Sosial

Sosial

Pengayuh Becak Pun Bisa Melakukan Peran Sebagai Guru


guru di sekolah, apalagi sekolah formal. Status guru formal harus didasarkan pada surat tugas dari yang berwenang atau bahkan surat keputusan resmi dari pejabat tertentu. Tidak boleh sembarang orang melakukan tugas sebagai guru di sekolah formal. Biasanya untuk diangkat sebagai guru, yang bersangkutan harus memenuhi kualifikasi tertentu, misalnya ijazahnya harus memenuhi syarat, umur tidak melebihi batas yang ditentukan, cakap, kompeten dan lain-lain. Akan tetapi peran-peran guru non formal atau informal atau juga disebut sebagai guru kehidupan ini, tidak memerlukan syarat-syarat itu. Seorang ulama’, kyai, ustadz, orang tua atau yang dianggap tua, atau bahkan siapapun yang memiliki pengetahuan, pengalaman atau kearifan sebagaimana disebutkan di muka, bisa saja disebut sebagai seorang guru. Atau setidak-tidaknya, melakukan peran-peran sebagai guru di masyarakat. Baru saja saya mendapatkan ceritera dari teman, tentang pengalamannya tatkala naik becak. Sebelumnya dia tidak mengira, terdapat pengayuh becak yang sedemikian baik perilakunya. Pada umumnya pengayuh becak dilihat dengan sebelah mata. Pandangan seperti itu, tidak lepas dari citra yang dibangun oleh kebanyakan pengayuh becak tatkala mencari dan melayani penumpang. Tidak jarang pengayuh becak berebut penumpang, menawarkan jasanya dengan cara setengah memaksa. Para calon penumpang, sekalipun perlu, tidak semua suka dengan cara-cara seperti itu. Sehingga, untuk mengekspresikan ketidak-sukaannya, mereka menghindar atau tidak peduli dengan penjual jasa angkutan jarak pendek ini. Teman saya tadi rupanya menemukan seorang pengayuh becak yang tidak seperti biasanya itu. Bahkan ketika ia bertanya, berapa harus membayar untuk mengantarkan ke alamat yang diinginkan, dijawab oleh pengayuh becak, agar supaya mengira-ira sendiri, seikhlasnya. Padahal pengayuh becak umumnya tidak pernah memperlakukan penumpang seperti itu. Calon penumpang selalu diajak bernegosiasi dengan tawar menawar, yang kadangkala harga yang dikehendaki juga tidak masuk akal tingginya. Perilaku pengayuh becak tersebut dirasakan oleh teman saya tadi, sebagai hal yang aneh. Ada beberapa hal yang menarik bagi teman saya dari pengayuh becak tersebut. Di antaranya, pengayuh becak ini ternyata sudah puluhan tahun menekuni pekerjaannya ini. Selama itu dia sedikitpun tidak merasa rendah diri. Dalam perbincangan akrab antara pengayuh dengannya, didapatkan informasi bahwa pengayuh becak ternyata memiliki anak yang tamat dari fakultas kedokteran. Sekarang anaknya itu sudah bekerja sebagai dokter. Sekalipun begitu, dia tidak mau berhenti dari pekerjaan sehari-hari sebagai pengayuh becak, kemudian menggantungkan hidupnya pada anaknya. Dia mengatakan bahwa pekerjaan apa saja tidak perlu dipandang rendah, apa saja bisa dilakukan, asalkan mendapatkan rizki yang halal. Pengayuh becak tersebut berusaha tidak mau membebani anak-anaknya. Yang menarik lagi bagi teman saya, bahwa selama di perjalanan, pengayuh becak selalu menyebut asma Allah, seperti subahanallah, alhamdulillah, Allahu akbar. Di sela-sela berhenti dari berbicara, pengayuh becak tidak henti-hentinya berdzikir, menyebut asma Allah. Pekerja keras ini juga mengaku bahwa, setiap masuk waktu sholat, sekalipun ada calon penumpang, ia lebih memilih meninggalkan becaknya, pergi ke masjid atau musholla yang terdekat untuk sholat berjama’ah. Bahkan, setiap memasuki bulan Ramadhan, ia selalu melepas roda becaknya, istirahat dari mengayuh becak dan sebagai gantinya ia besama keluarganya memfokuskan pada kegiatan puasa dan menjalankan kegiatan lain yang terkait dengan ibadah puasa, seperti memperbanyak membaca al Qur’an dan lain-lain. Sengaja di bulan Ramadhan roda becaknya selalu dilepas, agar keinginan mengayuh becak tidak muncul di bulan suci itu. Tokh, biaya hidup keluarga sudah tercukupi dari hasil menabung sedikit demi sedikit dari hasil selama di luar bulan puasa. Teman saya yang sudah berpendidikan Doktor (S3) ini sangat mengagumi perilaku pengayuh becak ini. Sekalipun tidak sedikit orang melihat pekerjaan ini sebagai jenis mata pencaharian yang sepele, ternyata juga dilakukan oleh orang yang berhati mulia. Ia memiliki karakter yang tinggi, yaitu sabar, ikhlas, tawakkal, pandai bersyukur dan istiqomah. Ia selalu berupaya mendekatkan diri pada Allah swt., dengan sholat tepat waktu berjama’ah, sekalipun harus ikhlas meninggalkan pekerjaannya. Jika ada pilihan antara memenuhi panggilan adzan atau mendapatkan uang karena sedang ada penumpang, maka pengayuh becak yang satu ini selalu memilih untuk memenuhi panggilan adzan. Ia berpandangan bahwa sesungguhnya adzan adalah menyeru pada panggilan yang lebih mulia, dari semua yang lainnya. Akhir dari cerita itu, teman saya mengatakan, memang benar bahwa berguru itu bisa dilakukan dari siapapun, tidak terkecuali, dari pengayuh becak. Selain itu, tidak selayaknya kita memandang rendah suatu jenis pekerjaan, hanya karena jenis itu mendatangkan penghasilan kecil. Terhadap harta, semestinya kita tidak hanya melihat dari aspek jumlahnya, melainkan juga memperhitungkan tentang status halal dan haramnya, dan bahkan lebih dari itu adalah kandungan berkahnya. Apalah artinya, harta berlimpah jika semua itu diperoleh dengan cara yang tidak halal. Juga apalah artinya jabatan tinggi dan dianggap mulia, jika jabatan itu ternyata hanya mengantarkan pemiliknya, ke penjara. Orang yang sehari-hari mengayuh becak, sebagaimana yang diceritakan teman saya ini, sekalipun penghasilannya tidak seberapa, tetapi ternyata lebih selamat dan Insya Allah lebih mulia. Apalagi bila dibandingkan dengan pejabat pemerintah, yang berani mengambil uang rakyat, korupsi, dan berakhir masuk ke penjara...

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang