Sosial

Sosial

Mengantarkan Mahasiswa Menjadi Warga Dunia


Afrika, ----Sudan termasuk benua Afrika, sekedar pergi ke luar Jawa saja memerlukan waktu berhari-hari. Dengan kemajuan ilmu dan teknologi pula, sesungguhnya tanpa dicita-citakan, dalam pengertian tertentu, saat ini tanpa kecuali siapapun sudah menjadi warga dunia. Hanya kiranya bisa dibedakan antara warga dekat atau warga jauh, warga yang bisa aktif mengambil bagian atau warga yang selalu tertinggal. Oleh karena itu yang dimaksudkan sebagai warga dunia di sini adalah warga dunia yang aktif bisa mengambil peran strategis. Bahwa kehadiran era baru, selain bisa kita lihat melaui sarana komuniukasi dan informasi juga bisa dirasakan secara fisik. Dulu, kita tidak pernah ketemu orang asing. Jika guru mengajari bahasa Inggris atau Bahasa Arab, maka dalam hati kita selalu bertanya, untuk apa bahasa asing itu diajarkan. Apakah kita akan bertemu dengan mereka. Saat itu memang tidak pernah lihat orang asing, jangankan sebulan sekali, setahun pun belum tentu bertemu. Gambaran itu berbeda dengan sekarang, orang dari bangsa manapun hampir-hampir mudah kita bertemu, baik langsung atau tidak langsung. Era baru ini ternyata membawa dampak yang cukup luas. Intensitas informasi dan komunikasi yang sedemikian cepat juga akan membawa perubahan di berbagai aspek yang sedemikian cepat pula. Perubahan itu tidak saja berjalan cepat, tetapi juga radikal. Jika dulu perubahan itu bersifat evolutif, maka istilah revolusi pun seolah-olah tidak memadai untuk menggambarkan perubahan cepat itu. Kita rasakan misalnya, akhir-akhir ini, bahwa krisis ekonomi di Amerika Serikat, dalam hitungan hari sudah mempengaruhi seluruh belahan dunia. Maka, di mana-mana terjadi PHK, dan bahkan juga kekhawatiran itu dirasakan Indonesia. Interdependensi tidak saja antar anak dengan orang tua, suami isteri, antar tetangga, tetapi juga di antara seluruh warga dunia. Apa yang kita alami sangat tergantung pada dunia yang lebih luas. Kondisi kehidupan seperti itu sudah barang tentu, mau tidak mau harus direspon oleh penyelenggara pendidikan, jika lembaga tersebut tidak mau ditinggalkan oleh zaman. Perubahan itu sendiri sesungguhnya merupakan anak kandung dari pendidikan. Para ilmuwan yang dilahirkan dari institusi ini, ternyata melahirkan dunia baru yang memaksa induk semangnya, yakni lembaga pendidikan untuk mengubah dirinya. Lembaga pendidikan yang hanya berorientasi memperkenalkan tradisi, atau bahkan hasil-hasil temuan baru, jelas akan selalu berada pada posisi ketertinggalan. Pendidikan harus mengantarkan peserta didiknya mampu mengikuti perubahan dan bahkan juga sekaligus menjadi kekuatan pengubah bersama-sama kekuatan lainnya. Era baru juga ditandai pula oleh tuntutan kualitas, efisiensi, keterbukaan dan banyak pilihan. Kita lihat saja misalnya saat ini, tidak usah yang jauh dan tidak kelihatan. Apa yang terjadi di lingkungan kanan kiri kita. Dalam berbelanja saja, misalnya. Dulu kita harus pergi ke pasar. Kadang tempatnya cukup jauh. Sekarang ini berbelanja cukup di toko-toko swalayan yang ada di mana saja. Bahkan, perbelanjaan atau transaksi dilakukan di rumah, melaui internet. Untuk membeli bahan kebutuhan tertentu, bisa kita lakukan cukup di rumah melalui fasilitas modern itu, sekalipun barangnya ada di kota dan bahkan di negara atau benua yang berbeda. Artinya pasar tidak lagi sebagaimana gambaran yang telah kita pahami dulu, melainkan konsep pasar pun sudah berubah, pasar sudah menjamah ke rumah-rumah dan bahkan juga kamar-kamar pribadi kita. Menghadapi keadaan kehidupan seperti itu, maka jika pendidikan tidak berhasil menyiapkan peserta didiknya mampu mengikuti perkembangan zaman tersebut, maka pendidikan justru kontra produktif. Pendidikan seperti itu hanya akan mengantarkan orang menjadi terasing dari lingkungannya. Tertinggal dan bahkan seperti film yang akhir-akhir ini ditayangkan, yakni Tarsan Masuk desa. Sebuah film yang menggambarkan lahirnya generasi yang serba bingung melihat keadaan yang amat berbeda dengan mindset yang dimilikinya. Pendidikan yang tidak mengikuti zaman hanya melahirkan generasi yang hanya tepat menjadi tontonan yang lucu. Selanjutnya, sebagai warga dunia baru, maka yang perlu dipersiapkan adalah kemampuan berkomunikasi dan kesediaan untuk hidup bersama orang-orang yang berbeda. Sebagai alat komunikasi itu tentu adalah bahasa. Bahasa dunia harus dikuasai, paling tidak misalnya Inggris, Arab, mandarin, dan lain-lain. Bahasa Inggris sebagai alat berkomunikasi lintas bangsa, karena bahasa itu paling banyak digunakan oleh penduduk dunia. Bahasa Arab digunakan untuk memahami kitab sucinya secara baik, sekaligus bahasa tersebut digunakan di kalangan umat Islam. Sedangkan bahasa mandarin perlu dikuasai, terkait dengan perkembangan ekonomi yang akhir-akhir ini semakin dominan. Selain bahasa, kemampuan lain yang harus dikuasai adalah sikap mental. Ialah mental bersedia untuk berubah. Di masa perubahan seperti itu, jika mereka masih berorientasi pada upaya mempertahankan tradisi, maka akan terputus komunikasinya. Memang ada hal-hal yang perlu dipertahankan, terkait dengan keyakinan keagamaan. Tokh perubahan itu, sebesar apapun hanya pada wilayah-wilayah teknis dan artifak. Perubahan tidak akan menjamah pada hal-hal mendasar dan fondamental. Tidak akan terjadi misalnya, anggapan bahwa kehidupan spiritual, termasuk menghormat sesama dipandang menjadi tidak perlu. Justru hal-hal seperti itu, semakin modern orang akan semakin mencarinya. Dalam kehidupan ini ada hal-hal yang bisa diubah, tetapi ada pula hal-hal yang tetap dirasa harus dipertahankan. Membekali mahasiswa agar siap dengan perubahan-perubahan sebagaimana digambarkan itu memerlukan pandangan, keyakinan dan bahkan paradigma pendidikan baru yang berbeda dengan paradigma lama. Perubahan itu kiranya menyeluruh, menyangkut seluruh faktor pendidikan, yaitu aspek peserta didik, guru, lingkungan, sarana dan prasarana pendidikan dan juga orientasi pendidikan. Oleh karena itu sudah waktunya para pemikir pendidikan segera merumuskan model atau paradigma baru, tidak terkecuali pendidikan Islam, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tingginya, yang kesemuanya itu untuk mengantarkan mahasiswa menjadi warga dunia yang mampu mengambil peran-peran strategis ke depan. Allahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

.

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang