Sosial

Sosial

Kompetisi Sepak Bola dan Pilgub Jatim


halaman sekolah di sore hari tatkala tidak terpakai. Pertandingan sepak bola dilakukan antar RW. Ada delapan RW di desa ini, semua diharuskan ikut ambil bagian. RW yang tidak memiliki pemain, tidak perlu pinjam atau nyewa ke RW lain, pemain yang tidak berpengalaman pun boleh, yang penting tampil. Tokh tujuannya hanya sebatas meramaikan acara Agustusan. Kalah menang tidak penting, yang diutamakan ikut berpartisipasi, tampil mewakili RW-nya masing-masing. Ternyata semua penduduk desa menyambut gembira dengan kegiatan pertandingan itu. Sekalipun para pemainnya berkualitas seadanya, bahkan ada juga yang baru kali itu ikut bertanding sepak bola, tetapi penontonnya bersemangat. Masing-masing anggota RW membanggakan terhadap pemainnya. Seolah-olah para pemain itu mempertaruhkan RW-nya melalui pertandingan sepak bola itu. Para suporter, sekalipun tidak mengenakan kaos seragam, sebagaimana suporter sepak bola sungguhan, bersemangat membela dan menyemangati jagonya masing-masing. Sekalipun sepak bola itu hanya dilaksanakan antar RW, panitia mengantisipasi segala yang terkait dengan pertandingan itu. Panitia jauh-jauh berpikir bahwa apapun jenis permainan yang dimaksudkan untuk mendapatkan keuntungan, kejuaraan, kebanggaan, kemenangan pasti terjadi kecurangan, manipulasi, trik atau apa saja namanya untuk meraih targetnya itu. Cara-cara tidak fair, tidak Jujur dan tidak obyektif selalu akan terjadi di segasla permainan di mana saja, tanpa terkecuali dalam permainan sepak bola tingkat desa yang diikuti oleh masing-masing RW ini. Untuk mengantisipasi itu semua, maka dicarilah wasit untuk pemimpin jalannya pertandingan. Karena di desa itu tidak ada orang yang berpengalaman menjadi wasit, maka dicari orang yang berpengalaman, sekalipun dari luar desa. Posisi wasit dianggap penting, untuk memimpin jalannya pertandingan. Wasit dianggap bukan orang sembarangan, asal comot. Peran wasit harus mengerti betul semua seluk beluk dan atau aturan yang berlaku dalam pertandingan sepak bola. Itulah sebabnya, tidak sembarang orang diminta melakukan peran itu. Para pemain dalam perandingan ini boleh hanya berkualitas kacangan ----tidak mutu, tetapi karena wasit harus mampu bertindak adil, jujur dan obyektif, maka tidak boleh diperankan oleh sembarang orang. Selain wasit, pertandingan juga dilengkapi dengan tiem pengawas pertandingan. Agar pertandingan itu tidak melahirkan konflik, rasa tidak senang, tidak adil dan tidak jujur, maka tiem pengawas ini dipilih orang-orang yang tangguh. Pemilihan tiem pengawas lebih hati-hati dari sebatas memilih pemainnya sendiri. Para pemain sepak bola dianggap tidak mengapa tampil seadanya. Tetapi peran pengawas harus benar-benar serius dan bertanggung jawab. Semua yang terlibat dalam penyelenggaraan kompetisi berpandangan bahwa, kalah atau menang tidak mengapa, asal berhasil ditampilkan nilai-nilai yang dijunjung tinggi, seperti keadilan, kejujuran, fair, obyektivitas dalam permainan itu. Selain itu, permainan juga masih dilengkapi dengan tiem keamanan. Maka, seluruh hansip desa dikerahkan untuk menjaga jalannya pertandingan itu. Para anggota hansip yang bertanggung jawab atas keamanan desa harus mengenakan baju seragam lengkap dengan tongkat, sebagai senjatanya. Semua anggota hansip tidak boleh absen. Bagi mereka yang bekerja sebagai tukang batu, sopir angkot, tukang cukur, penjual bakso atau apa saja, harus hadir. Karena pertandingannya diselenggarakan sore hari, maka semua hansip, harus pulang kerja lebih awal dari hari-hari biasa. Tokh pertandingan sepak bola kampung itu, diselenggarakan hanya setahun sekali, dan waktunya tidak lebih dari seminggu. Demi suksesnya kegiatan agustusan ini, harus ada yang dikorbankan, yaitu berupa memperpendek jam kerja, yang berkonsekuensi pada jumlah pendapatan menjadi berkurang. Perkiraan itu benar, bahwa ternyata sekalipun pertandingan sepak bola itu hanya sebatas antar RW, dalam pelaksanaannya selalu saja muncul kecurangan yang dilakukan oleh masing-masing pihak. Ben tuk kecurangan itu misalnya, bola keluar dari garis masih ditendang, ada pemain yang menjegal dan menendang kaki lawannya, berebut bola dua satu, tangan menyentuh bola dan segala macam penyimpangan. Berbagai jenis kecurangan dilakukan oleh semua tiem. Seolah-olah memang ada dalil bahwa tidak ada permainan tanpa kecurangan. Untuk memenangkan dalam pertandingan tidak cukup hanya berbekalkan kemampuan atau kekayaan profesional. Maka, di sinilah betapa pentingnya wasit selaku pemimpin pertandingan, pengawas, keamanan dan sebagainya. Untungnya dalam pertandingan sepak bola kecil-kecilan ini, panitia berhasil mendapatkan wasit yang berpengalaman. Dia bisa bertindak obyektif. Jika terjadi pelanggaran, segera peluitnya dibunyikan. Semua pemain taat pada pemimpin pertandingan ini. Jika ada pemain yang curang, segera dikeluarkan kartu kuning. Dan jika seorang pemain sudah tiga kali mendapatkan kartu kuning, segera dikeluarkan kartu merah dan yang bersanhgkutan dikeluarkan dari arena permainan. Apapun keputusan wasit diikuti dengan baik oleh semua pemain. Wasit juga memperhatikan para pembantunya, yang disebut dengan para pengawas lapangan. Seminggu pertandingan sepak bola berjalan lancar, kesalahan dan juga kecurangan selalu terjadi. Akan tetapi, saat permainan itu juga siapapun yang salah segera diberi tindakan oleh wasit yang dibantu oleh para pengawas pertandingan. Ketusan wasit dianggap final. Wasit dianggap memiliki otoiritas penuh dalam memimpin pertandingan. Akhirnya, begitu selesai pertandingan sudah diketahui siapa mengalahkan siapa dan bahkan juga skor yang diperoleh masing-masing peserta pertandingan. Juara sepak bola antar RW sudah dipastikan pemenangnya. Semua puas, termasuk bagi yang kalah. Karena permainan sudah dianggap fair, jujur dan obyektif. Jika ada kesalahan yang dilakukan oleh masing-masing peserta pertandingan yang kebetulan tidak diketahui oleh wasit atau pun pengawas, sudah dianggap selesai. Pihak yang kalah, seusai diumumkan hasilnya tidak bisa lagi protes mengajukan keberatan. Sebab, jika masing-masing merasa keberatan, gugat menggugat bukan tempatnya diajukan setelah usai permainan, apalagi siapa yang menang dan yang kalah, sudah ditentukan oleh wasit pemimpin pertandingan itu. Ceritera tentang kompetisi sepak bola tingkat kampung tersebut, berhasil membawa imajinasi saya pada pelaksanaan Pilgub Jawa Timur, yang tahap keduanya selesai bulan lalu. Andaikan jalannya Pilgub itu dijalankan sebagaimana permainan sepak bola tersebut, maka tidak akan terjadi pemilihan tambahan segala. Penyimpangan dan bahkan kecurangan dalam berbagai permainan, ------tidak terkecuali permainan pemilihan Pilgub sesungguhnya adalah hal wajar. Bahkan yang justru yang tidak wajar jika permainan itu dilakukan secara jujur, ikhlas, tawakkal, sabar dan seterusnya. Permainan untuk mendapatkan kemenangan berbeda dengan kegiatan ritual dan spiritual. Kegiatan yang disebutkan terakhir tidak memerlukan wasit, pengawas dan lain-lain. Pelakunya cukup diyakinkan bahwa segala ibadahnya akan diketahui oleh Allah swt. Berbeda dengan itu, kompetisi apapun, -----olah raga, kesenian, dan apalagi permainan politik, selalu dan bahkan pasti para pemainnya melakukan kecurangan. Tidak saja permainan tingkat RW, pertandingan kejuaraan level dunia pun, tidak sepi dari perbuatan curang itu. Karena itulah, semua pertandingan memerlukan pemimpin, pengawas, pemantau, saksi dan lain-lain. Sesungguhnya dalam proses pemilihan Gubernur Jatim yang lalu sudah dipimpin oleh KPU, Pengawas, Pemantau Independen dan bahkan juga saksi. Tetapi anehnya, protes dilakukan setelah hitungan dilaksanakan dan bahkan setelah hasilnya diumumkan. Pertanyaan besar yang semestinya dijawab ialah, mengapa protes itu tidak diajukan tatkala penyimpangan dan kecurangan tersebut selagi berlangsung . Kenapa protes itu baru diajukan, setelah proses pengitungan usai dan bahkan sudah ditentukan pemenangnya. Lebih aneh lagi, protes diajukan tatkala yang bersangkutan sudah dinyatakan kalah, sekalipun memang bagi yang menang tidak akan protes. Andaikan, dan sekali lagi umpama, aturan main pertandingan sepak bola kampung untuk memperebutkan piala Pak Lurah yang diikuti oleh seluruh RW tersebut, dijadikan pedoman pelaksanaan Pilkada Jatim, maka tidak perlu lagi ada Pilkada tambahan yang bikin repot itu. Akhirnya, semogalah pemilihan Gubernur Jatim sebagai tahap tambahan di Kabupaten Bangkalan dan Sampang yang akan datang, pihak-pihak yang terkait seperti KPUD, Pengawas, Saksi, pemantau independen dan lain-lain, melakukan perannya secara maksimal. Jika terdapat penyimpangan dan apalagi kecurangan, segeralah melapor ke pihak yang berwenang, agar segera diambil tindakan. Jika tidak demikian, bisa jadi setelah diumumkan pemilihan itu, ada lagi pihak yang merasa dirugikan, misalnya di salah satu TPS dilaporkan menyimpang, atau melakukan kecurangan, kemudian pihak yang merasa dirugikan mengajukan keberatan ke Mahkamah Konstrutusi. Lembaga Konstitusi pun, yang amat terhormat di negeri ini, karena apa, akhirnya terpaksa memutus agar pemilihan di TPS tertentu supaya diulang. Jika demikian kejadiannya, lalu kapan Gubernur Jatim baru bisa dilantik. Pilgub menjadi tidak efektif, boros dan melelahkan. Jika tidak ingin sulit, harus menempuh proses yang panjang, boros dan melelahkan, maka sesungguhnya cara kerja panitia kompetisi sepak bola antar RW yang diceritakan dalam tulisan ini, bisa dijadikan rujukan kongkrit. Allahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang