oleh kekuatan niat, cita-cita dan atau keinginan untuk berbuat yang terbaik bagi bangsa dan agamanya. Berangkat dari kenyataan itu, sesungguhnya uang bukanlah kekuatan penentu. Kekuatan itu justru terletak pada faktor pemimpinnya. Pondok pesantren Gontor Ponorogo, sampai saat ini belum pernah terdengar isu adanya kemunduran, yang disebabkan oleh karena keterbatasan dana. Bahkan lembaga pendidikan swasta ini tidak pernah mendapatkan anggaran dari pemerintah. Tidak pernah terdengar ada ruangan kelas yang ambruk, guru atau ustadz yang demo karena sedikitnya gaji, dan juga tidak pernah terdengar ada ”kata kurupsi” dari lembaga pendidikan itu. Jika di sini disebutkan lembaga pendidikan Pesantren Modern Gontor, Ponorogo, bukan berarti lembaga ini merupakan satu-satunya di tanah air ini. Masih banyak lainnya di berbagai tempat di nusantara ini, yang maju dan berkembang, karena dipimpin oleh seseorang yang mampu menjadi motor penggerak yang tangguh. Sekali lagi, kekuatan kunci itu bukan uang, melainkan orang yang menyandang ide, cita-cita, niat dan kemauan serta jiwa besar yang dimiliki. Allahu a’lam

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

.

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang