Sosial

Sosial

Mengawali Amanah Memimpin STAIN/UIN Malang


itu, pengangkatan saya sebagai Ketua STAIN Malang didasarkan atas hasil pemilihan ketua yang dilakukan oleh senat. Dalam pemilihan itu memang agak mengejutkan. Dari tiga belas anggota senat, di antara dua calon ketua, saya mendapatkan 10 suara, tiga di antaranya memilih calon lain. Saat itu sesungguhnya, saya masih tergolong dosen yang belum begitu dipandang senior, dibanding beberapa dosen lainnya yang telah berumur 50-an tahun ke atas. Ketika itu saya berumur 46 tahun. Kebanyakan anggota senat menjatuhkan pilihan ke saya, mungkin atas keinginan warga kampus agar perguruan tinggi Islam ini, melakukan perubahan yang selama itu dianggap tidak terlalu cepat kemajuannya. Kampus STAIN Malang saat itu jika dibandingkan dengan kampus-kampus lain, --------tidak saja yang berstatus negeri, seperti universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang, bahkan dengan perguruan tinggi swasta, sperti Universitas Islam Malang dan Universitas Muhammadiyah Malang,---- masih kalah maju dan bahkan tertinggal. Sebelum dipilih sebagai ketua, sesungguhnya ketika itu saya sudah menjabat sebagai pembantu ketua I STAIN Malang selama kurang lebih enam bulan, menggantikan pejabat sebelumnya yang wafat secara mendadak. Bahkan pengangkatan saya sebagai pembantu ketua I ketika itu juga agak aneh, yaitu tanpa melalui proses pemilihan, melainkan melalui penetapan oleh senat, karena ketika itu saya tidak bisa hadir dalam pemilihan. Lazimnya dan juga sesuai dengan statuta yang berlaku, bahwa tatkala diselenggarakan pemilihan pejabat oleh senat, calon yang dipilih harus hadir dan menyatakan kesediaan dipilih di hadapan senat. Atas dasar alasan saya tidak hadir itulah maka, proses pemilihan sebagai pembantu ketua I dibatalkan, sedangkan senat, ketika itu hanya memilih calon pembantu ketua III yang juga kosong sehingga harus dilakukan pemilihan calon pejabat yang mendudukinya. Beberapa waktu sebelumnya, sejak saya berhenti sebagai pembantu Rektor I di Universitas Muhammadiyah Malang, dalam beberapa kesempatan rapat dosen, saya selalu bicara tentang perlunya STAIN Malang bangkit untuk memanfaatkan momentum perubahan status dari IAIN Fakultas Tarbiyah Malang menjadi STAIN Malang, yang secara resmi dikukuhkan oleh Mmenteri Agama awal tahun 1997. Namun sesungguhnya, kepercayaan yang diberikan pada saya sebagai pembantu ketua I, saya rasakan ada sesuatu yang agak aneh, sebab sebelumnya tatkala dilakukan pemilihan calon anggota senat, saya hampir tidak mendapat suara. Kejadian itu saya anggap wajar, karena suasana primordialisme di kampus ini sangat kental. Yakni isu-isu tentang NU dan Muhammadiyah, di kampus ini sangat mewarnai kehidupan sehari-hari. Sehingga, saya yang dikenal sebagai orang Muhammadiyah sangat wajar jika tidak mendapatkan banyak dukungan dari para dosen yang ketika itu memang mayoritas bukan muhammadiyah. Beberapa pandangan yang saya kemukakan, terkait dengan keharusan segera melakukan perubahan yang saya sampaikan dalam beberapa kesempatan rapat dosen itulah, kiranya yang menumbuhkan semangat para dosen memberikan dukungan pada saya agar duduk sebagai anggota pimpinan, yakni sebagai pembantu ketua I. Beberapa pikiran yang saya lontarkan ketika itu adalah terkait dengan keharusan untuk melakukan reformulasi kurikulum yang selama itu dianggap tidak relevan lagi. Selain itu, saya usulkan agar ada upaya-upaya peningkatan kemampuan bahasa arab dan bahasa inggris. Ide seperti ini sesungguhnya pernah saya kembangkan di Universitas Muhammadiyah Malang, khususnya di Fakultas Agama Islam, dan ternyata di sana berjalan dan berhasil, hingga akhirnya berhasil meningkatkan jumlah peminat yang masuk di fakultas itu. Saya masih ingat, dalam suatu rapat yang diikuti oleh para dosen, Pak Rachmat Iman Santoso dan Pak Djazuli secara terang-terangan menyampaikan penilaiannya yang amat positif terhadap beberapa pikiran yang saya ajukan. Bahkan beliau berdua mengusulkan agar suatu saat saya bersedia ditunjuk memimpin kampus ini. Mereka berdua beragument bahwa pemilik idea yang dietujui bersama, harus bersedia memimpin pelaksanaan ide tersebut. Merespon keinginan beberapa dosen yang mengharapkan agar saya bersedia memimpin kampus ini saya tanggapi tidak terlalu serius, setidaknya karena oleh dua alasan. Pertama, Pak Djumberansyah yang menjabat ketua saat itu saya anggap masih memungkinkan memimpin kampus ini. Beliau masih menjabat sebagai Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Malang satu periode, dan saya anggap wajar setelah perubahan status kelembagaan, beliau memimpinnya lagi. Kedua, saya merasa jenuh memimpin kampus setelah tidak kurang dari 13 tahun menjabat sebagai pembantu Rektor I Universitas Muhammadiyah Malang. Selain itu, pada waktu itu saya masih menjabat sebagai Wakil Direktur Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Malang, mendampingi Prof. Dawam Rahardjo yang karena domisilinya di Jakarta, tidak mungkin aktif di kantor setiap hari. Aktivitas saya memberikan ide-ide pengembangan di STAIN Malang di setiap kesempatan, bukan bermaksud agar saya mendapatkan kepercayaan memimpin kampus ini, melainkan memang semata-mata agar perguruan tinggi Islam ini segera memanfaatkan momentum perubahan kelembagaannya. Perubahan kelembagaan itu, menurut penilaian saya sangat tepat dijadikan kekuatan untuk mengambil langkah-langkah strategis yang seharusnya segera dilakukan untuk memajukan lembaga pendidikan ini. Rendahnya minat saya untuk memimpin kampus ini juga saya sampaikan secara terbuka ke pimpinan kampus ini ketika itu, yakni Pak Djumberan, M.Ed. Agar saya tidak terpilih sebagai ketua I STAIN Malang saya sengaja tidak hadir waktu pemilihan. Akan tetapi rupanya para dosen yang diwakili oleh anggota senat, justru memberikan dorongan kuat agar saya tampil sebagai salah seorang pemimpin kampus ini dengan cara menetapkan saya sebagai Pembantu Ketua I. Sudah barang tentu, dalam menghadapi persoalan ini saya berpegang pada ajaran yang saya yakini kebenarannya, yaitu bahwa dalam soal jabatan atau amanah, sebagai seorang muslim tidak boleh mencari-cari, tetapi jika itu diberikan, maka juga tidak boleh ditolak. Saya ketika itu sedikitpun tidak mencari, melainkan diberikan amanah itu kepada saya, maka harus saya tunaikan sebaik-baiknya. Sejak awal saya menjabat sebagai ketua I STAIN Malang, program unggulan yang saya jalankan adalah pengembangan Bahasa Arab. Program ini bagi saya tidak sulit merumuskan, sebab sebagaimana saya kemukakan di muka, program semacam itu telah saya jalankan ketika saya menjabat sebagai Pembantu Rektor I di Universitas Muhammadiyah Malang. Lagi pula sebatas pengembangan Bahasa Arab, untuk di STAIN Malang saya anggap tidak akan sesulit di Universitas Muhammadiyah Malang. Sebab, di STAIN Malang memiliki potensi lebih dibanding di perguruan tinggi Islam Swasta itu. Di STAIN Malang tersedia lebih banyak dosen-dosen, terutama dosen yang berstatus tidak tetap yang mampu atau menguasai bahasa arab dengan baik. Mereka itu adalah para lulusan jurusan Bahasa Arab dan juga sekaligus alumni pondok pesantren. Yang masih harus saya perkokoh adalah manajerialnya. Dan benar, program ini harus berhasil dan sama sekali tidak boleh gagal. Maka, sekalipun telah saya tunjuk pengurus yang menangani program ini, setiap hari saya harus menunggui jalannya perkuliahan. Sebagai ketua, yang juga bertanggung jawanb seluruh aspek yang terkait dengan perguruan tinggi ini, hampir-hampir saya tidak pernah pulang ke rumah setiap siang harinya ------persis seperti yang saya lakukan di Universitas Muhammadiyah Malang, mengawasi pelaksanaan program tersebut. Sekalipun masih baru, program Pengembangan Bahasa Arab ini berjalan dengan baik dan mendapatkan respon positif, baik dari internal kampus maupun dari masyarakat termasuk Departemen Agama pusat. Seluruh yang terlibat pengembangan program ini memiliki semangat yang tinggi. Sekitar enam bulan kemudian, dalam pemilihan Ketua STAIN Malang, anggota senat memilih saya menggantikan ketua sebelumnya, Pak Drs.H.Djumberansyah Endar, M.Ed. Sejak itu, beberapa langkah strategis pengembangan saya dilakukan. Bahkan sejak itu, program pengembangan Bahasa Arab saya jadikan sebagai modal untuk pengembangan lebih lanjut. Inilah sesungguhnya awal pengembangan baru, dan akhirnya pengembangan itu diikuti oleh program pengembangan lainya hinggá saat ini, dan bahkan juga perubahan kelembagaannya, dari STAIN Malang menjadi UIN Malang. Maksud tulisan ini sesungguhnya sederhana saja, yakni mengingatkan para keluarga UIN Malang Malang bahwa dengan kekuatan cita-cita, semangat, tekad dan kerja keras, ternyata berhasil meraih prestasi. Karena itu kekuatan yang telah kita miliki itu dalam suasana dan keadaan apapun tidak boleh melemah apalagi berhenti, jika kita masih tetap ingin meraih kemajuan selanjutnya. Allahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang