Sosial

Sosial

Kelompok Orang-Orang Tertinggal Di Sudan


kesulitan untuk menyesuaikan tuntutan teknologi modern. Hadirsnya peralatan rumah tangga yang lebih canggih, ternyata mereka tidak mudah beradaptasi. Alat-alat rumah tangga dengan peningkatan penghasilan bisa dibeli, tetapi belum tentu bisa memakainya. Hal lain yang agaknya menarik, pemerintah dengan pendanaan yang cukup akan membangun jembatan penyeberangan sungai Nil untuk menggantikan perahu tradisional. Usaha pemerintah juga selalu mendapatkan resistensi dari masyarakat dengan berbagai alasan. Misalnya, mereka menolak jembatan itu agar komunitas kabilahnya tetap terjaga keutuhannya. Dengan adanya jembatan itu, mereka mengkhawatirkan komunikasi menjadi lebih bebas, sehingga pengaruh luar tidak bisa dibendung lagi. Modernisasi ternyata dirasakan sebagai sesuatu yang menakutkan bagi sementara kelompok orang di Sudan. Selanjutnya untuk mengatasi problem orang tertinggal, pemerintah dan kelompok lembaga pemberdayaan masyarakat membuka berbagai jenis kursus ketrampilan. Sekarang dengan mudah didapatkan berbagai jenis tawaran kursus. Melalui kursus ini diharapkan mereka bisa mengambil bagian, atau setidaknya mampu mengikuti perubahan zaman yang sedang terjadi. Namun begitu berbagai ketrampilan yang tidak mungkin dikuasai secara singkat, terpaksa mereka mempercayakan pada kehadiran orang asing. Keadaan yang sesungguhnya sangat ironis sekali, yakni kemajuan negerinya tidak semua warga negaranya siap memanfaatkan dan menikmatinya. Memabangun bangsa memang tidak mudah, dan lebih tidak mudah lagi adalah membangun orang-orangnya. Membangun manusia ternyata terkait dengan banyak variabel. Lain halnya membangun sarana fisik. Jika tersedia dana, tatkala akan dibangun hotel, perkantoran, pusat bisnis, lapangan terbang dan lain-lain, bisa segera dijalankan. Kekurangan tenaga ahli bisa mengimport dari negeri lain. Hal itu berbeda dengan membangun manusianya. Orang-orang yang sudah lanjut usia sedangkan pendidikannya tidak memadai, maka menjadi problem tersediri. Mereka ditinggal dan atau diikutkan akan sama saja melahirkan problem yang tidak mudah diselesaikan. Membangun negeri dalam perspektif kebangsaan seharusnya selalu dimaknai sebagai membangun warga negara secara keseluruhan. Tatkala sampai pada pengertian ini ternyata tidak mudah dilakukan. Membangun manusia ternyata memiliki makna dan perspektif yang luas dan pelik. Pekerjaan itu selalu memiliki multi dimensi karena menyangkut orientasi, ukuran-ukuran keberhasilan kehidupan, kebahagiaan, kepercayaan, pandangan hidup, budaya dan lain-lain. Apa tersebut pada wilayah itu sulit dikenali dan dipahami. Misalnya saja, terkait dengan kebahagiaan. Dalam perspektif modern, orang akan merasa berbahagia jika tercukupi kebutuhan hidupnya. Akan tetapi ternyata, dalam kasus di muka tatkala akan dibangun jembatan yang menurut pertimbangan rasional, kebutuhan itu sangat mendesak, ternyata ditolak dengan alasan untuk mempertahankan kabilahnya. Seringkali ukuran-ukuran kebahagiaan pun bervariasi, tidak bisa dilihat dari aspek-aspek yang bersifat lahiriyahnya. Akhirnya tugas itu memang menjadi tidak sederhana dan bahkan rumit. Umpama semua manusia hanya membutuihkan hal-hal yang bersifat materi, alangkah mudahnya memenuhinya. Jika telah ditemukan harta karun, seperti dalam bentuk minyak yang melimpah, maka kebutuhan mereka dapat dipenuhi. Akan tetapi ternyata penemuan harta karun belum tentu mendatangkan berkah. Harta kekayaan yang melimpah jika tidak berhasil dikelola secara baik, justru akan mendatangkan mudharat. Tidak sedikit contoh, terjadi konflik yang berakibat menyengsarakan, diakibatkan justru oleh kedatangan rizki yang mendadak. Pembagian rizki yang tidak merata, kesalahan dalam memanage, dan seterusnya akan mengakibatkan persoalan lain tumbuh dan tidak mudah menyelesaikannya. Kasus di Indonesia beberapa tahun terakhir, berupa semakin penuhnya penjara di tanah air, adalah sebagai contoh adanya rizki yang tidak dikelola secara tepat itu. Atas dasar pandangan seperti itu, keberhasilan Sudan mengekplorasi minyaknya di satu sisi dan terdapat sejumlah banyak orang yang tertinggal oleh karena keterbatasan pendidikannya, memerlukan kearifan dari para pemimpinnya. Jika hal itu tidak ditangani secara baik, sehingga melahirkan terganggunya rasa keadilan oleh sebagian masyarakat, maka bisa jadi sumber rizki itu, tidak mendatangkan berkah, melainkan justru sebagai sumber petaka dalam pengertian luas. Sementara orang Sudan selama ini telah memiliki ukuran-ukuran keberhasilan hidup, yang itu semua sebagiannya telah diraih, sekalipun tanpa ditopang oleh hasil ekplorasi minyaknya. Memang manusia selalu membutuhkan materi, akan tetapi ada juga orang yang menganggap bahwa materi juga bukan segala-galanya. Itulah sebabnya istilah kemiskinan memiliki makna yang luas dan variatif. Sementara orang menyebut ada kemiskinan harta dan juga ada kemiskinan jiwa. Jika harus memilih, ternyata ada yang lebih memilih miskin harta asalkan tidak miskin jiwa. Islam mengajarkan agar umatnya memiliki kekayaan jiwa, yaitu iman dan akhlakul karimah. Islam tidak pernah memandang seseorang berderajat tinggi hanya sebatas hartanya yang melimpah. Sehingga, mereka yang masuk kategori tertinggal di Sudan tersebut, sesungguhnya belum tentu tergolong tertinggal menurut pandangan Islam. Allahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang