Sosial

Sosial

Shirothol Mustaqiem


secara bergantian membaca ayat-ayat al Qur’an yang sebelumnya dibacakan oleh guru ngaji tersebut. Jika sebelumnya, guru yang membaca sedangkan murid mendengarkan, maka pada hari berikutnya sebaliknya, murid yang membaca sedangkan guru memperhatikan bacaan murid. Sambil mendengarkan itu, guru membetulkan bacaan murid yang dianggap keliru. Kekeliruan itu misalnya kurang panjang dalam membaca huruf, kurang tasdit, mestinya harus berhenti sebentar membacanya, sedangkan murid meneruskan saja dan seterusnya. Jika bacaan murid sudah bagus maka, guru menambah beberapa ayat lagi, agar dipelajari oleh murid pada waktu berikutnya. Melalui cara itu maka guru mengetahui kemampuan dan kemajuan bacaan al Qur’an setiap murid. Murid pun juga mengetahui kemajuan yang dialami sendiri pada setiap saat. Pada desempatan mereka membaca di hadapan guru, jika melakukan kesalahan langsung dibenarkan. Prestasi setiap murid juga diketahui secara terbuka, sehingga siapapun tahu kemampuan masing-masing murid. Di antara para murid sudah dikenali, mana yang pintar dan mana yang sedang-sedang saja dan mana di antara murid yang kurang pintar. Kemajuan hasil belajar murid tidak perlu menunggu akhir tahun dengan mengikuti ujian bersama, apalagi ujian negara. Selain belajar membaca al Qur’an, guru ngaji sekali saat menjelaskan tentang dasar-dasar pengetahuan agama Islam, seperti rukun Islam, rukun iman, kisah para nabi dan orang-orang sholeh. Hal yang tidak pernah saya lupakan dan sulit sekali saya mengerti adalah ceritera guru tentang sirotol mustaqiem. Guru ngaji menjelaskan bahwa nanti di akherat, setiap orang untuk menuju surga harus melalui suatu ujian yang Amat sulit yaitu melawati jembatan yang amat kecil sehingga sangat sulit dilalui. Sedemikian kecilnya jembatan itu, diumpamakan oleh guru mengaji, sebesar rambut dibagi tujuh. Bagi orang yang beriman dan beramal sholeh dan tidak banyak melakukan dosa, jembatan lembut itu akan mudah dilalui. Sebaliknya bagi mereka yang tidak beriman, jembatan itu sebagai pembatas yang tidak akan mungkin dilalui olehnya untuk sampai ke wilayah surga. Penjelasan guru ngaji tentang sirotol mustaqim tersebut merasuk ke hati sanubari, sehingga sangat sulit terlupakan. Atas dasar itu, karena rasa takut, sebisa-bisa saya harus menghindar dari melakukan kesalahan sekecil apapun, agar nanti selamat bisa melewati jembatan berbahaya dan ajaib itu. Penjelasan guru tentang sirotol mustaqiem ini selanjutnya dengan bertambahnya umur, ternyata sebelum nyampai di akherat pun terasa sudah dapat saya rasakan. Mengambil keputusan dalam hidup, terutama terkait pergaulan dengan manusia ternyata memang amat sulit sekali. Apa saja yang kita lakukan ternyata bagi orang lain selalu dibaca dalam perspektif yang amat beragam, sehingga betul di mata seseorang, tetapi sebaliknya sangat salah jika dilihat oleh yang lain. Betapa sulitnya kehidupan ini harus dijalani, mungkin akan mudah dirasakan oleh para pemimpin bangsa ini. Saya yakin, para pemimpin bangsa ini tidak ada seorang pun yang berniat untuk tidak sukses dalam kepemimpinannya. Mereka dengan segala kemampuannya berusaha membawa bangsa ini menuju kemajuan, adil, makmur dan sejahtera. Mereka tidak saja mau bertekat untuk berjuang, tetapi juga berkorban. Kita lihat bagaimana perjuangan Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur, Ibu Megawati dan saat ini Pak SBY. Mereka berusaha memeras otak ingin membawa bangsa ini meraih cita-citanya. Tetapi, mereka juga dikecam dan kadang-kadang juga dicaci maki melalui berbagai caranya masing-masing. Dalam skala kecil saya merasakan sendiri betapa sulit dan beratnya memimpin orang banyak. Padahal yang saya pimpin hanya sebuah kampus kecil. Beban itu tidak ada apa-apanya bila dibanding dengan memimpin sebuah republik besar, seminal Indonesia ini. Sebagai contoh dalam kasus yang amat kecil dan sederhana. Saya berusaha mencarikan terobosan agar seluruh dosen bisa studi lanjut. Tugas itu tidak mudah dilakukan, karena dana yang tersedia selalu terbatas. Di tengah-tengah usaha keras itu, mereka yang diperjuangkan tidak kemudian segera menyelesaikan tugasnya, malah sebaliknya, tersinggung tatkala diperingatkan agar disertasinya segera diselesaikan. Menurut hemat saya memang mengurus dan memimpin orang banyak, tidaklah mudah. Akan tetapi pemimpin harus menghadapinya dan tidak selayaknya lari dari kenyataan itu. Mereka harus diajak menjadi semakin baik. Demikian juga mengajak orang pada kebaikan tersedia banyak pintu dan jalan. Pintu dan jalan itu misalnya melalui peraturan, perhatian, reward, dan masih banyak lagi. Hukuman bisa diterapkan. Mengajak ke kebaikan tidak harus melalui jalan dihukum, ditinggalkan apalagi dikucilkan, melainkan yang lebih tepat harus diberi perhatian, dipahami akunya dan bahkan juga diberi kasih sayang. Saya tidak pernah melihat orang yang dihukum dan dikucilkan atau diisolasi kemudian menjadi semakin baik. Kebaikan itu ternyata hanya bisa diraih melalui jalan kebaikan. Belajar dari berbagai kasus memimpin orang, lalu saya berkesimpulan, bahwa ternyata penjelasan guru ngaji saya semasa masih kecil dulu, tentang shirothol mustaqiem itu, tidak saja dapat kita temui nanti di akherat, melainkan di dunia ini saja jalan lurus atau shirothol mustaqiem itu ternyata sudah kita temui dan memang sulit sekali dilalui, Allahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

.

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang