Sosial

Sosial

Pendidikan Ekonomi di Lingkungan Keluarga Cina


kampung, tidak jauh dari rumah saya, terdapat rumah keluarga Cina. Saya juga berteman dengan anak-anaknya. Sekalipun berbeda agama, saya tidak pernah dilarang oleh orang tua bergaul dan bermain bersamanya. Anak-anak keluarga Cina itu juga sekolah di sekolah yang sama. Karena itu, mereka sesungguhnya adalah juga teman sekolah. Sebagaimana umumnya, keluarga Cina tersebut adalah pedagang, buka toko di rumahnya. Di mana-mana keluarga etnis Cina memang suka dengan jenis lapangan pekerjaan itu. Tidak pernah ada Cina ikut menjadi petani atau nelayan, sebagaimana kebanyakan masyarakat. Tingkat ekonominya juga bagus, tergolong kaya. Tetapi juga bukan yang paling kaya. Hal itu bisa dilihat dari keadaan rumahnya. Beberapa rumah orang Jawa, lebih bagus dibanding dengan rumah keluarga Cina. Hal yang mengesankan dari keluarga Cina ini adalah terkait dengan pendidikan bagi anak-anaknya. Keluarga itu selain membiasakan pada anak-anaknya bagaimana membangun hubungan antara sesama seperti sopan santun, hormat pada orang tua, leluhur, guru, meningkatkan hubungan-hubungan baik yang luas, mereka juga mendidik anak-anaknya terkait dengan ekonomi. Pendidikan ekonomi yang dimaksud meliputi bagaimana mencari uang dengan berdagang, termasuk bagaimana mengelola hasil kekayaannya itu. Beberapa hal yang sempat saya amati dan ingat terkait dengan pendidikan ekonomik ini adalah: Pertama, keluarga ini mendidik kedisipinan yang tinggi. Anak-anaknya di lingkungan keluarga sudah dilibatkan dalam ekonomi. Sebagai keluarga pedagang, anak-anaknya diajari membuka toko tepat waktu dan demikian pula menutupnya. Sama sekali tidak dibolehkan anaknya melakukan kegiatan ekonomi dengan pendekatan ”kadang-kadang”. Misalnya, kadang-kadang buka jam 07.00 pagi, kadang-kadang jam 07.30, dan kadang-kadang jam 06.30, kadang jam 08.00 dan seterusnya. Cara kerja seperti ini, tidak boleh. Buka toko harus dilakukan tepat waktu dan disiplin, agar bisa dijadikan pegangan bagi pelanggan. Pelanggan harus dilayani sebaik-baiknya, misalnya mereka datang mau beli, ternyata tokonya masih tutup. Kedua, dalam soal hitung menghitung dilakukan secara jelas, pasti dan terbuka. Sampai-sampai, ketika menerima uang dari orang tuanya, anak Cina harus menghitung terlebih dahulu sebelum memasukkan ke kantongnya. Uang yang diterima dari orang tuanya sekalipun harus dihitung di hadapannya, apakah sudah sesuai dengan yang disebutkan. Dengan cara seperti itu kedua belah pihak menjadi lebih tenang dan tidak akan terjadi salah paham setelahnya, yang diakibatkan misalnya oleh adanya kekeliruan hitungan. Kebanyakan orang, biasanya jika menerima uang apalagi dari orang tuanya, tidak selayaknya dihitung lagi, kawatir dianggap tidak sopan atau tidak percaya pada yang memberi. Akan tetapi dengan cara itu resikonya setelah berpisah, dan ternyata ada kekuarangan dari uang yang diterima itu, lalu terjadi saling menuduh. Ketiga, anak-anak keluarga Cina diajari menabung. Setidak-tidaknya 25 % dari penghasilannya harus ditabung pada setiap hari atau setiap bulan. Keperluan konsumsi maksimal hanya 75 % dari seluruh penghasilannya. Rasanya anak-anak pada umumnya tidak pernah diajari cara berpikir dan bekerja seperti ini, dan bahkan kadang lebih konsumtif. Biaya konsumsi, bagi anak-anak pada umumnya tidak jarang lebih besar dari penghasilannya. Karena itu muncul peribahasa, besar pasak daripada tiyang. Misalnya, pengahsilannya sehari Rp. 70.000,- yang dikonsumsi mencapai Rp. 100.000,-. Kekurangannya dicari dari berhutang, sehingga berakibat hutangnya menjadi semakin menumpuk. Keempat, anak-anak dididik agar bisa menghargai pelanggan. Pembeli bagi pedagang harus dipandang sebagai raja. Oleh karena itu para pelanggan sebisa-bisa harus dipelihara sebaik mungkin. Pelanggan dianggap sebuah kekayaan tersendiri, yang tidak boleh meninggalkannya. Pelanggan harus difungsikan sebagai juru bicara usahanya untuk mendapatkan pelanggan baru. Dalam bahasa Islam, mungkin sillaturrahmi harus dikembangkan sebaik-baiknya untuk memperbesar usahanya. Tentu saja, masih banyak nilai-nilai atau prinsip-prinsip lain yang diperkenalkan oleh orang tua keluarga Cina terhadap anak-anaknya, sejak dini. Oleh karena itu, kebanyakan keluarga Cina memiliki etos kerja dan juga etos berwirausaha yang tinggi. Anak-anak mereka tidak dimanja sedikitpun, sebagaimana kebanyakan anak keluarga lainnya. Bahkan tidak jarang, orang tua pada umumnya membiarkan anaknya tidak mau membantu kegiatan rumah tangga dengan dalih kasihan. Model pendidikan seperti ini, tidak saja melahirkan pribadi pemalas, tetapi lebih dari itu anak-anak juga tidak bisa mandiri, tidak mengerti tentang tugas dan tanggung jawab dan bahkan juga akan lamban mencapai kedewasaannya. Allahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang