Sosial

Sosial

Tahun Baru, Rasa Syukur dan Masa Depan Bangsa


ke belakang, tertuju pada peristiwa aneh, yaitu terjadi musibah di negeri ini, sambung menyambung tanpa henti. Dimulai dari bencana tsunami di Aceh, kemudian disusul gempa bumi di Pulau Nias, yang mengakibatkan ratusan ribu penduduk tewas. Akibat musibah itu, bagi mereka yang meninggal sudah ada kepastian, telah menghadap kepada Allah swt. Akan tetapi, bagi yang masih hidup, mereka telah kehilangan segala-galanya. Sanak famili, tidak diketahui di mana tempatnya, harta benda berupa rumah dan seluruh isinya luluh-tantak habis diterjang air laut. Belum lagi anak yatim, orang miskin yang jumlahnya ribuan masih memerlukan pertolongan. Rasa sedih belum henti, membayangkan peristiwa yang mengerikan itu, terjadi lagi gempa bumi yang sangat dahsyat di Yogyakarta yang juga mengakibatkan tidak sedikit korban meninggal, luka-luka dan rumah-rumah penduduk rusak yang sedemikian banyak. Gempa bumi seakan tidak henti di situ, ternyata secara sambung menyambung dari satu pulau ke pulau lain, di Sumatera, Jawa, Sulawesi, Papua, Nusa Tenggara, dan lain-lain, merata di semua tanah air. Berita terjadinya gempa bumi, baik berskala besar atau kecil terjadi di mana-mana, tidak pernah henti. Gempa bumi, seolah-olah menjadi sesuatu yang biasa, karena sedemikian sering terjadi. Musibah lainnya berupa gunung meletus, tanah longsor, banjir di hampir seluruh wilayah tanah air, ombak besar di lautan, angin puting beliung terjadi dimana-mana. Peristiwa yang menakutkan itu tidak sekali terjadi. Kejadian itu juga beruntun, dimulai dari satu wilayah ke wilayah lain. Masih musibah lainnya berupa munculnya lumpur panas di Sidoarjo, yang menenggelamkan sejumlah desa di sana. Sebagai akibatnya, ribuan penduduk harus menderita berkepanjangan. Mereka harus berpindah rumah ke tempat lain yang tidak terkena aliran lumpur. Rumah-rumah yang selama itu ditempati, sekarang berbentuk lautan lumpur. Sangat menyedihkan. Bahkan, semburan lumpur tersebut sampai hari ini belum dapat diberhentikan, dan entah sampai kapan berakhir. Selain itu, jenis musibah lainnya, muncul berbagai macam penyakit di mana-mana. Berbagai jenis penyakit yang dulu tidak dikenal, muncul dan juga anehnya di mana-mana. Belum lagi jenis penyakit lama seperti demam berdarah, flu burung, dan lain-lain. Penyakit tidak saja menyerang manusia, tetapi juga menyerang ternak. Sapi, kambing, ayam dan jenis ternak lainnya, terancam terkena musibah penyakit yang datang tiba-tiba. Hal lain yang juga menalan korban tidak sedikit, terjadi jatuhnya pesawat udara, kapal laut tenggelam, kereta api tubrukan dan hampir setiap hari terjadi kecelakaan kendaraan di jalan-jalan. Peristiwa menyedihkan lainnya, terjadi konflik antar orang, kelompok, perkelahian antar desa terjadi di berbagaoi tempat. Belum lagi kebencian di antara para pemimpin, saling menyalahkan, menghujat, menghina dan merendahkan. Mungkin tidak disadari bahwa keadaan seperti itu adalah sangat berbahaya, baik dilihat dari pendidikan anak-anak maupun pendidikan bagi masyarakat pada umumnya. Namun anehnya, tokoh yang dikenal luas dan bahkan kualitas keberagamaannya dianggap tinggi itu, ternyata saling mencaci sesama pemimpin umat, dianggap hal biasa. Selanjutnya, sementara orang masih menganggap bahwa berbagai musibah itu sebagai sebuah keniscayaan, kapanpun bisa terjadi, di mana saja. Kejadian gempa bumi di tengah laut adalah merupakan peristiwa alam, sebagai akibat bergeraknya lempengan bumi, di dasar laut itu. Banjir bandang di mana-mana dianggap sebagai akibat ulah manusia yang telah merusak hutan, dan seterusnya. Hanya saja tidak seluruh peristiwa itu bisa dijelaskan secara memuaskan dengan logika, sedangkan sebagian banyak lainnya masih dicari. Namun, apakah penjelasan yang telah dihasilkan itu secara intelektual memuaskan atau tidak, merupakan persoalan lain. Berbeda dengan pandangan tersebut, ternyata ada pula orang mengatakan bahwa musibah demi musibah itu sesungguhnya adalah merupakan peringatan dan juga bahkan teguran Allah. Pandangan seperti itu tidak aneh, bagi orang yang memahami sejarah kemanusiaan. Dalam penuturan sejarah, tidak sedikit umat terdahulu, mendapatkan teguran dari Allah dalam bentuk musibah seperti itu. Satu di antaranya, dalam kisah kenabian pernah terjadi banjir bandang, hingga menenggelamkan seluruh penduduk negeri, kecuali mereka yang beriman di bawah kepemimpinan Nabi Nuh. Atas peristiwa itu, maka dikenal sejarah perahu Nabi Nuh yang menyelamatkan dari bencana banjir tersebut. Jika benar bahwa musibah itu merupakan teguran dari Allah, maka apa sesungguhnya kesalahan-------kalau tidak menyebut kedurhakaan, yang dilakukan oleh bangsa Indonesia selama ini. Menjawab pertanyaan itu, masing-masing orang tentunya bisa meraba-raba, sekalipun sifatnya mungkin sangat pribadi dan subyektif. Jawaban yang dihasilkan, mungkin mulai dari yang sangat sederhana, hingga yang berada pada tataran tertinggi. Secara sederhana, misalnya kita masih ingat bahwa pemimpin negeri ini dulu tatkala mengawali pemerintahannya memiliki slogan, yang agaknya kurang pada semestinya, misalnya ”bersama kita bisa”. Maksud slogan itu kiranya baik-baik saja, untuk membangun kebersamaan. Akan tetapi secara teologis, mungkin juga kurang tepat. Sebab, betapapun manusia ini adalah sangat lemah. Sekalipun dikaruniai ilmu, maka ilmu yang berhasil dimiliki selalu amat terbatas, wama utiitum minal ilmi illa qolila. Atas kelemahan itu, kita tidak dibolehkan untuk terlalu percaya diri, merasa mampu mengubah keadaan. Slogan itu akan menjadi tepat jika ditambah dengan kalimat : ”Insya Allah”. Sehingga, menjadi ”Bersama Allah, Insya Allah kita bisa”. Kita boleh percaya diri, tetapi kita tidak dibolehkan bertakabur apalagi sombong. Fenomena lain yang pernah terjadi di negeri ini adalah suasana sakit hati dan marah kolektif. Sakit hati dan marah itu diekspresikan dengan bentuk demonstrasi, yang dilakukan di mana-mana dan hampir setiap waktu tanpa ada putus-putusnya, oleh siapa saja. Fenomena itu tidak saja terjadi di kota, melainkan juga di pelosok-pelosok desa. Dalam demonstrasi itu, diikuti oleh kata-kata kasar, menghujat, memaki, mengolok-olok, menghina, meremehkan, merendahkan dan bahkan juga menuduh. Pokoknya apa saja disebutkan, sebagai ekspresi kejengkelannnya. Hampir-hampir di negeri ini tanpa hari tanpa demostrasi, dan bahkan juga di bebeberapa tempat, demonstrasi itu diikuti oleh perusakan terhadap berbagai fasilitas umum. Negeri ini, ketika itu seolah-olah dihuni oleh para pemarah dan orang-orang yang sakit hati. Kemarahan itu umumnya ditujukan kepada pemerintah. Saya merenungkan, apakah dengan suasana sakit hati dan kemarahan itu maka alam atau jagad ini kemudian juga menjadi ikut marah. Demikian pula tidak terkecuali adalah Tuhan. Tuhan yang memiliki sifat-sifat mulia, seperti Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Maha Adil, Maha Halus, Maha Bijaksana, dan seterusnya, menjadi marah karena ulah manusia. Aneh sekali, hujat menghujat itu juga dilakukan oleh para pemimpin yang seharusnya memiliki sifat-sifat arif dan bijak. Mereka, sudah sama sekali tidak mampu lagi menggunakan pisau kearifannya. Demonstrasi itu menggambarkan adanya kekecewaan dan dendam yang mendalam dalam waktu yang cukup lama. Seolah-olah selama ini tidak ada nikmat dan karunia yang telah diterimanya. Pemerintah dan pejabat seolah-olah dianggap sudah terlalu salah di hadapan mereka. Apa yang telah dilakukan oleh pemerintah sejak tahun 70 an dulu, dianggap tidak ada artinya apa-apa. Padahal jika kita mau melihat secara jernih, jangankankan di desa, saat itu sebagian wilayah kota pun belum ada listrik, jalan makadam dan kadang mencari minyak tanah saja sulitnya bukan main. Sebaliknya saat ini jika kita mau jujur, hampir tidak ditemukan lagi jalan yang tidak beraspal, listrik, fasilitas tilpun hingga ke desa-desa, gedung-gedung sekolah dasar berhasil dibangun sampai ke pelosok-pelosok, gedung SMP dan bahkan SMU sampai di tingkat kecamatan. Berbagai fasilitas umum, sesungguhnya saat ini sudah jauh dari memadai, apalagi dibandingkan dengan keadaan 20 – 30 tahun yang lalu. Jika di sana-sini terdapat kekurangan, maka rasanya tidak terlalu aneh, mengingat beban pemerintah ini yang sedemikian berat, mengurus lebih dari 200 juta penduduk yang tersebar di wilayah yang sedemikian luas. Memperhatikan fenomena itu, jika kita mau melihat dan merasakan dengan hati yang bersih, rasanya yang belum ada di negeri ini, bukan apa yang terletak di luar diri kita semua, melainkan kekurangan itu justru ada di dalam setiap individu bangsa ini, yakni rasa syukur. Bangsa ini memang harus belajar banyak. Sudah sekian banyak pemimpin, tetapi hampir-hampir belum ada yang mengakhiri kepemimpinannya dengan senyum. Betapa Bung Karno, dengan habis-habisan membela negeri ini, berjuang merebut dari tangan penjajah hingga memproklamasikan kemerdekaannya, mempertahankan, dan memimpin sebagai presiden, tetapi menyedihkan ia meninggal dalam suasana sepi, seolah-olah tidak terlalu banyak jasanya. Tidak banyak orang yang bersyukur dan berterima kasih kepadanya. Demikian juga Pak Harto, sekian lama memimpin, tidak sedikit pula jasa yang diberikan, akhirnya juga dihujat dan dituduh sebagai corruptor dan bahkan juga penghianat. Pak Habibi, Gus Dur dan demikian pula Ibu Megawati Soekarno Putri, dianggap tidak memiliki jasa yang banyak. Demikian pula kini, Dr.Susilo Bambang Yudhoyono, yang sesungguhnya telah bekerja keras, masih saja dikritik, diejek melalui parodi di TV yang dilihat oleh pemirsa semua umur, seolah-olah hanya akan dijadikan sebagai bahan tertawaan, sangat ironis. Selain itu, di tengah-tengah memimpin bangsa yang sedemikian berat, para elite bangsa juga tidak henti-hentinya mengkritik dan bahkan juga mencaci, misalnya menyebutnya dengan debutan sebagai “peragu”, sebatas sebagai tebar pesona dan istilah lain yang menempatkan pada posisi yang kurang enak dirasakan. Di awal tahun ini, secara subyektif saya merasakan bahwa yang belum banyak dimiliki oleh bangsa ini, bukan modal berupa sumber alam, SDM dan juga konsep dan strategi pembangunan. Secara subyektif s aya merasakan, justru yang belum banyak dimiliki oleh bangsa ini adalah rasa syukur yang cukup. Suasana mensyukuri nikmat rasanya yang masih justru harus diperbanyak. Banyak para elite bangsa ini, masih gemar mengatakan bahwa bangsa ini masih miskin, tertinggal, terpuruk, bodoh dan kata-kata lain yang kurang menjadikan pendengarnya bersyukur. Kebanggaan menjadi warga bangsa ini menjadi sulit ditanamkan dan yang terjadi justru sebaliknya, yaitu menyesal, marah, putus asa, merasa rendah diri dan sifat-sifat negatif lainnya. Padahal agar bangsa ini segera bangkit, maka harus ditanamkan rasa percaya diri, optimis, bangga menjadi bangsa Indonesia, hormat dan menghargai para pemimpinnya, baik dulu, Semarang maupun yang akan datang. Semoga awal tahun 2009, menjadi titik awal perubahan bangsa ini ke depan pada arah yang lebih baik. Dengan bermodalkan rasa syukur yang mendalam atas segala nikmat Nya yang sangat melimpah, bangsa Indonesia yang mendiami kepulauan yang luas, subur, indah dan kaya ini, ke depan menjadi bangsa bangsa yang unggul dan terhormat di tengah-tengah bangsa lainnya di muka bumi ini Dengan tumbuhnya rasa syukur yang mendalam itu, semoga Allah swt., tidak lagi selalu menegur dengan menurunkan berbagai musibah, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Allahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang