Sosial

Sosial

Pekemah, Pendaki dan Perenang


seluk beluk tiga jenis kesukaan anak muda ini. Sebab saya sudah lama tidak terjun di bidang olah raga ini. Dulu, ketika masih berada di sekolah dasar dan menengah, saya suka bergabung dengan pramuka. Maka, sering ikut berkemah. Selain itu, karena rumah saya, dulu ketika masih anak-anak, berdekatan dengan laut dan juga sungai besar, saya menyukai renang. Tentu yang saya maksudkan bukan berenang di kolam renang, sebagaimana anak-anak modern sekarang, melainkan berenang di sungai atau di laut sebagaimana layaknya dilakukan oleh anak-anak desa. Yang akan saya kemukakan dalam tulisan ini dari ketiga jenis olah raga tersebut, adalah terkait dengan mental yang tumbuh dari masing-masing olah raga itu. Orang yang ingin kemah biasanya mencari lokasi yang indah, biasanya ada di perbukitan atau di gunung. Mereka yang akan berkenam biasanya mencari lokasi yang cocok di pegunungan. Dicari dan dipilihlah untuk berkemah tempat yang sejuk, ada angin, syukur jika dari tempat itu bisa dinikmati pemandangan, berupa gunung-gunung dan lautan yang jauh dan indah. Di situlah dibangun tenda-tenda untuk berkemah. Tujuan berkemah tidak ada lain kecuali akan bernikmat-nikmat. Apa yang dilakukan dalam berkemah adalah istirahat di kemah itu. Mungkin juga jalan-jalan di sekitar kemah, memasak, makan-makan, atau berdiskusi bersama. Untuk mencari tempat yang cocok untuk berkemah, tidak jarang harus memilih tempat yang jauh dan bahkan juga harus naik bukit atau gunung. Perjalanan jauh itu dimaksudkan hanya untuk memilih tempat yang sesuai dengan keinginan para peserta yang ingin kemah bersama itu. Hampir mirip dengan berkemah adalah pendaki gunung. Para pendaki, bisa saja membawa kain kemah, tetapi tujuan utama bukan untuk beristirahat, menikmati indahnya pemandangan. Para peendaki biasanya bercita-cita untuk menaklukkan ketinggian gunung. Bagaimana pun caranya, mereka ingin menunjukkan kebolehannya, bahwa gunung yang tinggi itu bisa didaki. Jika berhasil sampai di puncak, mereka dengan bangga akan menancapkan benderanya di puncak gunung itu, sebagai pertanda keberhasilannya. Berbeda dengan pekemah, pendaki gunung tidak akan cepat puas. Jika mereka telah mampu sampai di puncak gunung tertentu dan selamat, mereka akan bercita-cita mendaki gunung lainnya yang lebih tinggi. Begitu seterusnya, cita-cita itu tidak pernah akan padam, dan berhenti. Hoby mereka memang begitu, mendaki dan mendaki, hingga berhasil tercatat dalam sejarah sebagai pendaki gunung yang paling tinggi. Olah raga ketiga, yang akan saya ajak memperhatikan dalam tulisan ini adalah perenang. Jika para pekemah, puncak cita-citanya adalah mendapatkan tempat yang teduh lalu beristirahat, sedangkan pendaki adalah selalu berusaha mencoba dan mencoba lagi agar berhasil mendaki gunung yang semakin tinggi, maka perenang biasanya bergerak ke sana-kemari di kolam renang, sungai atau laut yang dalam. Ciri khas perenang adalah selalu mempertahankan geraknya. Jika ia berhenti dalam waktu sedikit saja dari bergerak, maka ia akan tenggelam. Oleh karena itu larangan bagi perenang adalah berhenti dari bergerak itu. Jika berhenti mereka akan tenggelam dan mati. Lewat tulisan ini sesungguhnya saya hanya ingin mengajak, siapa saja yang sempat membaca tulisan ini, memilih dalam mengisi hidup ini, apakah ingin menjadi orang yang bermental seperti pekemah, pendaki gunung atau perenang. Jika ingin menjadi pekemah maka kita cari tempat yang teduh untuk menikmati kehidupan ini. Tapi kenikmatan itu ternyata tidak bisa dirasakan lama-lama, selalu cepat bosan. Maka jika berkemah terlalu lama, juga malah menyiksa diri. Kenikmatan dunia ini ternyata tidak berada di sana. Pilihan selanjutnya adalah sebagai pendaki atau perenang. Jika hidup ini, kita anggap bagaikan sebagai pendaki, maka tatkala berhenti, maka bukan ingin tinggal di tempat pemberhentian itu, melainkan sebatas dimaksudkan untuk mengumpulkan tenaga baru, untuk segera melanjutkan pendakian pada etape selanjutnya. Bagi orang yang berjiwa pendaki, maka mereka tidak akan pernah puas dengan prestasi yang telah diraih. Mereka masih selalu ingin meraih keberhasilan, yang berada di paling puncak dan paling tinggi. Sedangkan yang berjiwa perenang, mereka tidak akan mau berhenti dari bergerak. Sebab berhenti bergerak, mereka akan tenggelam dan mati. Akhirnya, itulah perumpamaan kehidupan, tinggal memilihnya. Islam mengajarkan pada umatnya agar selalu berusaha meraih yang terbaik. Umat Islam dianjurkan untuk fastabiqul khoirot. Berlomba-lomba melakukan kebaikan. Perlombaan itu tidak mengenal finish. Jika para pendaki tatkala menemukan puncak gunung tertinggi, ketika itu mereka akan berhenti. Maka tidak demikian fastabiqul khoirot. Mereka tidak akan mengenal puncak atau finish. Demikian pula, selama hidup manusia harus bergerak, -----mulutnya berdzikir, mengingat Allah, otaknya agar supaya digunakan untuk berpikir, badannya untuk beramal sholeh sampai kapanpun, tidak boleh ada istilah pensiun. Mungkin, bagaikan perenang, harus selalu bergerak, jika mereka tidak mau mengakhiri hidupnya. Allahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

.

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang