Sosial

Sosial

Dari Lembaga Pendidikan Siswa Belajar Berbohong


pada umumnya. Bedanya dengan kantin lainnya, kantin kejujuran tidak memerlukan tenaga penjaga. Barang-barang yang dijual di kantin itu cukup diberi petunjuk harganya masing-masing. Siapa saja yang mau berbelanja cukup menaruh sejumlah uang di tempat yang telah disediakan sesuai dengan harga barang yang diambil. Dengan cara ini diharapkan, para siswa terbiasa berlaku jujur di mana dan dengan siapa saja. Selama ini, jika mau sesungguhnya tanpa menggunakan kantin kejujuran, sekolah bisa menggunakan media lainnya yang lebih praktis. Misalnya melalui ujian, baik ujian harian, mingguan atau bulanan. Pada setiap ujian dicoba, apakah para siswa tanpa diawasi bisa berbuat jujur, tidak menyontek, meniru atau saling bertanya di antara siswa yang duduk berdekatan. Biasanya ujian selalu diawasi secara ketat, siapapun yang menyontek akan dihukum. Dan ternyata sontek-menyontek sperti ini selalu terjadi di mana dan kapan saja. Pengawasan ketat itu, disadari atau tidak, para siswa merasa sudah diperlakukan sebagai pihak yang tidak jujur. Tumbuhnya perasaan seperti itu, tentu tidak menguntungkan bagi proses upaya menumbuhkan kepribadian yang kuat. Orang yang sedang dipercaya biasanya akan menjaga kepercayaannya itu. Sebaliknya, orang yang tidak dipercaya akan menyesuaikan diri dengan label yang diberikan kepadanya. Suasana seperti ini, tentu tidak mengungtungkan bagi pendidikan itu sendiri. Kecurangan di lingkungan lembaga pendidikan tidak saja dilakukan oleh siswa pada level bawah, seperti siswa sekolah tingkat dasar dan menengah dan mahasiswa perguruan tinggi, tetapi bahkan mahasiswa pascasarjana pun ada yang melakukannya. Sering terdengar isu bahwa tesis mahasiswa pascasarjana dan bahkan disertasi tidak ditulis oleh yang bersangkutan, melainkan meminta bantuan pada orang yang menjual jasa itu, membuatkan dengan imbalan tertentu. Oleh karena itu, akhir-akhir ini kita mendengar orang yang tidak pernah mengambil program pendidikan, sehari-hari bekerja di kantor seperti biasa, dan tidak pernah berbicara tentang tesis atau disertasi, ternyata yang bersangkutan telah dinyatakan lulus ujian tesis atau disertasi sehingga berhak menyandang gelar akademiknya. Gambaran itu menunjukkan telah tumbuh keadaan yang amat paradok. Satu sisi muncul upaya membangun kejujuran, dan bersamaan dengan itu pula terjadi manipulasi pendidikan yang luar biasa beratnya. Untuk mendapatkan gelar sarjana yang selama ini dianggap terhormat, karena selalu dilakukan dengan penuh kejujuran, ternyata menyedihkan karena melewati satu proses yang tidak wajar, yaitu memanipulasi penulisan tesis atau disertasi. Jika manpulasi seperti ini tidak mendapatkan kontrol masyarakat, dan berjalan terus, maka kekuatan perusaknya terhadap moral bangsa sungguh sangat dahsyat, melebihi kekuatan perusak sosial lainnya. Untuk mengatasi persoalan ini, saya sudah lama berpikir mencari formula bagaimana di lembaga pendidikan tidak justru melahirkan kebiasaan tidak jujur, manipulasi dan sejenisnya. Jika lembaga pendidikan justru menjadi lahan persemaian bibit-bibit watak tidak jujur, kebohongan dan manipulatif, maka selamanya bangsa akan menderita seperti ini. Justru dari lembaga pendidikanlah seharusnya lahir orang-orang yang jujur. KeJujuran yang dimaksudkan di sini harus dimaknai sebagai kemampuan menjaga diri secara penuh sekalipun tanpa diawasi. Bukan sebatas tampak jujur, hanya tatkala ada pengawasan. Sudah lama saya melihat lembaga pendidikan di pesantren. Lembaga pendidikan Islam tradisional ini, sekalipun berjalan secara sederhana tetapi ternyata telah berhasil melahirkan para tokoh di berbagai tingkatan. Pendidikan di pondok tidak memerlukan ujian yang harus diawasi secara ketat. Para santri memiliki kesadaran bahwa belajar di pesantren bertujuan mendapatkan ilmu dari para kyai, dan bukan selembar ijazah. Atas kesadaran ini maka para santri berusaha membekali dirinya dengan ilmu yang dicari. Mereka ikhlas berguru berlama-lama pada kyainya, sampai mereka merasa alim. Para santri sangat hormat pada kyainya. Demikian juga, dalam memilih pesantren, termasuk memilih kyai, mereka mendasarkan pada tingkat ke aliman dan bukan pangkat, status pesantren, kelengkapan fasilitas atau umur para pengasuhnya. Kata kuncinya adalah kealiman guru, kyai atau pengasuhnya. Pendidikan pesantren, mampu menghidupkan potensi hati untuk menjaga kejujuran. Para santri jika menyimpang,----memang ada yang sementara yang melakukannya, khawatir ilmunya tidak memberi manfaat bagi dirinya. Rasa takut tidak mendapatkan berkah dari ilmu yang diperoleh dari para kyai inilah yang menjadi kekuatan penjaga diri untuk selalu berbuat jujur. Saya pernah melihat sekalipun pada skala kecil, lembaga pendidikan yang dalam mengevaluasi kemajuan belajar para siswanya agak berbeda dengan lembaga pendidikan pada umumnya. Perbedaan itu terletak pada model ujian. Para siswa justru dibiasakan untuk saling bekerjasama, di antara kelompoknya, termasuk dalam jujian. Prestasi siswa akan dilihat dari prestasi kelompok. Dengan cara itu, maka kelompok akan saling mengembangkan anggota kelompoknya masing-masing. Mereka yang memiliki kemampuan lebih akan berusaha mendorong anggota kelompok yang lemah. Proses saling mendorong dan membantu antar anggota kelompok ini sekaligus menumbuhkan kemampuan masing-masing mereka. Para siswa dimotivasi untuk mendapatkan prestasi unggul. Prestasi unggul ini kemudian diakui dan bahkan juga dihargai, hingga menjadi kebanggaan. Dari pendekatan ini, mereka bersama-sama berjuang secara fair meraih prestasi secara bersama. Manipulasi dengan kerja bersama-sama, apalagi secara obyektif dan terbuka, dapat ditekan seminimal mungkin. Model pendidikan seperti ini didapatkan keuntungan lainnya, misalnya para siswa terlatih hidup secara bersama, bertanggung jawab dan juga bekerjasama. Pandangan seperti itu memang masih membutuhkan pengujian yang mendalam. Tetapi, apa salahnya kita semua, mencari model pendidikan yang benar-benar melahirkan lulusan yang jujur, selain cerdas, bertanggung jawab, berpengetahuan luas dan kemampuan lainnya yang diperlukan dalam kehidupan kelak. Misi ini tidaki boleh dianggap sepele, sebab betapapun tingginya kualitas akademik para lulusan yang dihasilkan, jika mereka ternyata tidak memiliki sifat jujur dan bertanggung jawab, toh lulusan itu hanya akan menambah penuhnya penjara yang akhir-akhir ini sudah semakin sempit, karena kebanyakan penghuni yang umumnya ketahuan sekalipun cerdas, tetapi tidak jujur itu. Dan jika model itu tidak segera ditemukan, maka dari lembaga pendidikan pun bisa mendapat pelajaran berbohong dan atau tidak jujur itu. Allahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

.

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang