Sosial

Sosial

Setelah Anggaran Pendidikan Ditetapkan Sebesar 20 %


itu sedemikian mencolok besarnya setelah diputuskan prosentase anggaran pendidikan. Selain itu, Departemen Agama, sekalipun tidak sebesar Departemen Pendidikan Nasional, juga mendapatkan berkah tambahan anggaran yang sedemikian besar, karena departemen ini juga membawahi sejumlah besar lembaga pendidikan, yaitu madrasah dari tingkat dasar menengah dan tingkat atas (MI, M.Ts dan MA) dan bahkan pertguruan tinggi. Meningkatnya anggaran yang sedemikian besar, tidak berarti semua problem pendidikan selesai. Pandangan dan komentar terhadap pendidikan juga semakin ramai diungkapkan. Tidak sedikit orang yang khawatir kenaikan anggaran itu tidak berdampak secara signifikan terhadap layanan pendidikan. Semua pihak berharap agar besarnya anggaran itu benar-benar memenuhi harapan masyarakat, yaitu pemerataan, peningkatan kualitas pendidikan dan juga dikelola dana itu secara bertanggung jawab, terbuka dan akuntable. Sesungguhnya semua orang juga tahu bahwa keterbatas anggaran hanyalah satu di antara sekian faktor lainnya yang berpengaruh terhadap kualitas hasil pendidikan. Masih banyak faktor lain yang berpengaruh, seperti misalnya faktor manajemen, kepemimpinan, integritas semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan. Ketersediaan anggaran hanyalah digunakan untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan yang harus dipenuhi dengan uang. Padahal banyak hal yang terkait dengan pendidikan yang hanya dipenuhi melalui uang. Memang banyak sekolah maju, karena ditopang oleh dana yang memadai. Tetapi juga tidak sedikit lembaga pendidikan yang sebenarnya pernah mengalami kemajuan, sekalipun masih ditopang oleh dana cukup, tetapi ternyata tidak lama kemudian merosot kualitasnya dan akhirnya ditinggal peminat. Begitu juga sebaliknya, tidak sedikit di tanah air ini, lembaga pendidikan swasta sekalipun tidak disuport dana dari pemerintah, tetap menunjukkan eksistensinya dan keadaannya maju. Pondok pesantren Gontor Ponorogo, al Amien Prenduan Sumenep dan masih banyak lagi lainnya, dikenal maju. Lembaga ini ternyata lulusannya mampu bersaing dengan lembaga pendidikan lainnya dan bahkan pada kenyataannya tidak sedikit tokoh di berbagai level yang lahir lembaga pendidikan Islam swasta ini. Saya kebetulan sedikit banyak memiliki pengalaman ikut mengelola lembaga pendidikan swasta, baik tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Beberapa lembaga pendidikan di mana saya ikut ambil bagian mengelolanya kebetulan cukup dinamis, berkembang dan dipandang maju. Dari pengalaman itu, saya tangkap bahwa kunci kemajuan sesungguhnya bukan hanya terletak pada ketersediaan dana, melainkan adalah kekuatan ghirrah atau semangat memperjuangkan sesuatu. Dalam bahasa yang mudah dipahami adalah adanya kekuatan berupa komitmen dan integritas yang tinggi dari seluruh pengelolanya terhadap lembaga pendidikan yang dikelolanya. Komitmen dan integritas yang tinggi akan menjadi kekuatan untuk selalu berusaha tanpa henti dan tanpa merasa lelah, dengan berbagai cara, memajukan lembaga pendidikan yhang menjadi tanggung jawabnya. Dengan kekuatan itu maka sumber pendanaan berhasil digali, kebutuhan tenaga pengajar dan dipenuhi, dan begitu pula sarana lainnya. Semangat perjuangan seperti itu, ternyata berpengaruh pula kepada semua anggota organisasi, sehingga tumbuh kebersamaan untuk berjuang memajukan pendidikan. Ketersediaan dana dalam setiap organisasi memang penting. Tanpa ditopang oleh dana organisasi, termasuk organoisasi pendidikan sulit dijalankan. Akan tetapi pada batas-batas tertentu, ketersediaan dana justru menjadi kontra produktif. Tidak sedikit lembaga pendidikan yang tatkala belum memiliki sumber pendanaan yang cukup tampak seluruh anggotanya memiliki komitmen dan integritas tinggi, sehingga semuanya menunaikan tugas-tugasnya dengan penuh tanggung jawab, tetapi sebaliknya, ketika telah berhasil mendapatkan dana cukup, justru organisasi pendidikannya tidak berjalan semestinya. Komitmen dan integritas para pendukungnya melemah. Suasana berjuang dan berkorban di lembaga pendidikan itu menurun dan akibatkan kualitas hasil pendidikannya juga merosot. Ini menggambarkan bahwa ketersediaan dana memang perlu, akan tetapi jika dana itu tidak dikelola secara tepat justru menjadi faktor yang memperlemah lembaga pendidikan. Berangkat dari pandangan tersebut, maka terlalu optimis terhadap kemajuan pendidikan hanya alasan kenaikan anggaran 20 % tidaklah tepat. Pendidikan menjadi bermutu ternyata banyak faktor yang berpengaruh. Ketersediaan dana adalah penting. Tetapi uang sesungguhnya hanya diperlukan untuk memenuhi kebutuhan yang bisa dipenuhi dengan uang. Misalnya, pembangunan gedung, membayar gaji guru, buku perpustakaan, laboratorium dan lainnya. Padahal pendidikan memerlukan kekuatan lain, yang kadang justru menjadi sumber kekuatan utama, yaitu dedikasi, komitmen, integritas dari seluruh komponen yang tergabung dalam organisasi pendidikan itu. Kekuatan itu, kadang kala tidak cukup ditumbuh-kembangkan hanya melalui uang. Oleh karena itu, wajar jika sementara orang sekalipun anggaran sudah ditetapkan menjadi 20 % dari total APBN masih ada saja orang yang menunggu-nunggu dampaknya. Kekhawatiran itu bisa dimengerti, karena sejumlah besar anggaran yang dikelola oleh birokrasi di negeri yang masih ditimpa penyakit korupsi, hasilnya memang tidak selalu sebagaimana yang diharapkan . Allahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

.

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang