Sosial

Sosial

Memilih Jenis Pekerjaan


kebahagiaan yang sebenarnya. Ternyata, belum tentu. Tidak sedikit orang-orang yang tidak berhasil meraih posisi-posisi terhormat dan mulia di hadapan manusia itu, ternyata hidupnya kelihatan tenang dan tidak banyak menghadapi masalah. Sebaliknya, tidak sedikit pula orang yang memiliki jabatan tinggi, rizki cukup banyak, fasilitas hidup tidak kurang, tetapi tampak tidak bahagia. Rumah sakit menjadi langganan, karena penyakitnya kambuh. Berbagai jenis dikeluhkan, seperti asam urat, darah tinggi, reumatik dan segala macam keluhan lainnya. Karena fasilitas hidup yang dimiliki cukup, maka apa saja keinginannya dapat dipenuhi. Tetapi ternyata, karena kesehatannya tidak memungkinkan, maka sebatas untuk makan saja harus selektif. Tidak boleh lagi makan yang berkolestrol tinggi. Mereka tidak berani makan apa saja yang justru jenis makanan itu paling ia sukai. Tidak boleh makan daging, berbagai jenis buah-buahan, kacang-kacangan dan lain-lain. Ia hanya dibolehkan makan nasi jagung dan sayur-yasuran sederhana. Keadaan itu rasanya, lebih menyiksa. Mereka punya segalanya, tetapi tidak bisa menikmati. Rupanya sebaliknya, lebih enak menjadi orang yang tidak bisa menikmati, karena memang tidak mempunyai. Dalam tulisan ini sesungguhnya, saya ingin mengungkap pengalaman hasil dialog saya dengan teman, sekalipun tidak terlalu dekat, ia bisa mengungkapkan pengalamannya secara terbuka. Teman yang saya maksudkan tadi baru saja pensiun dari sebuah perusahaan milik negara. Dari sisi kekayaan, tidak perlu ditanya lagi. Seorang stafnya mengatakan, bahwa hartanya tidak akan habis dimakan oleh anak cucunya walaupun sampai tujuh turunan. Kayalah orang itu. Pada suatu kesempatan bertemu, sengaja secara pribadi saya bertanya padanya. Pertanyaan saya itu sangat sederhana. Yaitu, setelah sekian lama bekerja di perusahaan besar seperti itu, lalu selalu berhasil menduduki posisi yang sangat penting, maka pertanyaan yang saya ajukan adalah, kesimpulan apa yang diperoleh dari posisi itu, jika dikaitkan dengan makna kehidupan ini. Saya ingin ukuran-ukuran yang digunakan olehnya bukan yang bersifat material, melainkan sebatas ukuran yang bersifat nuraniah atau kata hati yang paling dalam. Saya sangat terkejut, setelah menghela nafas panjang, ia mengatakan bahwa pertanyaan itu sederhana, namun susah dijawab. Tetapi akhirnya, ia menjawab juga. Entah saya tidak tahu apakah jawaban itu sebatas untuk menyenangkan saya. Ia menjawab bahwa, andaikan dia tahu sebelumnya bahwa jenis pekerjaan yang dijalaninya itu, kadang beresiko dan harus melakukan permainan bisnis yang kurang elok, dia tidak akan memilihnya jenis pekerjaan itu. Dia katakan bahwa jenis pekerjaan yang ditekuni, mungkin dilihat orang, sangat mulia, terhormat, bergengsi dan menghasilkan rizki yang banyak. Tetapi sesungguhnya di pekerjaan itu mengharuskannya untuk melakukan kong-kalikong atau kolusi, manipulasi, entrik, dan berbagai jenis yang tidak enak disebutkan. Itu semua, harus dilakukan, lebih-lebih terkait pada setiap pelaksanaan tender. Tidak mungkin zaman itu, bisa memenangkan tender setiap proyek besar, jika tidak ikut bermain seperti itu. Dia mengatakan secara jujur, bahwa tidak pernah ada tender sebuah proyek besar, yang tidak terkait dengan berbagai kelompok kepentingan, baik birokrasi maupun politik. Atas pertanyaan saya tadi, dia mengatakan bahwa andaikan ada jenis pekerjaan lain, sekalipun tidak mendatangkan rizki yang banyak, akan lebih dipilihnya. Terus terang dia mengatakan bahwa pekerjaan Pak Imam ternyata menurut saya setelah pensiun ini, justru lebih mulia dari jabatan saya selama ini. Saya mengatakan, bukankah tugas saya sebatas sebagai guru seperti ini. Dia mengatakan, justru menjadi guru itulah, maka tidak harus mengambil langkah-langkah yang jika diukur dari hati nurani, merugikan sekaligus menyesatkan. Dari kisah singkat dan sederhana ini, kiranya dapat diambil pelajaran bahwa ternyata di antara berbagai jenis pekerjaan terdapat resiko masing-masing. Pekerjaan yang kita lihat bergensi dan mulia, ternyata di sana ada derita batin yang mendalam. Di tempat yang kelihatan mewah, ternyata harus dibayar dengan gejolak pertikaian batin, yang jika tidak kuat membawa beban itu, justru melahirkan penyakit. Karena itu, benarlah kata banyak orang bahwa jenis pekerjaan yang lebih penting adalah membawa kemaslahatan bagi semua dan mendatangkan rizki yang halal. Rasulullah juga pernah mengatakan bahwa ”mencari kayu bakar dan kemudian menjualnya jauh lebih baik daripada meminta-minta”. Jika meminta-minta saja dianggap kurang baik menurut Islam, apalagi rizki itu diperoleh dengan cara merebut hak orang lain, manipulasi, nepotisme dan juga segala cara yang tidak terpuji, termasuk korupsi. Islam mengajarkan sesuatu yang luhur dan mulia, semua jenis pekerjaan hendaknya dimulai dengan basmillah dan mengakhirinya dengan hamdalah, hingga akhirnya melahirkan apa yang disebut khusnul khotimah. Allahu a’lam

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

.

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang