Sosial

Sosial

Belajar Bersabar Dari Sopir Taksi


daerah-daerah Cilacap, Tegal, Purwakarta, Yogyakarta, Solo. Selain itu juga sering saya bertemu mereka dari Medan. Tetapi, selama ini jarang sekali saya dapatkan sopir taksi dari Madura. Orang Madura biasanya lebih menyukai bekerja sebagai pedagang, termasuk jual sate kambing, di mana-mana. Mungkin sebagaimana dengan orang Padang, lebih menyukai membuka usaha rumah makan, sehingga di mana-mana sedemikian mudah mencari rumah makan Padang. Beberapa hari yang lalu saya juga pergi ke Jakarta. Turun dari pesawat di Sukarno Hatta, saya langsung mengambil taksi yang sudah antri di depan terminal bandara. Saya lebih suka memilih taksi yang antri secara resmi, sebab jika menggunakan taksi gelap, tidak jarang akhirnya bermasalah. Pernah suatu saat saya terpengaruh, mau ditawari taksi yang tidak antri, ternyata sopir taksi itu hanya berstatus sebagai calo. Sopir yang asli menunggu di suatu tempat, kemudian setelah mendapat penumpang ia ambil alih taksi itu. Sesungguhnya jika kita memerlukan taksi, siapapun sopirnya tidak masalah. Akan tetapi ternyata sopir yang hanya berstatus pencari penumpang atau calo ini juga minta imbalan, sehingga kita harus membayar ongkos lebih mahal. Begitu masuk taksi, secara berbasa basi, saya menanyakan sudah dapat berapa kali antar penumpang sehari. Dengan sopan si sopir mengatakan, sekalipun hari sudah agak siang begini, baru sekali memperoleh penumpang. Dia ngatakan bahwa mencari penumpang harus bersabar antri. Jumlah taksi di Jakarta sudah semakin banyak, dan kadang sepi penumpang. Hari itu termasuk hari yang sepi. Selanjutnya, setelah saya beritahu agar diantar ke suatu alamat, sopir taksi menanyakan menghendaki lewat jalan mana. Apakah lewat ancol atau memilih lewat Semanggi. Saya balik bertanya, mana yang cepat dan tidak macet. Dia menjawab, semua jalan di Jakarta banyak yang macet. Sopir njelaskan, bahwa memang lewat Ancol lebih dekat, tidak putar-putar. Tapi kalau ingin lewat jalan besar, milih melalui Semanggi. Saya mencoba untuk bertanya, karena taksi pakai argo, kira-kira bagi sopir menguntungkan lewat mana ? Dia menjawab, bagi kebanyakan sopir memilih jarak yang lebih jauh, agar lebih menguntungkan, argonya naik dan sebaliknya bagi penumpang, tentu memilih yang dekat. Atas pertanyaan saya itu sopir kemudian menjelaskan bahwa bagi dia yang penting bisa melayani para penumpang sebaik-baiknya, agar mereka senang, dan tidak merasa dirugikan. Si sopir mengatakan bahwa rizki itu sudah ada yang mengatur, ialah Yang di Atas. Maksudnya yang mengatur pembagian rizki itu adalah Allah swt. Lebih lanjut sopir taksi mengatakan bahwa rizki itu tidak bisa dikejar-kejar. Masing-masing orang sudah ada bagiannya sendiri-sendiri. Pengalaman sebagai sopir yang sudah belasan tahun, mendapatkan kesimpulan bahwa rizki itu tidak bisa dikejar-kejar. Mereka harus sabar dan ikhlas menerima yang menjadi bagiannya. Dia menceritakan, dengan maksud mendapatkan penghasilan lebih, dia mencari penumpang dengan cara berebut, ternyata malah tidak mendapat hasil. Pengalaman seperti itu berkali-kali dia alami. Dan akhirnya kesimpulan itu yang ia pegangi. Yakni dalam hal mendapatkan rizki, tidak perlu terlalu berambisi. Yang terpenting, apa saja pemberian Tuhan harus diterima secara ikhlas, sabar dan tawakkal. Lagi pula rizki yang didapat, yang lebih penting bukan jumlah banyaknya, melainkan harus halal dan membawa berkah. Dari kasus itu setidaknya ada tiga hal yang bisa kita pelajari. Pertama, sifat ikhlas dan sabar menerima pemberian dari Allah, ternyata mampu mengendalikan diri agar lebih jujur dan memberikan yang terbaik kepada siapapun. Kedua, ternyata dari siapapun pun kita bisa memperoleh pelajaran berharga. Memang, di mana-mana dan dari siapa saja sesungguhnya kita bisa berguru, termasuk juga kepada sopir taksi sekalipun. Karena itulah Islam juga mengajarkan bahwa semua manusia itu sesungguhnya adalah setara, maka dengan siapapun kita harus saling wasiat mewasiati dalam hal mendapatkan kebenaran dan kesabaran. Tawaa shoubil haq wa tawa shoubishobr. Di hadapan siapapun kita tidak selayaknya merasa paling tinggi, harus dihormati dan paling benar sendiri. Ketiga, sifat sabar yang dipandang mulia oleh Allah ternyata tidak selalu dimkiliki oleh orang-tertentu, berpendidikan tinggi misalnya, melainkan juga berpeluang dimiliki oleh siapa saja. Inilah indahnya Islam, agama yang menjadi anutan kaum muslimin yang menganggap semua orang itu sama, sedangkan yang membedakan adalah dari kadar keimanan dan ketaqwaannya saja. Allahu a’lam

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang