Sosial

Sosial

Berdemokrasi Sekaligus Saling Menghargai


Kurthoum, Sudan, selalu mengatakan bahwa medan konflik itu tempatnya cukup jauh, sekitar 2000 km dari ibu kota Sudan. Dan konflik itu beberapa tahun terakhir ini sudah dianggap selesai. Itulah sebabnya, dengan persatuan itu, sekalipun secara obyektif, sisa-sisanya masih terasakan, tetapi sudah bisa dijadikan modal untuk mulai membangun di berbagai bidang kehidupan. Di antara berbagai hal yang mengesankan bagi saya, dari setidaknya dari dua kali berkunjung ke Sudan, adalah terkait bagaimana mereka menyelesaikan persoalan jika terjadi saling berbeda pandangan. SEkalipun mereka berbeda, tetapi masing-masing masih tetap saling menghargai dan menghormati. Perbedaan rupanya telah dianggap sebagai suatu hal yang niscaya. Dalam berbagai kesempatan diskusi dengan para tokoh dari berbagai kampus, saya mendapatkan kesan, bahwa mereka selalu hormat kepada para pemimpin negerinya. Mereka tampak bangga dengan siapa yang saat ini lagi berkuasa. Para pejabat dan juga para ilmuwan sangat dihormati. Lebih dari itu juga sangat dibanggakan. Saya tidak pernah mendengar ada ilmuwan mengkritik dan apalagi menjatuhkan atau mengganggu harga diri mereka secara bebas. Atas dasar penglihatan saya itu, lantas saya mencoba mengkonfirmasi hal itu kepada salah satu pimpinan Universitas al Qur’an al kariem, ternyata mendapatkan jawaban bahwa hal itu menjadi kebiasaan orang Sudan. Orang Sudan pada umumnya menghormati para pemimpin, orang tua dan juga para guru atau ulamaknya. Jika ada perbedaan pandangan tidak perlu disampaikan secara terbuka hingga diketahui oleh siapapun. hal itu dimaksudkan agar kehidupan masyarakat secara keseluruhan terpelihara. Pejabat kampus perguruan tinggi tersebut menjelaskan bahwa kehidupan negara pada hakekatnya serupa dengan kehidupan keluarga. Negara adalah bentuk besar dari berbagai keluarga. Dalam keluarga itu, jika antara anggota keluarga saling berebut kemenangan, fasilitas, dan lainnya, apalagi ditambah dengan saling menyalahkan dan menjatuhkan, maka tidak akan mendapatkan ketenangan dan akibatnya kemakmuran sulit diwujudkan. Saling menjaga dan menghormat ini juga saya saksikan dalam hubungan antar perguruan tinggi. Dua kali saya datang ke Sudan untuk kegiatan yang hampir sama, ke kampus. Sekalipun penyelenggara acara itu adalah satu perguruan tinggi, tetapi perguruan tinggi lain ikut ambil bagian menghormat. Saya datang ke Korthoum kali ini sesungguhnya menghadiri undangan Universitas al Qur’an al Kariem dalam rangka seminar internasional. Akan tetapi, kampus-kampus lain secara bergantian juga mengundang jamuan makan, khususnya terhadap tamu-tamu penting dan tamu asing. Dalam jamuan makan itu, yang saya perhatikan adalah, mereka saling mengenalkan keunggulan kampus lainnya. Tatkala dijamu di Universitas Um Durman misalnya, melengkapi jamuan makan Rektor kampus tersebut memperkenalkan kampusnya secara singkat dan kemudian menjelaskan hubungan baik dengan Kampus Universitas al Qur’an al Kariem. Pembicaraan tentang kehebatan kampus lainnya justru lebih banyak disampaikan dari kelebihan kampusnya sendiri. Inilah yang saya lihat suasana saling menghormati dan membesarkan satu dengan lainnya. Dua kali saya berkunjung ke negeri ini disuguhi dengan cara yang sama. Rupanya orang-orang Sudan untuk meningkatkan citra dirinya selalu melalui cara dengan mengakui kebesaran pihak lainnya. Cara itu kemudian melahirkan suasana persaudaraan yang kokoh, saling menghormati dan kemudian juga berbuah saling menguntungkan dan sekaligus saling membesarkan. Rupanya mereka itu memiliki tradisi, bahwa dalam meraih kemajuan harus ditempuhnya dengan cara kebersamaan. Tentang kebersamaan ini juga terlihat misalnya, bahwa selama ini Pemerintah Sudan lewat Menteri Pendidikan Tinggi dan Riset telah lama membantu tenaga dosen pada UIN Malang. Tenaga pengajar yang dikirim ke UIN Malang tidak saja berasal dari satu universitas, melainkan dari beberapa universitas dan juga dilakukan secara bergantian. Tidak bermaksud membanding-bandingkan dengan negeri sendiri, tetapi akhir-akhir ini terasa di tanah air ini -----Indonesia, ada sesuatu yang aneh. Disebut sebagai hal yang aneh karena kurang sesuai dengan kepribadian bangsa ini. Orang menyalahkan, mengolok, mengecam, mencaci maki dan bahkan keributan secara fisik pernah terjadi di lembaga yang amat terhormat, yakni di gedung parlemen. Mencaci para pimpinan, dan bahkan pimpinan tertinggi, sampai pada tingkat Presiden dan Wakil Presiden pun dianggap wajar dan sah-sah saja, atas nama demokrasi. Para pemimpin yang seharusnya dihargai, diikuti dan sekaligus dijadikan tauladan, justru disindir melalui parodi yang disiarkan secara terbuka, hingga anak-anak semua umur, termasuk murid-murid sekolah secara bebas mengikutinya. Pemimpin dengan cara seperti itu, dijadikan tontonan dan sekaligus juga menjadi bahan tertawaan. Atas nama demokrasi cara-catra seperti itu dianggap wajar. Padahal sesungguhnya jika hal itu dikaitkan dengan pendidikan, maka tugas guru menjadi sangat sulit. Bahwa seharusnya guru mengajarkan bagaimana orang tua, pemimpin, guru, ilmuwan dan sejenisnya itu semuanya harus dihormati, maka tugas itu menjadi tidak mudah jika dalam kenyataan seharí-hari para pemimpin didemo, dihina, disalahkan, dicaci maki dan bahkan juga dijatuhkan. Padahal dalam teori pendidikan, apa yang dilihat dan disaksikan oleh anak jauh lebih memberi kesan mendalam dan bahkan justru dianggap lebih benar dari pada sebatas keterangan guru yang bersumberkan dari buku ajarnya. Mempertimbangkan itu semua, maka apa yang menjadi tradisi para pengasuh perguruan tinggi di Sudan membuktikan kebenarannya. Makanya tatkala saya berbincang dan memberi apresiasi tentang kemajuan yang beberapa tahun terakhir diraih oleh mereka, para pimpinan perguruan tinggi selalu mengatakan bahwa kekayaan yang ingin dikumpulkan dan dipertahankan oleh Sudan bukan minyak atau juga tambangnya yang lain, tetapi adalah jenis kekayaan yang dianggap lebih berharga melebihi lainnya, yaitu berupa karakter yang mulia, kekokohan pribadi dan akhlaknya. Di mana-mana mereka selalu mengatakan, jika kekayaan yang disebutkan terakhir ini hilang, maka mereka merasa telah kehilangan segala-galanya. Saya sebagai guru di negeri yang kaya sumber daya alam dan sekaligus SDM ini sempat merenung, jangan-jangan pemimpin bangsa dan kita semua ini, tanpa menyadari, telah terlalu jauh melupakan prinsip yang sangat mulia sebagaimana yang dipegangi oleh orang-orang Sudan tersebut. Semoga tidak sampai begitu. Allahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

.

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang