Sosial

Sosial

Sekelumit Pengalaman Beragama


dirumuskan selama ini sehingga menjadi pelajaran agama di sekolah dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Lingkup wilayah kajian Islam, jika dirupakan dalam bentuk lembaga juga tidak sebatas, seperti yang berhasil dirumuskan, menjadi fakultas ushuluddin, fakultas tarbiyah, fakultas dakwah, syari’ah dan fakultas adab, sebagaimana yang berlaku di kampus-kampus yang disebut sebagai perguruan tinggi Islam. Rumusan Islam seperti itu, menurut hemat saya tidak salah, tetapi menurut pemahaman saya bukan hanya sebatas itu. Kalau saya ditanya tentang Islam, maka saya akan menjawab bahwa Islam itu adalah ajaran yang bersumberkan al Qur’an dan sejarah kehidupan Rasulullah saw. Al Qur’an adalah teks atau kalimat-kalimat dari Allah swt., berupa ayat-ayat yang disampaikan secara bertahap oleh Malaikat Jibril kepada umat manusia melalui Nabi Muhammad saw. Di dalam al Qur’an itu terdapat pula perintah untuk memahami jagat raya ini. Sebagai pirantinya, Allah swt menganugerahkan kepada manusia akal pikiran dan panca indera. Islam melalui al Qur’an menganjurkan untuk menggunakan akal pikiran dan panca indera sebagai instrument memahami alam ini. Maka, sebagai manivestasi penggunaan akal dan panca indera itu lahirlah ilmu pengetahuan. Jika al Qur’an dan hadits Nabi disebut sebagai ayat-ayat qouliyah, maka fenomena alam maupun social yang dipahami manusia melalui akal pikiran dan panca indera disebut sebagai ayat-ayat kauniyah. Kedua jenis ayat-ayat tersebut harus dipahami secara saksama dan mendalam, sebagai bekal dalam kehidupan ini agar selamat dan bahagia di dunia maupun di akherat. Sedemikian luas ajaran Islam itu, sehingga untuk memahaminya tidak akan cukup dengan menggunakan waktu yang sangat pendek, seumur manusia yang hanya rata-rata antara 60 – 80 tahun saja. Tetapi Allah juga tidak menuntut agar manusia, termasuk kita ini memahami seluruh ilmu pengetahuan itu. Allah juga menjelaskan bahwa, manusia tidak akan diberi ilmu kecuali sedikit. Ilmu Allah sedemikian luas, yang digambarkan bahwa bilamana seluruh benda dijadikan pena dan seluruh air laut dijadikan tinta untuk menulis ilmu Allah, setelah itu habis dan masih ditambah dengan benda-benda yang sama dan juga air laut sebanyak itu lagi, dan itu pun habis maka ilmu Allah tidak akan habis. Saya di waktu senggang kadang merenungkan, dari sesuatu yang sangat sederhana. Misalnya, kita memiliki telinga. Alat pendengaran kita dari karunia Allah ini ternyata sangat menakjubkan. Telinga kita bisa menangkap suara sekaligus membedakan beribu-ribu jenis suara. Manusia tidak saja berbeda dalam ukuran, warna kujit, rambut, watak dan perangainya, melainkan suaranya pun berbeda. Suara antara seorang dengan orang lainnya berbeda-beda. Suara ibu berbeda dengan suara adik ibu yang sama-sama perempuan, apalagi dengan suara saudara ayah. Setiap manusia diberi jenis-jenis suara yang berbeda-beda. Akan tetapi anehnya, telinga kita mampu membedakan masing-masing jenis suara itu. Kita bisa membedakan bahwa suara milik ayah, paman, ibu, adik dan lain-lain. Sungguh luar biasa, kita tidak saja diberi telinga yang indah, dilihat dari bentuk dan fungsinya, melainkan juga dari kemampuannya yang luar biasa. Contoh lainnya, saya seringkali merenungkan, betapa kehebatan dan kekuasaan Allah swt. Allah menciptakan sedemikian banyak manusia, dan semua akan ditanggung rizkinya. Jika kita mau berpikir sebentar dan sederhana saja. Kita lihat suatu desa yang berpenduduk padat yang berjumlah ribuan. Ternyata, seluruh penduduk, yang memiliki lapangan pekerjaan yang beraneka ragam, dan bahkan tidak sedikit yang tidak bekerja misalnya, tetapi pada kenyataannya tidak pernah terdengar ada di antara mereka yang tidak mendapatkan rizki. Semua saja mendapatkan rizki, walaupun jumlahnya antara satu dengan lainnya berbeda-beda. Anehnya tidak pernah kita temukan orang yang meninggal dunia yang disebabkan oleh karena tidak mendapatkan rizki. Allah Maha Benar, bahwasanya telah membagi rizki itu secara berbeda-beda. Akan tetapi, jika kita mau merenung lebih mendalam lagi, ternyata sekalipun jumlah rizki yang diterima oleh masing-masing orang berbeda-beda, namun kenikmatan yang diterimanya pun bisa sama. Rizki yang diterima berbeda, tetapi kenikmatan yang diperoleh dari rizki tersebut bisa dirasakan secara sama. Bahkan penerima rizki yang terbatas, tetapi justru merasakan nikmatnya secara lebih. Begitu juga sebaliknya. Sedemikian luas ilmu Allah sehingga tidak terbayangkan jumlah dan wilayahnya. Umat manusia dianjurkan untuk mencari dan mengamalkannya. Manusia tidak dituntut oleh Allah untuk menguasai semua ilmu itu, melainkan yang sedikit saja. Yang sedikit itu supaya diamalkan. Pengamalannya pun juga tidak akan mungkin dilakukan secara sempurna dan sekaligus, melainkan selalu bertahap, dari fase ke fase. Oleh karena kemurahan Allah, manusia juga tidak dituntut menjadi sama dengan Nabi, dan apalagi Rasulullah. Manusia dengan keterbatasannya itu, hanya mereka diwajibkan agar mencari ilmu secara terus menerus tanpa henti dan berusaha mengamalkannya. Setelah ilmu didapatkan agar diamalkan. Manusia selalu berada pada posisi salah dan lupa. Karena itulah setiap saat manusia dituntun dan diajari agar selalu memohon petunjuk Nya. Dari pemahaman ini maka rasanya, selain para Nabi dan Rasul, tidak akan ada lagi manusia yang sempurna. Manusia selalu berada pada posisi berkekurangan. Secara sosiologis dapat dilihat tentang variasi manusia itu. Tetapi di atas kekurangan, keterbatasan, kelemahan, dan kekeliruannya itu manusia dianjurkan untuk selalu berusaha melengkapinya secara terus menerus. Atas dasar pemahaman itu maka, umat manusia tidak akan mampu mengimplementasikan al Qur’an dan hadits dalam kehidupan ini secara sempurna. Dan memang jika al Qur’an dan hadits dijadikan pedoman kehidupan secara penuh dan maksimal, maka Allah menjanjikan dan menjamin pada siapapun pelakunya akan mendapatkan keberuntungan, selamat dan insya Allah masuk surga. Hanya persoalannya adalah ternyata dalam tataran empirik, tidak mudah mengimplementasikan ajaran dan petunjuk yang agung dan mulia itu di tengah-tengah keterbatasan dan kelemahan yang disandang oleh setiap manusia. Atas dasar pandangan saya seperti itu, maka dalam mengamalkan ajaran Islam yang saya anggap paling benar ini, secara terus terang saya lakukan secara bertahap. Misalnya, ajaran yang paling sederhana, tentang kebersihan. Saya harus menjaga kebersihan itu di mana saja, baik di rumah, di kantor, di kendaraan, dan di lingkungan di mana saya berada. Sebetas mengimplementasikan ajaran kebersihan ini, rasanya sedemikian sulit. Contoh lainnya, Islam mengajarkan kedisiplinan. Lagi-lagi mengamalkannya sedemikian susah. Beberapa hari saya mampu menjalankan disiplin itu, baik disiplin dalam menjalankan sholat lima waktu, berzakat, membaca al Qur’an, menunaikan amanah sebagai pegawai di kantor. Ternyata, lagi-lagi tidak mudah. Konsep istiqomah sebagai ajaran mulia yang harus ditunaikan ternyata tidak mudah dilakukan. Sebagian dari upaya menjaga disiplin, saya berkeinginan untuk menjalankan sholat lima waktu tepat pada waktunya dan selalu berjama’ah. Terus terang, sampai berumur hampir genap 60 tahun ini, masih belum berhasil. Dengan keterbatasan ini, saya secara istiqomah menjalankan sholat berjama’ah, baru pada sholat tertentu, misalnya pada setiap sholat subuh, dhuhur, maghrib dan isya’. Sholat ashar, masih sangat sulit saya lakukan secara berjama’ah secara istiqomah. Artinya, dalam hal menjalankan kegiatan sholat yang dianggap sebagai tiyang agama ini pun belum dapat saya lakukan secara sempurna. Tentang zakat, shodaqoh dan infaq, masih lebih sulit lagi. Saya baru bisa membayarkan infaq pada setiap bulannya baru dalam ukuran-ukuran standart normatif, belum sampai pada tingkat yang saya rasakan sendiri sebagai berlebih. Apa yang saya ceritakan sebagai upaya mengimplementasikan ajaran Islam yang saya pahami ini, baru menyangkut hal-hal yang bersifat fisik. Yaitu, implementasi yang bisa dilihat dan diketahui, baik oleh dirinya sendiri maupun orang lain. Padahal Islam tidak saja menyangkut aspek-aspek lahiriyah, tetapi juga hal lain yang bersifat batiniyah. Yang dimaksud berada pada kawasan batiniyah itu misalnya, bahwa seharusnya kaum muslimin sebagai bukti keimanannya memiliki sifat sabar, ikhlas, banyak bersykur, dan istiqomah. Wilayah ini tentu saja akan lebih rumit lagi, karena berada pada kawasan yang tidak mudah diraba, apalagi dikenali dengan panca indera. Uraian dalam tulisan ini sesungguhnya saya maksudkan untuk dijadikan bahan renungan bahwa implementasi ajaran Islam secara kaffah, ternyata tidak mudah. Akan tetapi saya yakin bagi siapapun yang mengenali dan mengimani kitab suci al Qur’an dan hadits Nabi yang sedemikian indah, akan selalu berusaha memposisikan ajaran itu sebagai pedoman hidup sepenuhnya, tanpa bermaksud mengurangi sedikitpun. Hanya saja pada tataran upaya mengimplementasikan ajaran itu, ternyata selalu berhadapan dengan berbagai faktor yang tidak selalu mudah dihindari. Faktor-faktor berpengaruh itu, bisa datang dari dalam (internal diri setiap muslim) maupun datang dari luar atau faktor eksternal. Semua variabel itu akan menjadi kekuatan untuk membentuk perilaku sebagai wujud ke Islaman setiap orang. Saya sebagai manusia biasa, dalam beragama, juga mengalami suasana batin seperti itu, yang mungkin saja diamali oleh orang lain, siapapun. Allahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang