Sosial

Sosial

Kesempurnaan Indahnya Pegunungan Pujon


sepanjang jalan sekitar wilayah Pujon, rupanya terselamatkan, tidak terlalu banyak pohon-pohon yang ditebang. Kalau pun ada yang ditebang, setidak-tidaknya sampai saat ini masih banyak yang tersisa. Sehingga gunung atau bukit-bukit yang menghiasi kanan kiri jalan dari arah Malang ke Kediri atau sebaliknya itu masih kelihatan indah. Dulu, kira-kira sepuluh tahun yang lalu, daerah Pujon masih menunjukkan keasliannya. Gunung dan bukit-bukitnya yang masih asli, pohon-pohonnya masih utuh, belum banyak yang ditebang, tampak sedemikian indah. Jalan yang berbelok-belok dan berliku-liku terasa mengasikkan siapa saja yang melewati. Di kanan kiri jalan terdapat tanaman, pisang dan berbagai macam lainnya memberikan kesan kemakmuran dan ketenangan hidup para penghuninya. Daerah pegunungan ini, udaranya sangat sejuk. Pepohonan dalam ukuran besar dan kecil menambah kesejukan itu. Namun para penduduknya, rupanya sudah menyatu dengan alam itu. Rupanya kesejukan itu tidak lagi dirasakan sebagai alasan untuk bermalas-malas. Memang dulu, antara 10 – 20 tahun lalu, pagi dan bahkan siang hari, orang-orang Pujon untuk mengurangi rasa dingin, menjadikan sarung mereka sebagai ganti selimut untuk menutupi seluruh badan. Gaya seperti itu tidak dianggap aneh, dan masih dipakai seperti itu sekalipun mereka berjalan menuju pasar atau warung untuk berbelanja. Gambaran seperti itu, kini sudah mulai tidak tampak lagi, sebagai gantinya mereka sudah mengenakan jaket kulit atau pakaian lainnya yang berukuran tebal. Kalau lagi ada kegiatan di Solo atau Yogyakarta urusan dinas atau lainnya, saya lebih suka membawa kendaraan sendiri. Untuk menyesuaikan jadwal kegiatan di kota itu, tidak jarang berangkat pagi-pagi sebelum subuh. Melewati daerah pegunungan dan di kanan kiri masih berupa hutan merasakan kenikmatan tersendiri. Pepohonan di kanan kiri jalan dan bukit dan gunung-gunung menjulang tinggi yang tampak di kejauhan, serta udara dingin dan sangat terasa dunia ini menjadi sangat indah. Sekalipun seperti saya utarakan di muka, pilihan waktu berangkat menyesuaikan dengan jadwal acara, tetapi selain itu saya ingin merasakan keindahan wilayah itu. Melewati wilayah itu di pagi hari, terasa dunia ini sedemikian indahnya. Rumah-rumah penduduk di sepanjang jalan di Pujon, dulu sekitar 10-20 tahun yang lalu, belum begitu banyak. Sekarang saja keadaannya sudah agak berubah. Sekalipun rumah penduduk sudah bertambah, di wilayah-wilayah tertentu belum terlalu padat. Memang di dekat pasar misalnya, perumahan sudah seperti di kota, cukup padat. Sekalipun begitu, daerah pegunungan ini masih belum tampak hilang keindahannya. Hal yang menarik lainnya bagi saya, ketika sedang melewati daerah itu, di setiap perkampungan selalu ada tempat ibadah, berupa masjid, langgar atau musholla. Rupanya penduduk di situ telah menjadikan tempat ibadah sebagai kebutuhan pokok. Tempat ibadah itu dibangun dalam berbagai ukuran, ada yang besar dan ada juga yang kecil merata di berbagai tempat. Disengaja atau tidak kebanyakan tempat ibadah kaum muslimin itu dibangun tidak jauh jaraknya dari jalan raya. Sehingga, siapapun yang lewat dan kebetulan masuk waktu sholat, akan dengan mudah menggunakan fasilitas tempat ibadah itu. Umumnya keadaan masjid, musholla, atau langgar telah dijaga kebersihan dan keindahannya oleh petugas atau takmirnya. Memperhatikan tempat ibadah di wilayah ini, saya selalu teringat pesan ayah saya, yang disampaikan dalam berbagai kesempatan. Pesan itu ialah agar selalu mengutamakan tempat ibdah. Masjid yang dibangun harus lebih baik dan indah daripada rumahnya. Masjid-masjid di Pujon umumnya dibangun lebih besar dan lebih indah dari rumah-rumah penduduknya. Dalam setiap perjalanan pagi hari melewati Pujon, tatkala wasuk waktu subuh, saya selalu mendengarkan adzan yang diumandangkan dari setiap masjid atau musholla. Suara adzan yang terdengar melalui pengeras suara yang bersaut-sautan dari masjid-masjid di berbagai arah, menjadikan wilayah Pujon terasa hidup, bangkit, bersemangat dan bahkan bergairah. Saya merasakan keindahan itu. Selanjutnya, dengan suara adzan itu, di sana-sini, saya lihat ibu-ibu, baik tua maupun muda sejak dari rumahnya mengenakan mukena menuju masjid untuk menunaikan sholat subuh berjama’ah. Saya menyebut ibu-ibu tidak berarti, bapak-bapak ketinggalan. Laki-laki dan perempuan menuju ke masjid, untuk berjama’ah sholat subuh. Pujon adalah daerah pegunungan, tentu berhawa dingin sepanjang masa. Jika tidak terbiasa, tatkala menyentuh air di pagi buta, akan dikegetkan oleh air tatkala menyentuh kulit sedemikian dinginnya. Tidak sedikit kaum muslimin Pujon yang rupanya tidak hirau dengan suasana dingin itu. Kumandang suara adzan, kekuatan keimanan di hatinya, ternyata lebih kuat daya tariknya daripada kekuatan panggilan hawa nafsu, meneruskan tidur dengan berbagai alasan, termasuk takut kedinginan. Selanjutnya, tatkala menyaksikan ibu-ibu dengan pakaian mukenanya, dan begitu pula bapak-bapak dengan kain sarung, kemeja panjang lengkap dengan kopyahnya, di pagi-pagi buta, semua menuju ke masjid, memenuhi panggilan adzan, untuk sholat berjama’ah subuh, maka terasa sekali keindahan Pegunungan Pujon menjadi sangat sempurna. Menyaksikan komunitas itu menjadi sangat senang dan bahagia karena benar-benar terasa sangat indah. Menikmati suasana itu, saya kemudian membayangkan, alangkah indahnya jika kaum muslimin di tanah air ini, pada setiap subuh, tatkala dikumandangkan suara adzan, mereka bangun dan kemudian berwudhu, selanjutnya segera menuju masjid terdekat, menunaikan sholat berjama’ah. Apalagi, setiap selesai sholat subuh, tanpa harus mengganggu aktivitas jama’ah selanjutnya, salah seorang memberikan ceramah agama. Jika demikian halnya, maka terbayang pula betapa indahnya kehidupan kaum muslimin ini. Gambaran seperti itu sesungguhnya bisa terwujud kapan saja, dan kiranya tidak perlu menunggu sampai sistem kapitalisme terkalahkan dan hilang dari negeri ini. Membangun keindahan Islam itu bisa dimulai sejak sekarang, oleh siapapun dan lebih-lebih seharusnya dimulai dari diri kita masing-masing. Tokh, membangun kebaikan, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah, seharusnya dilakukan dengan cara ibda’ binafsika atau mulailah dari dirimu sendiri. Allahu a’lam

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

.

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang