Sosial

Sosial

Desa Gemaharjo


daerah ini berupa pegunungan, dan jalan menuju ke sana pada tahun tersebut belum beraspal, kendaraan tidak banyak. Dulu, hanya mobil jeep willis, yang bisa nyampai ke desa ini, dan jumlahnya hanya beberapa saja. Oleh sebab itu orang tatkala bepergian lebih memilih berjalan kaki. Pada saat sekarang, keadaannya sudah jauh berbeda. Mobil berbagai type sudah bisa masuk ke Desa ini. Lebih-lebih pada hari-hari libur, atau hari minggu, kendaraan berseliweran ----baik roda dua atau roda empat, di jalan yang membelah desa ini menuju pantai teluk Prigi. Orang-orang kota, terutama anak muda, baik dari kota Trenggalek, Tulung Agung atau Kediri dan sekitarnya, pada hari libur atau hari minggu, berekreasi ke pantai teluk prigi yang dianggap indah, setidak-tidaknya oleh masyarakat sekitar kota itu. Akibatnya, desa ini, sekarang sudah seperti kota. Fasilitas kehidupan seperti listrik, tilpun sudah tersedia. Lembaga pendidikan, tidak seperti dulu, saat ini sudah ada SMP dan bahkan juga SMU sekalipun berstatus swasta. Jalan-jalan juga sudah beraspal, dan barangkali juga sebagaimana desa-desa lain, hampir semua anak-anak muda sudah mengendarai sepeda motor. Saya lahir di Desa ini. Dulu, ketika saya kecil, keadaannya masih sangat sepi. Jumlah penduduk tidak seberapa. Secara kuantitatif, saya tidak memiliki data, tetapi saya ingat, rumah-rumah tidak sepadat sekarang. Jarak antar tetangga, cukup jauh. Lembaga pendidikan, hanya ada satu, yaitu SD Negeri Gemaharjo. Saya bersekolah dari awal hingga tamat dari SD itu. Setelah itu meneruskan ke sekolah menengah di kota, sehingga sejak umur kira-kira tiga belas tahun, saya harus meninggalkan desa ini. Sejak itu, karena setamat SMP saya meneruskan ke SMA dan juga di kota, dan kemudian melanjutkan lagi ke perguruan tinggi hingga tamat dan kemudian bekerja dan berkeluarga di Malang, maka saya bertempat tinggal di desa itu, hanya sekitar 13 tahun saja, terhitung sejak dari lahir. Jika berkunjung ke desa itu, hanya pada saat-saat tertentu, di hari libur, atau jika ada keperluan penting, mengunjungi orang tua. Penduduk Desa Gemaharjo, tatkala saya masih di sana, umumnya bekerja sebagai petani, dan hanya sebagian kecil berdagang. Mereka bekerja di ladang atau membuka hutan menyewa pada pihak perhutani. Sedikit sekali yang bekerja di sawah, karena tanahnya berbukit-bukit, sehingga sawah yang ada sangat terbatas luasnya. Selain bertani, ada di antara mereka yang berdagang. Umumnya adalah berdagang ikan laut. Mereka membeli ikan dari nelayan di teluk prigi, kemudian mengolah dan menjualnya ke pasar. Sekalipun harus menempuh jarak yang cukup jauh, kurang lebih 10 km, karena tidak ada kendaraan, mereka harus jalan kaki sambil memikul ikan dagangannya itu. Sesungguhnya banyak hal yang bisa saya ceritakan dari desa ini, tetapi kali ini saya akan mengemukakan tentang kehidupan agama dan pendidikan anak-anak saja. Dua aspek ini saya rasakan sebagai kekuatan penggerak kehidupan masyarakat, daripada kehidupan ekonominya atau juga politik. Kehidupan bertani dan juga pedagang kecil-kecilan, tidak melahirkan dinamika yang berarti. Kompetisi dan apalagi konflik yang diakibatkan oleh kegiatan ekonomi toidak terjadi. Sebab, memang tidak ada yang diperebutkan. Berbeda hal itu dengan kehidupan keagamaan dan pendidikan. Semua penduduknya beragama Islam. Tidak ada yang beragama selain itu. Agama Kristen dianut oleh orang cina yang bermukim di tetangga desa, dan jumlahnya tidak lebih dari dua keluarga. Sekalipun semua beragama Islam tetapi dulu, tidak semuanya tergolong taat beragama. Mereka yang tidak taat beragama itu disebut sebagai Islam KTP atau abangan. Jumlah mereka lebih banyak dari yang tergolong Islam taat. Sedangkan yang tergolong Islam taat, disebut sebagai kaum santri atau kelompok hijau. Kelompok ini, juga terpilah-pilah, setidaknya menjadi tiga kelompok, yaitu penganut Nahdlatul Ulama’, Muhammadiyah dan Darul Hadits. Perbedaan aliran tersebut menjadikan masyarakat terpragmentasi, yang kadang mengganggu tetapi sekaligus juga menguntungkan karena melahirkan dinamika. Karena berbeda dalam ketaatan beragama dan juga perbedaan dalam aliran bagi yang taat beragama, seringkali memunculkan label pada masing-masing kelompok yang tidak selalu menyenangkan. Misalnya, kelompok abangan dsisebut sebagai kelompok yang tidak pernah raup ----membasuh muka setiap bangun tidur. Kadang mereka disebut dengan istilah kawuk. Sebutan itu menggambarkan status rendah, yang sesungguhnya tidak disukai oleh mereka yang bersangkutan. Begitu pula sebaliknya, kaum santri ----sebagai sebutan orang Islam yang taat, dilabeli dengan sebutan yang tidak menyenangkan. Hanya untungnya, sebutan sebagai identitas yang dirasakan tidak menyenangkan itu tidak pernah disampaikan secara terbuka. Mereka masih tetap menjaga keutuhan masyarakat. Begitu juga dari kelompok yang taat beragama, NU, Muhammadiyah dan Darul Hadits., mereka memiliki identitas dan bahkan tempat ibadah yang berbeda. Orang NU sholat berjama’ah, termasuk sholat Jum’at dan sholat hari raya, di masjid yang dimiliki oleh NU. Begitu pula orang Muhammadiyah dan Darul hadits, menunaikan ibadah di tempat mereka masing-masing. Tidak pernah kelihatan, dalam hal kegiatan ritual, mereka berkompromi, misalnya orang NU sholat idul fitri ikut di lapangan dan sebaliknya, orang Muhammadiyah sholat idul fitri atau idul adha di masjid bersama orang NU. Sesungguhnya, masing-masing tidak melarang, orang di luar kelompoknya ikut bergabung, tetapi entah mereka, dalam beribadah selalu mempertahankan identitas kelompoknya masing-masing. Adanya kelompok-kelompok itu, ternyata justru melahirkan dinamika masyarakat yang luar biasa. Kemudian terjadi kompetisi di antara mereka, tidak saja tampak di tempat-tempat ibadah seperti masjid, langgar atau musholla, melainkan juga di dunia pendidikan dan juga kesenian. Di desa ini, selain terdapat SD negeri, terdapat pula lembaga pendidikan khusus milik NU dan lembaga pendidikan milik Muhammadiyah. Umumnya guru-guru SD berasal dari kelompok abangan. Melalui lembaga pendidikan itu mereka bersaing. Masing-masing aliran atau organisasi ini, berlomba membesarkan lembaga pendidikannya. Secara bergotong royong di antara anggotanya, mereka membangun sekolah atau madrasah. Sehingga, anak-anak NU sekolah di NU dan demikian pula anak Muhamma diyah sekolah di Muhammadiyah. Darul Hadits saja yang tidak mendirikan lembaga pendidikan, sehingga dakwahnya hanya dilewatkan kegiatan pengajian dari rumah ke rumah dan pengajian di masjid atau langgar setiap selesai sholat berjama’ah. Dengan adanya kompetisi itu, tampak jelas, lembaga pendidikan yang ditopang oleh masing-masing anggotanya menjadi hidup dan berkembang. Emosi beragama sekaligus juga emosi membela kelompok menjadi kekuatan dalam menghidupkan lembaga pendidikan. Guru-guru sekolah swasta ini sekalipun tidak digaji, bertahan mengajar di lembaga pendidikan itu, didasarkan niat beribadah dan berjuang untuk membela organisasinya. Jika kaum santri identitasnya terlihat melalui tempat ibadah -----masjid, musholla, langgar dan juga di tempat-tempat pengajian, maka kaum abangan identitas itu ditampakkan melalui kesenian. Orang abangan menyukai kesenian seperti : kethoprak, ludrug, srimpi, tayuban, kuda lumping, wayang kulit dan sejenisnya. Orang santri biasanya secara dhahir tidak menyukai kesenian ini, karena dianggap tidak jelas hukumnya, halal atau haram. Saya sebut sebatas secara dhahir mereka tidak menyukai, karena ternyata kadangkala saya lihat secara diam-diam, mereka juga ikut menonton kesenian itu. Orang santri tidak menyukai kesenian orang abangan, karena kesenian itu -----tayuban, dilengkapi dengan minuman keras, yang bagi orang santri menganggapnya haram hukumnya. Orang santri memiliki jenis kesenian sendiri, seperti kencrengan, acir, terbangan, angguk dan kalau sekarang dangdut lagu-lagu padang pasir. Perbedaan-perbedaan yang kadang sangat tajam, mengakibatkan hubungan di antara mereka terganggu. Bisa jadi dengan perbedaan itu di antara anggota kelompok yang berbeda, tidak saling bertemu dan berkunjung secara bebas. Namun untungnya, di anatara mereka masih memiliki kultur yang menyatukan. Sekalipun orang abangan tidak terlalu dekat dengan tempat ibadah dan juga kegiatan ritual keagamaan sehari-hari, tetapi ternyata mereka juga tidak bisa meninggalkan ritual keseluruhannya. Dalam hal-hal tertentu, seperti dalam acara khitanan, perkawinan, apalagi kematian, sekalipun nyata-nyata sebagai kelompok abangan mereka memerlukan doa yang dipimpin oleh pemuka agama. Selain itu, karena ketika itu belum ada pelayan kesehatan modern seperti dokter atau mantri kesehatan, tidak jarang orang abangan jika msakit juga meminta doa kesembuhan pada orang santri. Hal-hal seperti iti, secara nyata menjadi perekat kehidupan sosial yang pada sisi lain terpilah-pilah karena pandangan hidup dan atau afiliasi organisasi yang berbeda. Setelah sekian lama saya absen, tidak mengikuti denyut-denyut kehidupan di Desa Gemaharjo itu, ternyata kini masyarakatnya telah berubah. Perubahan itu sangat tampak sekali. Sekalipun kelompok NU, Muhammadiyah dan Darul Hadits masih ada, tetapi yang justru tidak kelihatan adalah kelompok abangan. Kelompok abangan rupanya sudah menjadi santri. Saya bener-bener kaget, ternyata di kantong-kantong abangan kini sudah berdiri masjid yang tidak saja digunakan untuk sholat lima waktu, tetapi juga untuk sholat Jum’at. Saya lebih kaget lagi, ternyata cucu dari salah seorang tokoh abangan yang dulu ia ikut memimpin dan sekaligus pemain ludruk dan kethoprak, telah lulus dari Universitas al Azhar, Mesir. Rupanya memang benar, apa yang pernah disinyalir oleh teman saya, Prof.Dr. Bambang Pranowo, bahwa keberagamaan seseorang selalu menunjukkan sebuah proses, yakni proses menjadi Islam yang berjalan secara terus menerus tanpa henti sepanjang hayat. Melihat perkembangan desa itu, khususnya dari segi kehidupan keagamaannya, sekalipun tetap tidak terlalu semarak, saya sangat senang. Ada perubahan ke arah lebih baik. Anak-anak mudanya tumbuh, mereka menempuh pendidikan sampai perguruan tinggi ke kota. Sehingga, tidak sedikit penduduk desa ini, sekarang berpendidikan sarjana dari berbagai bidang ilmu. Perbedaan-perbedaan dalam organisasi keaagamaan, seperti NU, Muhammadiyah dan Darul Hadits masih ada. Tetapi tidak seperti dulu, seolah-olah ada batas pemisah, kini sudah lebih menyatu. Kegiatan-kegiatan kultural spiritual diikuti oleh anggota masyarakat dari berbagai kelompok yang berbeda. Demikian pula, tempat ibadah tidak terlalu didominasi oleh kelompok tertentu, sehingga tidak ada halangan misalnya, orang Muhammadiyah sholat lima waktu di masjid yang beridentitas NU, dan begitu juga sebaliknya. Saya sangat senang melihat perkembangan desa kelahiran saya ini, sehingga pada tanggal 2 Januari 2009, hari ini, di saat saya berusia persis genap 58 tahun, -----hari ulang tahun kelahiran saya, maka saya tulis sedikit gambaran tentang desa ini. Allahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang