Sosial

Sosial

Makna Hijrah dalam Membangun Peradaban Bangsa


atsar dari agama Islam yang telah dibangun oleh Nabi Muhammad sejak 14 abad yang lalu. Sebutan madinah munawwaroh, benar-benar sesuai dengan watak dan perilaku penduduknya. Yang dilakukan Nabi tatkala datang ke Madinah dari Makah adalah menyatukan antara kaum muhajirin dan kaum anshar. Sungguh luar biasa, komunitas yang berasal dari wilayah yang berbeda dan bahkan suku yang berlainan bisa menyatu. Kaum muhajirin yang belum dikenal satu demi satu sebelumnya diterima oleh kaum anshar. Pertemuan itu, dalam sejarahnya bagaimana pertemuan antara dua telapak tangan kanan dan kiri, menyatu hingga melahirkan sebuah kekuatan yang luar biasa. Di antara kedua belah pihak hadir dan menerimanya dengan hati yang ikhlas dan bahagia. Cinta kasih sayang muncul dari kedua belah pihak. Pihak Muhajirin tidak merasa lebih hebat karena hadir bersama Rasul, dan demikian pula kaum anshar tidak merasa tinggi derajatnya oleh karena telah berjasa menolong para pendatang. Dengan peristiwa hijrah itu, terjadi dua kelompok masyarakat, yaitu kaum muhajirin dan kaum anshor. Kaum muhajirin adalah penduduk asli makkah yang berpindah ke madinah bersama Rasulullah, sedangkan kaum anshor adalah para penduduk asli yang menerima para pendatang itu. Identitas keduanya masih tetap melekat pada masing-masing kelompok, akan tetapi identitas di antara keduanya tidak pernah dijadikan alasan untuk saling tidak mengenal dan bekerjasama. Tidak ada semacam sebutan penduduk asli dan bukan penduduk asli, pendatang atau asli atau bukan pendatang. Semua menyatu dan memiliki hak dan kewajiban yang sama. Dalam membangun masyarakat yatsrib yang sekarang dikenal dengan nama Madinah ini, Nabi bukan memulainya dari membangun hal yang bersifat fisik dengan proyek-proyek besar. Rupanya Nabi membedakan antara sebab dan akibat. Nabi mencanangkan aspek-asepek yang menjadikan merupakan sebab terwujudnya sebuah akibat yang diinginkan. Aspek-aspek yang mendasari terwujudnya masyareakat damai yang dibangun oleh Nabi, di antaranya adalah Masjid. Nabi membangun kehidupan spiritual, yakni kesadaran terhadap eksistensi diri manusia sebagai makhluk yang seharusnya mengenali Tuhannya. Kehidupan spiritual dibangun melalui masjid. Sholat lima waktu dan bahkan sholat sunnah lainnya, termasuk sholat malam. Selalu sholat lima waktu ditunaikan secara berjama’ah, sehingga sekaligus memperkukuh silaturrahmi di antara kaum muslimin. Selain itu, Nabi mempererat silaturrahmi. Menyatukan sesama kaum muslimin, dari kaum muhajirin dan kaum anshar. Terkait dengan silaturrahmi, Nabi juga membuat perdamaian dengan penduduk Madinah yang belum memeluk agama Islam, yakni kaum Yahudi dan Nasrani. Sejak zaman Rasulullah pun tidak ada pemaksaan dalam beragama. Nabi Muhammad dalam membangun masyarakat selalu menebarkan salam, atau keselamatan. Di mana-mana bertemu diucapkan kalimah : ”assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh”. Kalimat itu bukan saja diucapkan ketika memulai berpidato, tetapi setiap ketemu orang selalu diucapkan. Dalam maknanya yang lebih dalam artinya tampak sekali bahwa kedamaian di antara sesama, selalu diusahakan terwujud. Masyarakat dibangun atas dasar keselamatan dan kedamaian bersama, dan bukan dimaksudkan untuk meraih kemenangan sekelompok atas kelompok yang lain. Semua tanpa terkecuali, diharapkan memperoleh keselamatan dan kebahagiaan itu. Orang yang belum mendapatkannya, segera diberi dan diajak, dan sekaligus diberi contoh. Itu tergambar dari perilaku Rasul sebagai uswah hasanah atau memberi contoh yang baik. Dan dalam mengajak siapapun kepada kebaikan selalu melalui pendekatan ibda’ binafsika, atau memulai dengan dirinya sendiri. Cara selanjutnya yang menonjol dilakukan Nabi adalah memperhatikan orang miskin dan anak yatim. Menurut ajaran al Qur’an, bahwa memperhatikan pada kedua kelompok ini dipandang sebagai sesuatu yang amat penting dan sangat tinggi nilainya. Disebutkan dalam al Qur’an bahwa orang yang tidak memperhatikan orang miskin dan anak yatim sama halnya dengan mendustakan agama. Banyak hadits nabi yang yang memperingatkan tentang betapa penting dan mulianya orang yang menolong orang yang selagi perlu ditolong ini. Dari beberapa gambaran ini, maka tergambar bahwa Islam yang dibawa oleh Nabi selain tauhid adalah akhlak, yakni akhlak mulia. Beberapa makna hijrah dan bagaimana Nabi membangun peradaban di Madinah adalah sangat penting dijadikan dasar dalam pembangunan bangsa ini. Kita sudah cukup lama berharap meraih cita-cita, menjadikan masyarakat negari ini makmur, adil dan sejahtera. Pintu dan jalan meraih cita-cita itu sesungguhnya telah dicontohkan oleh Rasulullah. Sesungguhnya persoalan bangsa ini, bukan terletak pada kekurangan uang atau bahkan sembako, tetapi lebih dari itu ialah spirit kebersamaan dan kebangsaan. Telah terjadi kesenjangan yang sangat melebar, antara yang kaya dan yang miskin. Belum ada pemerataan. Jika dengan peringatan tahun baru hijrah ini, mereka yang kaya bersedia menjadi kaum Anhor dan yang miskin menjadi kaum Muhajirinnya, dan kemudian secara bersama-sama membangun bangsa ini, insya Allah saya yakin persoalan bangsa ini, setahap demi setahan akan terselesaikan. Selanjutnya, hal lain yang mendesak dilakukan adalah memperkukuh silaturrahmi secara luas, mengobarkan semangat menyelamatkan ------bukan semangat menghukum, mengentaskan yang miskin dan yang lemah. Jika semua itu dilakukan maka tahun baru hijrah akan menjadi momentum kebangkitan untuk membangun peradaban bangsa ini secara nyata. Allahu a’lam

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

.

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang