Sosial

Sosial

Pagar Rumah dan Pagar Mangkok


memiliki makna sebagai pembatas, tetapi juga sebagai pengaman, keindahan, gensi, simbul identitas dan masih banyak fungsi lainnya. Pagar dibuat sebagai alat pengaman, maka dibuat ukuran tinggi, dan kadang melebihi tinggi rumahnya. Rumah yang dibuat seperti itu, dari kejauhan menjadi tidak tampak. Keindahannya hanya dinikmati oleh para pemiliknya. Selain sebagai pembatas dan keamanan, pagar juga dimaksudkan untuk menyempurnakan keindahan rumah. Oleh karena itu, pagar dibuat sedemikian rupa. Jika pagar itu dibuat dari besi, maka diatur atau disusun sedemikian rupa, agar tampak indah. Begitu juga catnya, dibuat khas. Rumah yang dilengkapi dengan pagar seperti itu menjadi tampak anggun. Pagar juga digunakan sebagai identitas. Melalui pagar rumahnya, seseorang akan mudah mengenal pemiliknya. Orang Bali, di manapun mereka berada tatkala membangun rumah, termasuk bentuk pagarnya dibuat khas. Sehingga, melihat bentuk atau jenis pagarnya itu saja, orang segera mengenal bahwa pemiliknya adalah orang Bali. Berbeda dengan orang Jawa, apalagi di pedesaan, lebih menyukai pagar hidup, yaitu pagar berupa tanaman pohon-pohon berukuran kecil. Pagar seperti ini, agar tetap indah memang memerlukan perawatan secara rutin. Tidak sebagaimana pagar hidup, pagar tembok atau pagar yang terbuat dari besi, perawatannya mudah, paling-paling dicat setahun sekali, itu pun kalau mau. Saya pernah berkunjung ke beberapa negara, ternyata tidak semua rumah dilengkapi dengan pagar. Rumah-rumah bertingkat tinggi, dan apalagi dibangun secara berhimpit-himpitan dan bahkan menyatu, jelas tidak memerlukan pagar segala. Tetapi banyak rumah, sekalipun tanahnya luas, terlihat tidak selalu dilengkapi dengan pagar. Kalaupun tokh ada pagarnya, tidak sekokoh pagar di perumahan baru, di mana saja. Masih terkait pembicaraan tentang pagar, saya masih ingat jenis istilah pagar lainnya, yaitu pagar mangkok. Mangkok adalah tempat makanan yang dibuat dari bahan keramik. Bentuknya menyerupai piring, tetapi lebih cekung. Fungsinya sama dengan piring, digunakan sebagai tempat makanan. Orang Jawa di pedesaan biasa menyebutnya dengan istilah tuwung. Di kalangan masyarakat Jawa, yang saya tahu ada kebiasaan yang cukup baik, yaitu saling memberi sesuatu antar tetangga. Terutama kaum ibu, ada kebiasaan saling memberi dengan cara mengantar makanan ke tetangga. Tentu itu tidak dilakukan setiap hari. Pada hari-hari tertentu, ketika keluarga itu memasak masakan yang khas, mereka membagi-bagikan masakan itu juga ke tetangga dekat. Biasanya makanan ekstra itu ditempatkan di mangkok. Dengan saling mengantar makanan pada saat-saat tertentu itu, maka antar tetangga menjadi saling mengenal, menghormati dan menjaga. Hubungan sillaturrahmi menjadi kokoh. Makanan itu biasanya ditaruh di mangkok. Itulah kemudian muncul istilah pagar mangkok. Artinya, mangkok menjadi semacam pagar perumahan, yaitu berfungsi memperindah, mengamankan dan bahkan juga memperjelas identitas pemiliknya. Kebiasaan saling memberi dalam hubungan bertetangga itu tentu sangat mulia. Rasulullah sendiri pernah menganjurkan, jika seseorang memasak makanan yang lezat dan diperkirakan baunya nyampai ke tetangga, maka masakan itu supaya diperbanyak kuahnya, agar sebagian bisa dibagikan ke tetangga. Islam menganjurkan agar selalu berbuat baik, tidak terkecuali dengan para tetangga. Bahkan keimanan seseorang akan dilihat dari bagaimana ia membangun hubungan baik dengan para tetangganya. Jika dipikir secara mendalam, pagar mangkok rasanya lebih indah daripada jenis pagar lainnya. Bahkan pagar mangkok lebih kokoh dari pagar temboh, pagar besi dan pagar hidup itu. Beberapa jenis pagar yang disebutkan terakhir ini, membuat batas antar penghuni rumah yang berdekatan. Sedangkan pagar mangkok, justru memiliki makna membuka lebar-lebar dan bahkan mempertautkan antar tetangga. Lebih dari itu hubungan itu tidak saja sebatas bersifat fisik, ----berupa makanan dalam mangkok, tetapi juga mempertautkan hati di antara para tetangga yang hidup berdampingan itu. Jika demikian, maka pagar mangkok membawa kehidupan ini menjadi lebih tenang, tenteram dan damai daripada jenis pagar lainnya. Padahal, pagar mangkok ini harganya lebih murah, dan bahkan tidak ada yang hilang, karena sesungguhnya cara itu adalah saling tukar menukar saja. Allahu a’lam

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

.

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang