Sosial

Sosial

Hijrah Nabi Bukan Sebatas Migrasi Biasa


satu departemen yang khusus mengurus perpindahan penduduk, yang saat ini disebut Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Rupanya mengatur perpindahan penduduk tidak mudah. Masyarakat tidak saja berkeinginan berpindah ke wilayah yang masih belum padat, tetapi sebaliknya justru mencari tempat yang sudah padat penduduknya, yakni ke kota-kota. Akibatnya, kota semakin padat. Dalam kenyataan memang, tidak selalu di tempat yang masih sedikit jumlah penduduknya, semakin mudah mendapatkan rizki. Justru di kota-kota besar, yang berpenduduk padat, masyarakatnya lebih tinggi tingkat ekonominya. Kenyataaan seperti itu menjadikan perpindahan penduduk justru mengalir ke wilayah yang sudah padat dan bukan sebaliknya. Pemerintah kota biasanya kemudian disibukkan oleh upaya mengatasi urbanisasi ini. Dari pada bertani, yang juga tidak tentu berhasil meningkatkan kesejahteraannya, mereka memilih berpindah ke kota, bekerja seadanya, seperti berjualan di kaki lima, sopir taxi, tukang batu, kuli, bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan lain-lain. Rasulullah setelah diangkat sebagai Rasul, berjuang memperkenalkan ajaran Islam di Maca selama kurang lebih 13 tahun. Ia berusaha mengubah masyarakat yang memiliki kebiasaan keliru, seperti menyembah berhala, saling membangga-banggakan masing-masing kabilahnya sehingga melahirkan konflik, penindasan berupa perbudakan, tidak menghargai kaum wanita, ekonomi yang timpang dan tidak adanya kejujuran dan keadilan, ternyata mendapatkan tantangan yang semakin keras. Kenyataan inilah kemudian Rasulullah berpindah ke Yatsrif, yang kini kota itu disebut Madinah. Hijrah Rasulullah yang diikuti oleh para sahabatnya ke Madinah bukan sebatas migrasi biasa dan bahkan migrasi pada umumnya untuk meningkatkan taraf hidup agar menjadi lebih baik dan sejahtera. Bukan itu. Hijrah Nabi Muhammad bukan terkait dengan peningkatan ekonomi atau kesejahteraan, melainkan untuk membangun peradaban umat manusia, berdasar ajaran yang langsung diberikan oleh Allah swt, yakni Islam. Yang terbayang pada setiap terjadi pergantian tahun hijriyah, adalah betapa beratnya perjuangan Rasulullah ketika menjalankan hijrah itu. Atas tekanan, kejaran dan ancaman orang-orang kafir Qurasisy Mekah ketika itu, Rasulullah pergi menempuh jarak yang tidak pendek, kira-kira sekitar 400 km ------kini perjalanan itu dapat ditempuh antara 6 -7 jam dengan mobil, di tengah padang pasir berbatuan, di sana sini terdapat gunung batu tanpa tumbuh-tumbuhan, dan bersuhu udara pada saat tertentu sangat panas, dan sebaliknya pada saat lain sangat dingin. Kiranya seluruh jama’ah hají atau umrah, yang juga menempuh perjalanan dari Makah ke Madinah bisa membayangkan betapa berat perjuangan Rasulullah ketika itu. Tentu saja banyak aspek yang dapat kita petik dari peristiwa hijrah ini. Satu di antaranya saja, misalnya bahwa dalams memperjuangkan sesuatu memang harus dilakukan dengan pengorbanan dan bahkan penderitaan. Nabi, utusan Allah ini akan membangun perdaban manusia di Madinah harus melalui proses perjalanan panjang yang sedemikian berat. Dan ahirnya perjuangan itu ternyata berhasil. Dalam waktu kurang lebih hanya 10 tahun saja, Rasulullah berhasil membangun Yatsrif menjadi tatanan masyarakat yang damai dan sejahtera yang kemudian disebut dengan kota Madinah. Siapapun yang pernah berkunjung ke kota ini, baik dalam rangka menunaikan ibadah haji atau umrah, bisa merasakan kedamaian di kota ini. Salah satu aspek yang dapat kita nikmati di kota ini, orang tidak saja sibuk mencari nafkah, tetapi mereka selalu mengutamakan perjumpaan dengan Tuhan, setidaknya melalui sholat lima waktu. Setiap dikumandangkan adzan, ditinggalkanlah semua jenis pekerjaan mereka, segera bergegas ke masjid untuk menunaikan ibadah, menghadap kepada Allah. Dengan begitu Allah swt selalu diingat pada setiap saat. Keadaan ekonomi masyarakat madinah, sampai saat ini, tampak bagus. Tidak gampang ditemukan orang miskin, apalagi peminta-minta dipinggir jalan. Jika peristiwa hijrah ini, kita tangkap sebagai sebuah pelajaran, yakni pelajaran dalam membangun sebuah masyarakat atau negara, maka perjuangan itu harus selalu ditempuh dan dibarengi dengan pengorbanan yang berat. Perjuangan seperti itu kemudian melahirkan keberhasilan. Bangsa Indonesia, kini sedang berjuang, ingin menjadi bangsa yang maju, adil dan sejahtera setelah lebih dari 60 tahun merdeka. Perjuangan itu, sejak lama dilakukan. Fase pertama, merebut kemerdekaan dari penjajah. Perjuangan itu berhasil, pada tahun 1945 Indonesia merdeka. Kemerdekaan itu diraih atas perjuangan yang sangat keras, dengan mengorbankan apa saja, bahkan nyawa pun dipertaruhkan. Hanya perjuangan fase kedua, yakni dalam mengisi kemerdekaan, sekalipun sudah melewati waktu yang sepanjang itu, -----lebih dari 60 tahun, belum tampak hasilnya secara memuaskan. Apa yang menjadi sebab, kiranya pengorbanan belum banyak dilakukan. Yang terjadi justru kontra produktif, korupsi, kolusi dan nepotisme. Lebih dari itu, di mana mana terdengar saling berloba, menaikkan tunjangan. Rasanya memang aneh, berjuang yang semestinya ada kerelaan berkorban, tetapi justru ingin mendapatkan keuntungan sekaligus. Tanggal 1 Muharram 1430 H ini semoga menyadarkan kita semua, bahwa hijrah adalah bagian dari perjuangan membangun peradaban, dan bukan sebatas migrasi biasa. Selain itu bahwa berjuang harus selalu diikuti dengan pengorbanan, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah, Muhammad saw., Allahu a’lam

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

.

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang