Sosial

Sosial

Pejuang, Pegawai dan Brokers


disebut sebagai pegawai. Mungkin jenis pekerjaan yang ditunaikan antara pejuang dan pegawai sama. Yaitu sama-sama bekerja. Bekerja bisa di kantor, di perusahaan, di sekolah sebagai guru atau dosen, atau di kebun sebagai petani. Hanya saja jika kesadarannya sebatas hanya sebagai pegawai, maka yang terpikir olehnya tidak lebih hanya menunaikan tugas. Mereka bekerja sebagai pegawai kantor, pabrik, guru dan atau petani. Identitasnya sebagai pegawai, maka yang dianggap penting olehnya adalah menunaikan tugas-tugas sesuai dengan aturan yang diperlakukan padanya. Dan dengan pekerjaan itu, kemudian ia akan mendapatkan gaji sebagai haknya. Mereka berpikir antara hak dan kewajiban, atau bagaikan transaksi antara penjual dan pembeli. Sama-sama terkait dengan urusan pekerjaan, maka ada jenis lain yang disebut brokers. Istilah yang mirip dengan itu adalah simsyaroh (bhs Arab), makelar atau calo Broker ini sesungguhnya pekerjaannya mirip dengan pejuang. Keduanya sama-sama memperjuangkan sesuatu, memiliki tujuan yang jelas, dan biasanya sama-sama memerlukan kegigihan untuk meraih apa yang diinginkannya. Beda antara keduanya, disebut sebagai pejuang biasanya jika upaya-upaya yang mereka lakukan dengan gigih itu, selalu disertai dengan pengorbanan. Oleh karena itu pejuang selalu juga berkorban. Tidak pernah ada, pejuang tanpa berkorban. Seorang pejuang demi meraih cita-citanya itu bersedia mengorbankan apa saja yang ada padanya. Bahkan jika perlu jiwa dan raganya pun rela di korbankan untuk meraih cita-citanya itu. Sedangkan syimsaroh, brokers atau seorang calo, mereka juga bekerja secara gigih dan sungguh-sungguh. Hanya bedanya dengan pejuang sungguhan, para brokers atau calo, biasanya tidak mau berkorban, bahkan sebaliknya mereka mengharap agar selalu mendapatkan keuntungan. Perjuangan mereka hanya didorong oleh semangat untuk mendapatkan keuntungan itu. Para brokers tidak mau bekerja jika ia harus berkorban, apalagi dengan usahanya itu ia mengetahui, tidak akan mendapatkan apa-apa. Dia tidak akan mau menjalaninya. Penjelasan singkat dari masing-masing istilah tersebut, -----pejuang, pekerja dan brokers, sesungguhnya lebih menyangkut pada sikap mental atau jiwa orang-orang yang menjalaninya. Bidang yang dikerjakan bisa sama, misalnya sama-sama menjadi guru atau dosen. Tetapi masing-masing orang memiliki mental yang berbeda. Sebagai seorang guru dalam menunaikan tugasnya, ia bisa bermental atau berjiwa pejuang. Ia mengajar di sekolah untuk memenuhi panggilan jiwanya, mengembangkan dan menularkan ilmu kepada para siswanya. Tugas sebagai guru ditunaikan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin. Dengan tugasnya itu ia ingin agar kelak para murid-muridnya menjadi seorang yang pandai, cerdas, terampil, bermental kuat dan berakhlak mulia. Untuk menunaikan tugasnya itu, ia tidak terlalu berharap mendapatkan imbalan dan bahkan ia selalu rela mengorbankan apa saja yang dimiliki agar cita-citanya tercapai. Mereka itulah pejuang di bidang pendidikan. Lain dari pada itu, seorang guru atau dosen juga bisa hanya bermental sebagai pegawai. Ia menunaikan tugasnya, tidak lebih sebatas memenuhi kewajiban sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Yang dipentingkan baginya, adalah tugas-tugas yang dibebankan padanya telah ditunaikan. Atas dasar itu, ia berhak mendapatkan imbalan atau gaji. Guru bermental pegawai seperti ini yang diperlukan adalah pedoman kerja, peraturan, petunjuk teknis, pengisian daftar hadir, target dan sejenisnya. Apakah dengan kualitas pekerjaannya yang telah ditunaikan itu menghasilkan lulusan yang unggul, bukan dirasa sebagai tanggung jawabnya. Tokh, semua prosedur dan tata aturan pelaksanaannya telah ia jalankan. Asalkan ia sudah masuk kelas minimal misalnya 16 kali pertemuan, memberi tugas pada siswa atau mahasiswa, menguji dan menyerahkan nilai akhir ke pihak yang bertanggung jawab, menganggapnya cukup. Pekerja yang berjiwa atau mental seperti inilah cocok disebut sebagai bermental pegawai. Lembaga pendidikan yang sebagian banyak guru-guru atau dosennya berjiwa seperti ini, tidak akan mengalami kemajuan. Lembaga seperti ini, bisa jadi tampak tertip, disiplin dan administrasinya kelihatan rapi. Tetapi, belum tentu berhasil melahirkan kualitas pendidikan yang diharapkan. Institusi pendidikan yang dihuni oleh pekerja yang bermental pegawai, bagaikan tidak memiliki daya kreatifnya, sekalipun ia tetap hidup. Sedang yang seyogyanya tidak dikembangkan adalah mental makelar, syimsaroh, broker atau kasarnya disebut calo. Bila orang bermental seperti ini masuk di lembaga pendidikan akan merugikan siapapun yang terlibat di dalamnya. Kepala sekolah, guru, dan bahkan murid dan masyarakat akan terugikan. Mereka bekerja hanya semata-mata mendapat keuntungan dan tidak mau berkorban. Jika misalnya, guru atau dosen yang bermental brokers ini melanjutkan pendidikan dengan dalih untuk meningkatkan pengetahuannya, maka bisa jadi tujuan utamanya bukan belajar, tetapi adalah agar mendapat keuntungan material dari tugas belajarnya itu. Ia berstudi lanjut gelarnya bertambah, pangkatnya naik, sehingga mendapatkan jabatan yang diinginkan. Jika ia mengarang buku, maka tujuan utamanya bukan untuk memudahkan para siswa atau mahasiswanya mempelajari mata pelajaran/ mata kuliah yang diasuh, melainkan agar dia mendapatkan keuntungan finansial dari penjualan bukunya itu. Oleh karena itu memang tampak, banyak bedanya antara orientasi sebagai pejuang, pegawai dan makelar, brokers, syimsaroh atau calo. Lembaga atau organisasi apa saja agar dinamis dan maju seharusnya di dalamnya dikembangkan mental sebagai pejuang, bukan sebagai sebagai pegawai. Dan, seharusnya dicegah munculnya mental atau jiwa makelar atau brokers di lembaga apapun, termasuk juga di lembaga pendidikan. Jika mental makelar itu sudah mulai muncul dan tidak segera dijauhkan dari lembaga pendidikan, maka seberapa besar anggaran ditambah, maka tidak akan berpengaruh pada upaya peningkatan kualitas hasil pendidikan. Allahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

.

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang